Kasi Bina Usaha DPKK Kabupaten Bekasi, Yudi Anhar mengatakan, hutan mangrove banyak beralih fungsi menjadi tambak. Namun ia mengaku belum mengetahui jika penyusutan terjadi karena hal lain.
Namun kata Yudi, penyusutan hutan mangrove dalam bentuk apa pun, akan mengancam ekosistem laut. Terlebih, daratan juga akan semakin tergerus karena abarasi.
’’Ini akan jadi ancaman yang serius dan penyebabnya ekosistem yang rusak. Sulitnya lagi, tanah di sini bukan milik orang Bekasi melainkan dari luar daerah,” ungkapnya.
Mengembalikan ekosistem dan tanaman mangrove tidak seperti membalikan telapak tangan. Meski ada upaya dengan cara menanam mangrove, namun belum bisa dipastikan terhindar dari bencana abrasi.
Dikatakan Yudi, pihaknya bakal menanam 200 ribu bibit mangrove di pesisir Muaragembong. Beberapa desa yang akan menjadi tujuan tanam mangrove seperti Pantaibahagia.
’’Nanti sekitar Juni akan ada penanaman bibit yang sesuai dengan kondisi tanah di sana,” katanya.
Sekedar diketahui, habisnya tanaman mangrove di Muaragembong sudah menimbulkan bencana abrasi. Ratusan rumah dikabarkan hilang akibat daratan yang tergerus air laut.
Gelombang laut bebas menerjang daratan karena tidak adanya penahan atau pemecah arus seperti tanaman mangrove. Dalam hal ini, pemerintah daerah harus segera mencari jalan keluar agar daratan Muaragembong tidak hilang dari peta.
GO BEKASI
0 komentar:
Post a Comment