96,95 Persen Mangrove di Jateng Rusak

on Thursday, July 2, 2009

Sebanyak 96,95 persen hutan mangrove di kawasan pantai utara Jawa Tengah, rusak. Penyebabnya, alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, permukiman, industri, dan pengembangan pariwisata. Demikian pendapat Sri Puryono dalam bidang manajemen sumber daya pantai Universitas Diponegoro, di Gedung Pascasarjana Undip, Kota Semarang, Selasa (30/6). Kini, Sri Puryono menjabat sebagai Kepala Dinas Kehutanan Jawa Tengah.

Puryono mengungkapkan, dari 95.334 hektar hutan mangrove di kawasan pantai utara (pantura) Jateng, seluas 61.194,16 hektar (64,19 persen) rusak berat, 31.237,53 (32,76 persen) hektar rusak sedang. Adapun lahan yang berpotensi mangrove seluas 77.326 hektar.

“Kerusakan terparah terdapat di Kota Semarang, Kabupaten Batang, Demak, dan Pati. Umumnya karena beralih fungsi menjadi industri dan permukiman,” kata Puryono. Penyebab lainnya, pengembangan pariwisata yang tidak berwawasan lingkungan dan penebangan liar. Lahan mangrove kritis menyebabkan hilangnya ekosistem penahan gelombang, musnahnya habitat hewan-hewan yang hidup di tepi pantai, dan polutan yang berasal dari hulu sungai dan udara tidak lagi dapat dinetralisir.

Sri Puryono mengatakan, hal paling mendesak untuk mengatasi kerusakan itu adalah perumusan aturan oleh pemerintah daerah yang memuat tata ruang wilayah pesisir. Hal ini sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. “Setelah ada aturan berupa peraturan daerah, pemda yang bersangkutan dapat membuat rencana strategi (renstra) pengelolaan wilayah pesisir,” katanya.

Dalam tata ruang wilayah pesisir, terdapat keharusan bagi pemda untuk menerapkan sistem zonasi di wilayah pesisir, berupa zona konservasi, zona penyangga, dan zona pemanfaatan. Untuk itu, Pemprov Jateng menginstruksikan pemkab/ pemkot untuk segera merumuskan perda tersebut. Alasannya, dari 13 kabupaten/kota yang terdapat di pantura, hanya Pemalang yang memiliki perda mengenai tata ruang wilayah pesisir.

Rektor Undip Susilo Wibowo berharap, Puryono dapat memberikan sumbangan secara nyata terhadap penanganan kerusakan mangrove, seperti dengan membuat “bank mangrove”. (ILO)

Sumber: Kompas, 01 Juli 2009

Muhamad Ali Lewati Masa Pahit Geluti Mangrove

on Thursday, May 21, 2009


Bontang - Muhamad Ali, tokoh penggerak pelestarian mangrove melalui Kelompok Lestari Indah Kelurahan Tanjung Laut Indah Kota Bontang, Kalimantan Timur, telah melewati masa-masa sulit memulai pelestarian mangrove pada tahun 2009.

"Masa pahit membudidayakan mangrove terjadi pada tahun 2009 dan kini masa manis itu sudah mulai kami rasakan. Hal ini ditandai adanya dukungan pembangunan Rumah Mangrove Information Center oleh PT Badak NGL maupun akses program melalui dana hibah bansos serta program tanaman hutan rakyat bagi Kelompok Lestari Indah” kata pengerak mangrove Kota Bontang, Muhamad Ali, di Bontang, Selasa.

Rumah Mangrove Information Center kini menjadi pusat belajar masyarakat terkait budidaya mangrove mulai pembibitan, penanaman dan pengamanan tanaman mangrove.
Selain itu juga menjadi sentra belajar menumbuhkan minat dan keterampilan dalam pemanfaatan buah mangrove non kayu, melalui pelatihan-pelatihan dan penyediaan fasilitas produktif.

"Adapun target khusus rumah mangrove information center ini adalah meningkatkan pemberdayaan perempuan melalui kegiatan produktif ekonomi kreatif dan produktif," terang Ali.

Ali menyebutkan saat ini tiga kelompok petani mangrove Kelurahan Bontang Kuala sudah mulai bergabung dibawah binaan rumah mangrove information center, termasuk tiga kelompok dari Kelurahan Tanjung Laut serta dua kelompok di Kelurahan Tanjung Laut Indah sendiri.

"Total ada 12 kelompok petani budidaya mangrove yang tergabung dalam rumah mangrove ini," ujarnya.

Saat peresmian rumah mangrove (6/4), Presiden Direktur PT Badak NGL Nanang Untung menginformasikan pohon mangrove di Papua ada yang sebesar manusia.

"Saya mendapat informasi mangrove di Papua sebesar manusia. Semoga melalui rumah mangrove information center ini menjadi manajemen center multiguna mangrove yang makin lama disekitarnya makin hijau dan masyarakat terperdayakan," kata Nanang Untung.

Dia juga berharap rumah mangrove bisa dimanfaatkan lebih dari sekedar hijaukan pantai, tetapi bisa juga berkembang buahnya dalam pembuatan dodol, sirup maupun ekonomi produktif lainnya.

Sementara itu mangrove memiliki fungsi ekologis, ekonomi dan sosial dalam mendukung pembangunan wilayah pesisir.

Karena penanaman hutan mangrove dapat menjaga kestabilan garis pantai dari abrasi dan erosi serta menjaga kelestarian ekosistem pantai.

Selain itu, hutan mangrove juga berfungsi untuk menahan laju tiupan angin kencang dan menstirilkan air laut yang asin menjadi air tawar, mengurangi abrasi, menahan gelombang laut.


ANTARA

Dominggus Ledrick Sinanu : Dominggu dan Kalpataru

on Monday, May 21, 2007

Dominggus dan Kalpataru
Oleh : Agung Setyahadi

Di lengan kanan Dominggus Ledrick Sinanu (54) terdapat tato simbol pohon kalpataru. Di bawahnya gambar pita yang bertuliskan Kalpataru; di bawahnya lagi angka tahun 1981 dan D Sinanu.

"Saat saya dapat Kalpataru ini, saya sumpah jabatan kepada Tuhan untuk mengabdi kepada orang banyak," kata Sinanu, penyelamat hutan mangrove di Teluk Dalam Ambon, Provinsi Maluku, awal Februari.

Sinanu mendapat Kalpataru berkat usahanya sejak tahun 1977 menanami hutan mangrove yang rusak di Teluk Ambon. Bagi Sinanu, Kalpataru bukan sekadar penghargaan dari negara, melainkan amanat Tuhan yang harus ia jalani demi kebaikan umat manusia dan isi bumi.

Benar saja, lingkungan mangrove yang ia selamatkan kini menjadi periuk nasi bagi puluhan keluarga di daerah Mata Paso, Desa Lateri, Kecamatan Baguala, Kota Ambon. Ikan, teripang, siput, kerang, udang, dan rajungan merupakan hasil tangkapan di wilayah Teluk Ambon sehingga bisa menjadi pendukung perekonomian keluarga nelayan di daerah itu.

Lingkungan mangrove yang lestari itu juga menjadi tempat tinggal berbagai spesies burung, bebek laut, kuskus, ular, dan tentu saja kaya dengan plankton. Keanekaragaman hayati itulah yang kemudian membuat peneliti dan mahasiswa Universitas Pattimura menjadikan hutan mangrove di Teluk Ambon itu sebagai laboratorium alam. Di bawah bimbingan Sinanu, banyak mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 berhasil menyelesaikan studinya.

"Peneliti dari Kanada, Inggris, dan Jepang juga pernah meneliti di sini. Anak-anak SD, SMP, dan SMA di Ambon juga banyak ke sini untuk membuat karya ilmiah," ungkap mantan petinju teman seangkatan Ellyas Pical di Sasana Garuda Pattimura ini.

Dedikasinya membantu peneliti itu mengantarnya memperoleh penghargaan Satya Lencana Pembangunan tahun 1995. Sinanu juga membagi pengetahuan tentang konservasi mangrove serta budidaya tambak ikan baronang kepada nelayan di Bali, Lombok, dan Jawa.

Menanam mangrove

Sinanu tergerak menanami mangrove ketika selaku nelayan, ikan hasil tangkapannya terus menurun. Untuk mengatasi hal itu, ia berpendapat hutan mangrove harus dilestarikan. Penebangan mangrove untuk kayu bakar dan tiang penyangga bangunan harus dihentikan.

"Dulu, hutan mangrove ini bisa dilalui mobil dari Mata Paso ke Negeri Lama karena tidak ada pohon lagi," kenang Sinanu.

Ia secara otodidak mengusahakan pembibitan pohon bakau yang dia ambil dari alam. Saat air surut, ia menanam bibit mangrove di lahan gundul yang membentang dari Mata Paso, Negeri Lama, Nania, Poka, Wayame, Lateri, Halong, hingga Air Luwu. Semua dengan biaya sendiri. Sebagian hasil penjualan ikan ia sisihkan untuk membeli kantong plastik pembibitan.

Sepanjang tahun 1977-1979 ia sudah menanam sekitar 10.000 bibit bakau. Penanaman terus ia lakukan hingga pertengahan tahun 2006.

Penanaman bakau kemudian menjadi program kuliah kerja nyata mahasiswa beberapa perguruan tinggi di Ambon. Mereka tidak perlu membeli bibit mangrove, cukup menyetor kantong plastik supaya Sinanu bisa tetap membibitkan mangrove.

"Saat kerusuhan (sosial), para pengungsi juga saya ajak menanam mangrove. Saya berpikir, mangrove bisa menjadi pohon perdamaian. Dengan menanam mangrove, mereka bisa melepaskan diri dari segala emosi," kata Sinanu.

Sinanu ketat menjaga hutan mangrove dari penebang liar. Pohon hanya boleh ditebang bila sudah rusak. Pohon patah karena angin kencang, misalnya, hanya boleh dipotong bagian yang patah saja. Peraturan itu dapat berjalan karena nelayan merasakan manfaat hutan bakau.

Terancam rusak

Zaman keemasan nelayan Teluk Ambon itu kini nyaris tinggal kenangan. Hutan mangrove itu mengalami sedimentasi hebat akibat erosi perbukitan sekitar teluk. Perbukitan yang menjadi daerah tangkapan air itu dibuka untuk perumahan. Akibatnya, tanah erosi masuk ke teluk dan menyebabkan pendangkalan.

"Lumpur dari atas itu menimbun kolam-kolam saya hingga rata. Akar napas pohon bakau juga ikut tertimbun sehingga banyak yang kering. Sekitar 2.500 pohon rusak. Ini bukan kerugian bagi saya saja. Nelayan kini tidak bisa lagi melaut. Mereka jadi buruh bangunan karena ikan tidak ada lagi," kata Sinanu dengan mata berkaca-kaca.

Pembukaan lahan Bukit Lateri oleh pengembang perumahan pada tahun 2004 menyebabkan sedimentasi setebal 2 meter-5 meter dengan jangkauan hingga 150 meter dari bibir pantai.

Kekecewaan Sinanu semakin menjadi saat gugatannya kepada pihak perusahaan pengembang itu, di Pengadilan Negeri Ambon, ditolak dengan alasan tidak memenuhi prosedur hukum. Pemerintah Provinsi Maluku dan Kota Ambon pun dinilai Sinanu tidak mendukungnya dalam usaha penyelamatan lingkungan.

"Kalau pemerintah daerah tidak menghargai lingkungan yang saya bina sejak 30 tahun lalu, Kalpataru ini akan saya kembalikan ke Menteri Negara Lingkungan Hidup. Tidak ada lagi yang patut diberi penghargaan karena hutan mangrove sudah rusak. Tidak ada yang bisa dibanggakan lagi dari Teluk Ambon," ujar Sinanu menegaskan.

***
BIODATA

Tentang Dominggus Sinanu
Nama: Dominggus Ledrick Sinanu
Lahir: Mata Paso, Ambon, 1953
Istri & anak: Istri sudah meninggal dengan dua putri, Since dan Diana.
Pendidikan: Kelas III sekolah rakyat
Pengalaman:
- Petinju (1979-1981)
- Menanam bakau (sejak 1977)
- Narasumber penelitian keragaman hayati hutan mangrove di Teluk Dalam Ambon.
- Orang pertama di Maluku yang berhasil membudidayakan baronang di karamba di hutan mangrove.
Penghargaan:
- Kalpataru (1981)
- Satya Lencana Pembangunan (1995)

Sumber : Kompas, Kamis, 15 Februari 2007

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page