Pertumbuhan benih mangrove, antara permintaan dan penyediaan

on Monday, February 7, 2011




Tulisan ini kami dedikasikan kepada dunia akademik, yang telah bersusah payah, melakukan penerapan teknologi demi perkembangan keilmuan di bidang mangrove. Walaupun masih belum mencapai hitungan puluan ribu, namun upaya kalangan akademik dan para peneliti dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang menggelayuti mangrove, patut diacungi jempol. Berikut catatan kami, mengenai hal terpuji tersebut.


Masalah mangrove, salah satunya, adalah masalah pertumbuhan. Pembenihan mangrove tergolong sangat lama, bahkan sampai sekitar 12 pekan (6 bulan) untuk mendapatkan bibit mangrove dengan 2 helai daun, terhitung sejak propagul. Sementara untuk mencapai taraf "propagul dengan satu tunas daun", propagul harus ditanam sekitar 45 hari (Yadi, 2005). Jika mempersiapkan bibit tanaman yang dikelola sendiri untuk memenuhi pesanan, membutuhkan waktu 6-8 bulan siap tanam. Sementara, pihak pemesan biasanya mematok waktu pemenuhan bibit, maksimal hanya 5 bulan. Padahal di lain hal, pemenuhan kebutuhan akan penyediaan bibit mangrove merupakan hal yang tak bisa dibantah, lebih-lebih untuk kawasan pantai yang mengalami krisis mangrove (sebuah realitas buruk yang terjadi di berbagai penjuru bumi). Di negara kita sendiri, tingkat kerusakan hutan mangrove sudah mencapai 68%. Kepedulian terhadap mangrove yang belakangan mengalami peningkatan, juga memberikan imbas kenaikan permintaan terhadap bibit mangrove siap tanam. Hal ini juga sekaligus memunculkan masalah baru, dimana permintaan yang sedemikian tingginya, ditambah lagi dengan terbatasnya waktu yang disediakan untuk memenuhi pemesanan bibit tersebut, sementara jumlah bibit yang tersedia tidak mencukupi.

Dunia kampus, ternyata tidak tinggal diam, menyikapi masalah tersebut. Dosen dan mahasiswa dari universitas Muhammadiyah Malang, pada tahun 2010 memunculkan ide untuk menerapkan kultur jaringan, sebagai salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif, kepada permasalahan penyediaan bibit mangrove. Sejatinya, kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan ditengarai mempunyai beberapa penanda, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Sampai saat tulisan ini diturunkan, sayangnya belum terdapat jawaban dari upaya ini.

Permasalahan penyediaan bibit rupanya juga cukup menyedot perhatian civitas akademika bilamana dirunut lebih kebelakang. Tiga dosen muda dari UNdip pada bulan November 2003, melaporkan usaha mereka untuk melakukan pembenihan mangrove jenis Rhizopora mucronata diatas rakit apung. Teknik ini mengacu kepada keberhasilan metode yang serupa kepada rumput laut pada tahun 2002. Sayangnya, teknik ini belum memberikan hasil yang menggembirakan.
Tahun 2005, laboratorium Atom dan Nuklir Jurusan Fisika FMIPA UnDip pada bulan Mei sd Oktober 2005, mencoba menjawab permasalahan tersebut. Peradiasian plasma propagul mangrove, dengan harapan dapat mempercepat pertumbuhan mangrove sebagai bentuk implementasi upaya perbaikan kualitas tumbuhnya. Pilihan mereka sebagai bentuk terapan teknologi plasma di bidang biologi tanam-tanaman ini, didasarkan kepada kesuksesan peradiasian terhadap biji sawi, yang terbukti menghasilkan peningkatan prosentase perkecambahan tanaman sawi, dan peningkatan pertambahan panjang hipokotil secara signifikan. Upaya serupa pada propagul mangrove dari species Rhizopora apiculata, sayangnya masih belum memunculkan hasil yang menggembirakan.

Sebagai penutup, kami berikan sebagai ilustrasi tentang besarnya bisnis pengadaan bibit mangrove. Pada tahun 2005, melalui sebuah saluran informasi terbatas, ketika itu Departemen Kehutanan mengadakan proyek rekonstruksi Pantura Jawa Barat dengan penanaman 36.5 juta pohon Mangrove (Bakau) setiap tahunnya, untuk 7.300 ha di tahun 2005. Para pebisnis, kala itu sudah mulai menawarkan kerjasama penanaman investasi untuk membuat pembibitan Mangrove di Kabupaten Indramayu, sebanyak 1.000.000 batang/tahun, dengan spesifikasi bibit siap salur: tinggi 30 cm dengan minimal 4 daun, senilai @ Rp.1.500,- dengan harga pokok @Rp.825,- perbatang. Jangka proyek mulai Agustus s/d Desember 2005, dengan modal awal yang diperlukan Rp.175.000.000,- dengan share-profit 30% bagi investor. Alih-alih mempercepat proses, penawaran tersebut juga menyasar laboratorium kultur jaringan yang memiliki kemampuan menduplikasi tanaman Mangrove.

Demikianlah, berbagai ide dan metode yang dapat kami paparkan, dalam menjawab sebuah permasalahan yang muncul dari upaya mulia untuk merehabilitasi kondisi mangrove di nusantara. Semoga saja, paparan singkat ini dapat memberikan inspirasi bagi perkembangan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, untuk menjawab berbagai permasalahan yang muncul, khususnya seputar budidaya mangrove.

bersambuung....
(dpp)

Mobil tangguh untuk melihat mangrove

on Monday, December 6, 2010

Dalam setiap perjalanan kami dalam menyebarkan ilmu ke"mangrove"an kepada khalayak luas, kami selalu gunakan kendaraan pendukung terbaik. Soalnya tidak mungkin bila kami harus direpotkan dengan kendaraan, sementara tugas kami dalam menyebarkan ilmu mangrove memerlukan konsentrasi yang cukup tinggi.



Logo Toyota SEO Award 2010

Membaca berbagai "buku" tentang mangrove

on Wednesday, December 1, 2010


Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.

Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca. Pembaca mangroveblog sekalian, untuk belajar tentang mangrove, anda juga perlu membaca, selain berdiskusi dengan para penggiat mangrove. Beberapa buku tentang mangrove dapat anda unduh dengan gratis melalui internet. Misalkan saja Mangrove Guidebook for Southeast Asia, yang diterbitkan FAO, yang bisa anda unduh disini, atau ada "pecahannya" yang bisa diunduh melalui ftp disini. Namun bagi anda yang merasa tidak memerlukan informasi di tingkat asia tenggara, maka anda dapat memilih buku terbitan Wetlands Indonesia tentang Panduan pengenalan mangrove di Indonesia (2006) disini. Atau anda lebih tertarik untuk mencari pengetahuan seputar olahan berbahan baku mangrove yang diterbitkan oleh Mangrove Action Project, Cooking with Mangrove disini, atau yang file pdf aslinya terbitan dari Yayasan Mangrove Indonesia disini. Bilamana lebih berminat pada sisi penghutanan mangrove, silvofishery dan beragam tetek bengeknya, worldagroforestrycentre, memberikan buku pdf berbahasa Indonesia, sebuah kompilasi abstrak agroforestry di Indonesia, disini. Global Nature Fund, tahun 2007, juga mengeluarkan Mangrove Rehabilitation Guidebook, post Tsunami Restoration of Mangroves, Education & Reestablishment of Livelihoods in Sri Lanka, yang dapat anda unduh disini.


Dari website Mangrove Action Project, kita dapat mengunduh buku-buku mengenai penggunaan bahan baku untuk berbagai bangunan di kawasan mangrove yang relatf ramah lingkungan, berikut teknik mengawetkannya, sebagai sebuah hasil pengalaman project mereka di Sulawesi disini dan disini.

Bahan menarik buat kalangan akademik yang berminat terhadap mangrove, dapat diunduh disini, tentang Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa, yang diterbitkan oleh Jurusan FMIPA, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2002, sebagai peuntun praktikum analisis vegetasi di kawasan ekosistem mangrove.



Anda juga dapat menikmati dua karya mini biografi dari, Soni Mohson, salah satu pionir dalam konservasi mangrove di pantai timur Surabaya, dalam bentuk pdf, yang berjudul Tak Kenal menyerah disini atau atau Aku, anugerah dan Mangrove disini

Ada lagi satu buku yang cukup menarik, dari Six Senses Resorts & Spas, sebuah konsorsium resort dan spa management, yang memiliki jaringan cukup luas mulai dari Maldive, Thailand, Vietnam, Oman, Jordan, dan Spanyol. Tentang bagaimana bisnis ekoturisme yang berwawasan lingkungan disini. Mereka mengambil judul unik, The little green book.

Lebih menarik lagi, ada sebuah ilustrasi dalam bentuk animasi tentang proses kehidupan yang terjadi di ekosistem mangrove, yang sepertinya sangat berguna untuk penyuluhan kepada usia sekolah, disini. Bilamana untuk usia pra sekolah, bahan untuk kegiatan pengenalan mangrove, yakni dengan mewarnai berbagai species mangrove, disediakan oleh mangroveactionproject, dengan ijin dari JICA, disini. Delapan gambar hitam putih dari species Xilocarpus granatum, Sonneratia alba, Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, Ceriops tagal, Brugueira gymnorrhiza, Avicennia marina, Aegiceras corniculatum, dapat menjadi bahan ampuh untuk penyuluhan mengenai mangrove sampai ke tingkat taman kanak-kanak.

Sumber Pustaka
Friendsofmangrove, Mangroveactionproject, Worldagroforestrycentre, FAO, Globalnature, Oneocean, Sixsenses

Keluarga besar Sonneratia

on Monday, November 29, 2010



Salah satu spesies "menarik" yang hidup di kawasan ekosistem mangrove adalah Sonneratia. Di dunia, Sonneratia memiliki anggota 20 spesies, namun di Indonesia lebih mudah menemukan 3 spesies dari genus Sonneratia, yaitu : Sonneratia alba, S. caseolaris, dan S. ovata. Salah satu jenis mangrove yang dimanfaatkan buahnya yaitu jenis pedada (Sonneratia caseolaris) yang hidup dan tumbuh di hutan mangrove. Tanaman ini memiliki daun berbentuk elips dan ujungnya memanjang dengan tulang daun berbentuk menjari. Bunga memiliki kelopak bunga mengkilat dan hijau serta datar dengan benang sari berwarna merah dan renggang. Buah ini memiliki morfologi yang sangat unik berbentuk bulat dengan diameter 6-8 cm. Namun demikian, warga asli di seputaran ekosistem mangrove, memberikan berbagai nama daerah antara lain pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi – posi, wahat, putih, berapak, bangka, susup, kedada, muntu, pupat dan mange – mange. Wikipedia mencatat, bahwa Sonneratia sudah tidak masuk lagi kedalam suku Sonneratiaceae, tetapi telah menjadi suku Lythraceae.

Sonneratia memiliki "perawakan" sebagai pohon besar yang memiliki banyak sekali akar berbentuk serupa pensil yang mencuat ke atas. Bentuk akar ini merupakan bentuk adaptasi sonneratia untuk bernafas mengambil udara, karena kondisi tanah mangrove yang anoksik. Secara langsung bisa dikatakan kondisi anoksik adalah kondisi beracun, tapi arti sebenarnya dari anoksik adalah kurang oksigen atau tidak ada oksigen. Hal ini disebabkan ketidakberadaan oksigen di satu tempat bisa membuat satu pohon (dalam hal ini mangrove) bisa mati, oleh karena itu sonneratia "membuat" mekanisme akar nafas


Taman Nasional Baluran, memiliki koleksi sonneratia dari jenis alba (disana dikenal dengan nama Pedada). Pohon Pedada yang ada di TN Baluran memiliki ukuran keliling + 927 cm (9,27 m), tinggi bebas cabangnya + 15 m dan tinggi totalnya mencapai 25 m. Dapat dikatakan dengan ukurannya yang besar itu maka pohon Pedada ini merupakan yang terbesar di Indonesia atau mungkin di dunia. Hal ini didasari oleh pendapat Bapak Ir. Suwendra yang pada awal tahun 1990-an menjabat sebagai Kepala Seksi Pemanfaatan di Taman Nasional Baluran. Sebelum bertugas di Baluran, beliau pernah mengukur tanaman mangrove se- Indonesia dan menurut data yang ada pada waktu itu tercatat bahwa jenis pohon Sonneratia alba (Pedada) yang terbesar berada di Papua, dengan keliling pohon + 3 meter. Dan saat beliau mengukur pohon ini pertama kali diawal 90-an, kelilingnya masih + 4,5 meter. Pantai timur surabaya, memiliki dua jenis dari keluarga sonneratia, yakni dari jenis alba (Bogem prapat) dan caseolaris (bogem)

Sesama keluarga sonneratia, ternyata memiliki sifat yang berbeda-beda. Jenis alba, dikenal sebagai pionir, dan tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Sementara caseolaris memiliki kemiripan dengan jenis ovata, menyukai bagian yang kurang asin di hutan mangrove, pada tanah lumpur yang dalam, seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. Juga tumbuh di sepanjang sungai, mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa, serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar.

Sonneratia dikenal memiliki banyak manfaat, dan kegunaan. Primata pada umumnya sangat menyukai buah sonneratia yang rasanya asam ini. Mereka bahkan sudah mampu memilih, hanya buah yang matang saja yang bisa dimakan. Selain itu hewan pemakan buah yang lain, seperti kelelawar maupun burung, juga ikut menjadi 'penggemar" buah ini. Sementara manusia, dengan belajar dari kera, telah mampu mengolah sonneratia dari jenis caseolaris untuk diolah menjadi sirup. Di Sulawesi, kayunya dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain, karena kayunya berkualitas rendah dan memiliki serat yang padat, jadi sulit untuk memanfaatkan kayu pohon pidada ini sebagai bahan baku mebel. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.


Kalangan akademik juga tidak mau ketinggalan, terus meneliti manfaat spesies ini. Ilmuwan dari IPB mencoba mengekstrak daun, kelopak, buah dan biji Sonneralia alba dan S. caseolaris sebagai bahan alami antibakterial terhadap patogen Udang Windu, Vibrio harveyi. Sementara penggunaan ekstrak Rambai Bogem (Sonneratia alba) untuk menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila penyebab MAS (Motile Aeromonas Septicemia)”, pernah dilakukan mahasiswi fakultas Perikanan, Universitas Lampung. Dalam buku Mangrove Guidebook for Southeast Asia, disebutkan bahwa di Papua Nugini telah ditemukan persilangan Sonneratia caseolaris dengan Sonneratia alba, yang dinamai Sonneratia X gulngai.

Terhadap lingkungan pesisir, sonneratia dari jenis alba dikenal sebagai tumbuhan perintis atau reklamasi. . Secara tidak langsung tumbuhan pidada maupun tumbuhan bakau lainya dapat mencegah erosi dan abrasi pantai dari pasang surut air laut, selain itu tumbuhan ini akan menjadi tempat tinggal hewan-hewan rawa, seperti kepiting, udang, kerang ikan, dan lain-lain. Pengetahuan yang memadai terhadap berbagai jenis spesies mangrove, akan memberikan manfaat yang besar bagi berbagai kalangan pendidikan dan organisasi yang ingin melakukan restorasi ekosistem mangrove di sekitar tempat mereka, dengan teknik replanting, dengan lebih mengedepankan fungsi, jenis dan keberadaan lahan yang akan ditanami. Pengetahuan tersebut akan memberikan kita pemahaman yang cukup, bahwa penanaman mangrove tidaklah sekedar seremonial, mengejar kecepatan tumbuh mangrove yang akan ditanam, namun juga memperhitungkan kebutuhan ekosistem terhadap jenis mangrove yang paling sesuai untuk ditanam, karena dalam ekosistem mangrove, terdapat zonasi yang membuat ekosistem mangrove tersebut dapat memfungsikan dirinya secara optimal sebagai penahan ombak, dan lain sebagainya.

Sonneratia alba

A. Umum
1. Komponen: termasuk komponen utama/mangrove mayor
2. Bentuk: pohon/perdu. Tinggi mencapai 16 m
3. Akar: akar nafas, berbentuk kerucut
4. Daun: susunan tunggal, bersilangan; bentuk oblong sampai bulat telur sungsang; ujung membundar sampai berlekuk; ukuran panjang 5 – 10 cm
5. Tipe biji: biji normal
6. Lainnya: bagian atas dan bawah permukaan daun hampir sama
7. Kulit kayu: halus, retak/celah searah longitudinal, warna kulit krem sampai coklat
8. Ciri khusus: tangkai daun pada bunga dewasa berwarna kuning, helai kelopak menyebar atau sedikit melengkung ke arah buah (pada S. ovata helai kelopak tegak pada buah)
9. Fenologi: berbunga sepanjang tahun (antara 3 – 4 bulan); berbuah pada bulan Mei – Juni dan Oktober – November; pembuahan sampai masak memakan waktu 2 – 3 bulan
10. Spesies yang mirip: S. caseolaris, S. ovata
11. Habitat: tumbuh di lumpur berpasir di muara sungai, sering ditemukan di daerah tepian yang menjorok ke laut, daerah dengan salinitas relatif tinggi

B. Bunga
1. Rangkaian: 1 sampai beberapa bunga bersusun, di ujung atau cabang/dahan pohon
2. Mahkota: putih
3. Kelopak: 6 – 8 helai, merah dan hijau
4. Benang sari: banyak, putih
5. Ukuran: diameter 5 – 8 cm
6. Lainnya: bunga sehari (ephemeral), terbuka menjelang malam hari dan berlangsung sepanjang malam, mengandung banyak madu pada pembuluh kelopak

C. Buah
1. Ukuran: diameter 3,5 – 4,5 cm
2. Warna: hijau
3. Permukaan: halus
4. Lainnya: kelopak berbentuk cawan, menutupi dasar buah, helai kelopak menyebar atau melengkung, berisi 150 – 200 biji dalam buah

Sonneratia caseolaris

A. Umum
1. Komponen: termasuk komponen utama/mangrove mayor
2. Bentuk: pohon, tinggi mencapai 16 m
3. Akar: akar nafas, berbentuk kerucut, tinggi dapat mencapai 1 m
4. Daun: susunan tunggal, bersilangan; bentuk jorong sampai oblong; ujung membundar, dengan ujung membengkok tajam yang menonjol; ukuran panjang 4 – 8 cm
5. Tipe biji: biji normal
6. Lainnya: ranting menjuntai
7. Kulit kayu: halus
8. Ciri khusus: bunga dewasa memiliki tangkai daun pendek dengan dasar berwarna kemerah-merahan, benang sari berwarna merah dan putih, akar nafas yang berkembang dengan baik dapat mencapai tinggi lebih dari 1 m, lebih tinggi dibandingkan S. alba
9. Spesies yang mirip: S. alba, S. ovata
10. Habitat: tumbuh di tepi muara sungai terutama pada daerah salinitas rendah dengan campuran air tawar

B. Bunga
1. Rangkaian: 1 sampai beberapa bunga bersusun, di ujung
2. Mahkota: merah
3. Kelopak: 6 – 8 helai, hijau
4. Benang sari: tak terhitung, merah dan putih
5. Ukuran: diameter 8 – 10 cm
6. Lainnya: bunga sehari (ephemeral), terbuka menjelang malam hari dan berlangsung sepanjang malam, mengandung banyak madu pada pembuluh kelopak

C. Buah
1. Ukuran: diameter 6 – 8 cm
2. Warna: hijau kekuning-kuningan
3. Permukaan: mengkilap
4. Lainnya: kelopak datar, memanjang horisontal, tidak menutupi buah, helai kelopak menyebar, buah lebih besar dari S. alba, mengandung 800 – 1200 biji dalam buah, dapat dimakan




Sumber:
Wikipedia
Wetlands
Proseanet
Kesemat
TN alas purwo
Blog Si ken arok
IPB
Blog Iqbal
Blog lidiabayang

Ekoturisme di ekosistem Mangrove pantai Timur Surabaya?

on Tuesday, November 16, 2010


Pernahkah anda melihat logo seperti disamping? Paling gampang adalah dengan mencarinya melalui google. Anda akan menemukiannya secara lebih mudah berkat bantuan mesin pencari tersebut.

Lalu bagaimana di Pantai Timur Surabaya? Apakah ada yang merindukan hadirnya sebuah lembaga dengan sertifikasi ramah lingkungan di pantai timur Surabaya? Apa pentingnya sertifikat ini buat ekosistem? Sepertinya akan mempersulit aktifitas arek2 Suroboyo dalam menikmati mangrove ya? Atau kayaknya itu sekedar akal2 asing belaka?

Bisnis ekoturisme, sebenarnya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan dari konservasi alam. Apalagi mengambil tempat di kawasan hutan mangrove, yang secara luas dikenal, memiliki catatan tingkat kerusakan yang sangat tinggi. Konservasi alam sendiri, sebenarnya merupakan upaya mempertahankan keaslian serta keasrian tatanan alam sehingga manusia dan makhluk hidup lainnya dapat tetap hidup dan terpelihara dengan baik. Eksplorasi dan elaborasi ecotourism (ekoturisme), merupakan salah satu bentuk pengusahaan konservasi alam. Pengembangan ekoturisme bukan saja sejalan dengan isu penanganan kerusakan ekosistem mangrove yang tiap hari digembar-gemborkan di negeri ini, tetapi juga sejalan dengan terus merebaknya berbagai isu yang berorientasi pada pemeliharaan lingkungan alam di berbagai belahan dunia.

Paradigma pelestarian alam perlu dipikirkan untuk ditata ulang sehingga bukan saja menjadi kewajiban pemerintah, namun seluruh komunitas idealnya bersatu padu. Kesadaran akan pelestarian alam perlu dibentuk dari bawah. Oleh karena itu, perlu membangun konsep dan menerapkan prinsip-prinsip penyadaran komunitas untuk pelestarian alam yang antara lain melalui ekoturisme. Isu mana saja yang melatarbelakangi pengembangan ekoturisme itu? Apa sebenarnya ekoturisme tersebut? Bagaimana mengeksplorasi dan mengelaborasi ekoturisme?

Perkembangan industri pariwisata merupakan salah satu isu utama dari isu 4T dalam milenium ketiga. Keempat T tersebut adalah Transportation, Telecommunication, Tourism dan Technology. Artinya, pariwisata menjadi salah satu industri yang akan tumbuh dan dominan di berbagai belahan dunia pada milenium ketiga. Industri pariwisata selama milenium ketiga memiliki peran dan makna begitu tinggi dalam aspek kehidupan manusia.


Selain isu di atas, pemeliharaan lingkungan alam tiada hentinya menjadi isu penting dalam berbagai forum dunia. Lingkungan alam dijadikan basis pengembangan hampir keseluruhan industri. Pariwisata merupakan salah satu industri yang tidak luput dari tuntutan aplikasi pengembangan industri berwawasan pemeliharaan lingkungan alam tersebut.

Kerangka berpikir dan bekerja industri pariwisata berubah menjadi, bagaimana mengembangkan pariwisata tanpa mengubah dan merusak alam. Perumusan kerangka pengembangan pariwisata berwawasan pemeliharaan lingkungan adalah hal mendesak yang perlu direalisasikan. Makin mencuatnya isu pemeliharaan dan pelestarian alam diekspresikan antara lain dalam bentuk greenspeak. Greenspeak itu sendiri berkonotasi mendalam untuk kemaknaan “alam yang hijau dan terpelihara.” Oleh karena itu, serta-merta muncul isu go green. (Cooper;1997;WTO;2000).

Isu lain yang telah lama mengglobal adalah back to nature yang tidak luput menyentuh pengembangan pariwisata. Kembali ke alam menjalar bukan saja di negara-negara maju, tetapi juga masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan alam lebih dibanding negara lainnya di dunia. Alam hijau baik alam hutan maupun tanaman rekayasa manusia begitu melimpah. Dengan demikian Indonesia berpeluang membangun kepariwisataan yang berkelanjutan melalui pemeliharaan lingkungan alam.

Makna ekoturisme
Ekoturisme merupakan istilah berkonotasi pariwisata berwawasan lingkungan alam. Jenis wisata ini termasuk suatu bentuk pariwisata alternatif yang bertanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan alam sekitarnya. World Tourism Organization (WTO) sebagai badan dunia kepariwisataan menggulirkan isu ekoturisme sejalan dengan manuver konservasi alam di berbagai belahan dunia.

Pemahaman masyarakat terhadap ekoturisme tidak jarang menyimpang dari makna yang sebenarnya. Ecotourism merupakan gabungan dari ecologycal dengan tourism. Ekologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Di Indonesia khususnya, keilmuan ini secara umum relatif belum berkembang sebagaimana diharapkan. Ilmu ini lebih banyak berkaitan erat dengan tatanan kehidupan manusia, baik manusia secara pasif sebagai bagian dari alam maupun manusia sebagai elemen aktif yang dapat merekayasa alam. Berbagai kegiatan kehidupan manusia yang berkaitan erat dengan ekologi antara lain kehidupan ekonomi, sosial, maupun budaya. (Hardesty;1977; Soewarno;2000).

Ecotourism atau ecologycal tourism diterjemahkan menjadi wisata ekologi, lengkapnya pariwisata ekologi, berarti bertanggung jawab atas perjalanan wisata ke area alam yang mampu memelihara lingkungan, serta bertanggung jawab untuk memelihara keberadaan manusia dan mahluk hidup di sekitarnya untuk tetap hidup aman dan nyaman dalam lingkungannya (Blangly dan Megan;1994). Tentu berbeda dengan hanya sekadar wisata alam. Karena itu penyetaraan makna ekoturisme dengan ‘wisata alam’ tentu saja tidak tepat.

Ekoturisme maknanya setara dengan pariwisata yang berwawasan konservasi lingkungan. Sementara itu, wisata alam adalah kegiatan berwisata di dalam lingkungan alam.

Apakah suatu kegiatan wisata alam merupakan ekoturisme? Mungkin ya mungkin tidak! Ini lain perkaranya! Kegiatan wisata alam umpamanya arung jeram, pendakian gunung, wisata selam, wisata tirta, berperahu ke kawasan mangrove dan sejenisnya. Seluruh contoh wisata alam tersebut belum tentu dapat dikualifikasikan ekoturisme. Mungkin saja pendakian gunung menimbulkan kerusakan pada lingkungan dan keaslian alam pegunungan tersebut. Oleh karena itu, wisata seperti itu tidak masuk kualifikasi wisata berwawasan pelestarian lingkungan alam. Karena itulah, ekoturisme ini sarat oleh aspek primer yakni, mengelaborasi alam untuk kepentingan pariwisata tanpa menurunkan kualitas alam, atau mengubahnya menjadi wujud intervensi penyebab degradasi ekosistem.

Tema mass tourism berubah dari sun, see, sand menjadi tema trilogi yang berorientasi pada alam yakni nature, nostalgia, nirvana (Cooper;1997). Aspek alam atau nature merupakan daya tarik wisata yang asli atau prestine form. Keaslian alam disajikan dan ditawarkan untuk menciptakan pengalaman wisata bermakna. Misalnya membiarkan dan tetap melestarikan keindahan alam bawah laut di Bunaken.

Demikian halnya dengan aspek nostalgia, berbasis pada romantika sosial yang konstruktif atau menggambarkan realita utuh menyokong kekokohan daya tarik alam sebenarnya atau ecofundamentalism. Seperti, budaya masyarakat Baduy dan Dayak Pedalaman yang memiliki rasa rawat atau malire alam.

Sementara itu, nirvana merupakan istilah pengganti dari paradise atau surga yang telah lama dikenal dalam tema kepariwisataan tradisional. Nirvana ini dimaksudkan agar wisatawan dapat melepaskan segala kerisauan pikiran dan hatinya, sehingga dalam tahap akhir mereka memperoleh kesehatan spiritual. Misalnya, ketika memandang hamparan panorama keutuhan dan keindahan alam, maka tergeraklah hatinya dan menyadari betapa agungnya kebesaran Allah.

Paradigma hijau
Akumulasi dari isu yang berorientasi terhadap alam, mendorong perumusan paradigma baru dalam pariwisata yang terkait dengan alam. Paradigma hijau atau green paradigm merupakan salah satu paradigma yang sinergis untuk pengembangan ekoturisme (Weaver;2000).

Paradigma lingkungan yang telah lama dikenal di negara-negara Barat jika dibandingkan dengan paradigma hijau, terdapat perbedaan mendasar. Marilah kita toleh beberapa hal penting diantara lingkup paradigma hijau tersebut. Manusia yang dulu dianggap bukan bagian dari alam, kini dianggap sebagai bagian dari alam. Dulu manusia menjadi superior terhadap alam, kini berkedudukan setara alam. Dulu diyakini setiap kejadian di masa akan datang dapat diprediksi, namun kini masa depan alam dianggap sulit bahkan tidak dapat diprediksi.

Hal lain seperti penggunaan teknologi. Dulu teknologi lebih berorientasi pada penggunaan hard technology, kini sebaliknya lebih pada soft technology. Berdasarkan paradigma hijau ini, maka bukan saja sebagai upaya ‘proksi’ atau program yang mirip-mirip, bahkan kepura-puraan deudeuh pada lingkungan alam, namun absolut dalam bentuk “perwujudan” wisata berbasis konservasi alam.

Prinsip ekoturisme
Suatu kegiatan pariwisata dapat dikategorikan pariwisata ekologi jika memenuhi 5 prinsip ekoturisme (Cooper;1997). Kelima prinsip tersebut, 1) prinsip sustainable adalah pariwisata yang berkonsentrasi pada penyokongan pelestarian alam, 2) bahwa lingkungan alam harus aman dan terjamin keselamatannya untuk dijadikan harta warisan bagi generasi mendatang. 3) pemeliharaan beragam mahluk yang ada di sekitarnya, baik manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lainnya apa pun yang berasal dari alam dan hidup di alam bersangkutan. Keragaman makhluk hidup diyakini dapat bertahan jika secara ekosistem terjaga. 4) merumuskan perencanaan secara holistik dan mengimplementasikannya secara holistik pula. Harmonisasi alam dengan manusia dan totalitas lingkungannya (environmental integrity) harus jadi kenyataan. 5) carying capacity, artinya seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pariwisata tersebut mendapat manfaat. Tingkat kemanfaatan harus diperoleh baik secara dimensional bagi penyedia maupun bagi wisatawan.

Berdasarkan pemenuhan prinsipnya, pengembangan pariwisata berbasis pemeliharaan lingkungan ini dapat diketegorikan dalam hard ecotourism dan soft ecotourism. Hard ecotourism merupakan pengembangan wisata ekologi tanpa mengubah kondisi alam sekitarnya, tanpa penambahan aksesori apa pun yang menjadi daya tarik maupun sarana dan prasarana di tempat bersangkutan. Kondisi ini tentu amatlah berat. Jenis ini cocok dikembangkan di beberapa tempat umpama di daerah Kalimantan atau beberapa pulau kecil yang dimiliki Indonesia maupun di kawasan cagar alam, taman nasional, dan sejenisnya.

Sementara itu, jenis kedua menuntut perysaratan tidak seberat jenis sebelumnya. Tipe ini tentu lebih banyak diminati, namun demikian penerapan prinsip konservasi tetap menjadi panduan dalam mengembangkan jenis wisata ini.

Komunitas ekoturisme
Pengembangan pariwisata ekologi yang hati-hati (elaborasi) untuk kelestarian lingkungan tidak lepas dari dukungan komunitas di sekitarnya, baik dari masyarakat biasa maupun para pelaku dalam lingkungan industri dan pemerintahan. Beberapa pihak yang terinstitusi dalam pengembangan ekoturisme yang dikenal di Indonesia antara lain WALHI, ASITA, PHRI, HPI, PUTRI, pemda, Departemen Kelautan, Kehutanan, Kantor Lingkungan Hidup, LSM bidang lingkungan hidup, serta organisasi masyarakat setempat.

Pengembangan ekoturisme memerlukan kerja terpadu antara berbagai komponen masyarakat. Karena itu, perumusan berbagai kebijakan serta implementasinya, perlu melibatkan pihak terinstitusi untuk bekerja sama dalam suatu wahana. Wahana ini idealnya dibangun berdasarkan konsep bottom-up. Wadah yang dibentuk perlu dinasionalisasikan untuk membumikan ekoturisme di seluruh penjuru Tatar Nusantara ini.

Hal lain yang perlu diimplementasikan adalah prinsip-prinsip ekoturisme sehingga dengan aplikasi prinsip ini di samping akan banyak meraup devisa juga lingkungan alam tetap terjaga.

Beberapa hal penting perlu mendapat perhatian dari semua pihak terkait, 1) pengembangan ekoturisme perlu diyakini dan disadari berkontribusi menopang pelestarian lingkungan alam. 3) pengembangan ekoturisme perlu dibangun melalui totalitas upaya kebersamaan yang integral dalam suatu wahana komunitas kepariwisataan. 4) adanya kebutuhan mendesak membentuk asosiasi untuk mewahanai berbagai elemen yang terkait dalam pengembangan ekoturisme khususnya di tingkat daerah. 4) pelestarian lingkungan hendaknya menerapkan paradigma bottom-up yang dilengkapi konsep Atur-Diri-Sendiri (ADS) oleh komunitas ekoturisme. 5) perlunya mengembangkan ekoturisme secara hati-hati (elaborasi) agar lingkungan alam dan budaya masyarakat setempat tetap terjaga.

Bagaimana dengan pantai timur Surabaya sendiri?
Apakah aktifitas wisata baik yang berlabel ekowisata maupun bukan, sudah memenuhi kriteria seperti yang kami paparkan diatas? Apakah dengan kondisi pelayanan wisata yang kami yakin sudah sangat dikenal khalayak surabaya ini, dapat menambah pemahaman terhadap mangrove dengan wawasan yang lebih luas. Atau apakah ditemukan adanya kerjasama yang berkesinambungan antara berbagai organisasi lingkungan khusus di bidang mangrove, seperti Wetlands Indonesia atau ecoton, dan jalinan dengan WWF Indonesia?

Cooper, secara gamblang, telah merumuskan kegiatan pariwisata yang dapat dikategorikan pariwisata ekologi, jika memenuhi 5 prinsip ekoturisme (Cooper;1997). Berdasarkan pemenuhan prinsipnya, pengembangan pariwisata berbasis pemeliharaan lingkungan ini dapat diketegorikan dalam hard ecotourism dan soft ecotourism. Hard ecotourism merupakan pengembangan wisata ekologi tanpa mengubah kondisi alam sekitarnya, tanpa penambahan aksesori apa pun yang menjadi daya tarik maupun sarana dan prasarana di tempat bersangkutan. Kondisi ini tentu amatlah berat. Jenis ini cocok dikembangkan di beberapa tempat umpama di daerah Kalimantan atau beberapa pulau kecil yang dimiliki Indonesia maupun di kawasan cagar alam, taman nasional, dan sejenisnya.

Ekoturisme di kawasan mangrove pantai timur Surabaya, seyogyanya mampu menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan wisata. Potensi yang ada adalah suatu konsep pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam. Konsep ini sangat unik dengan pengembangan dan pelibatan sector management yang terpadu serta seluruh stakeholders’ yang terkait. Namun pada prinsipnya cukup sederhana dengan pola management lingkungan yang rill.

Sekali lagi, konsep tersebut tidak akan terlepas dari:
1. Penataan Lingkungan Alami.
2. Nilai Pendidikan (Penelitian dan pengembangan).
3. Partisipasi Masyarakat Local dan Nilai Ekonomi.
4. Upaya Konservasi dan Pengelolaan Lingkungan.
5. Minimalisasi Dampak dan Pengaruh Lingkungan (tentunya dengan beberapa strategi khusus).

Mangrove sangat diakui memiliki nilai potensil yang sedemikian besar bagi pengembangan konsep ekoturisme ini. Kondisi mangrove yang sangat unik, sangat cocok menjadi model wilayah yang dapat di kembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta organisma yang hidup disana.

Untuk mudahnya kita bisa melihat beberapa contoh pengembangan kawasan wisata yang berbasis pada pemeliharaan lingkungan itu sendiri. Suatu kawasan akan bernilai lebih dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang jika di dalamnya terdapat suatu yang khas dan unik untuk di lihat dan di rasakan. Ini menjadi kunci dari suatu pengembangan kawasan wisata. Lebih jauh pada kawasan mangrove, dengan estetika wilayah pantai yang mempunyai berjuta tumbuhan dan hewan unik akan menjadi daya tarik tersendiri. Yang lebih penting lagi adalah nilai ekonomis, ekologis dan pendidikan yang sangat besar yang ada di kawasan hutan mangrove.

Promosi pengembangan hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata harus lebih terpusat pada ketiga nilai tadi, tentunya dengan melihat pula keseimbangan ekologis dari seluruh potensi tadi.

Artikel ini semata-mata kami dedikasikan untuk memberikan sumbangsih pemikiran yang kiranya dapat membantu upaya pelestarian mangrove Pantai Timur Surabaya secara lebih bertanggung jawab dan lebih berpihak kepada "kepentingan Mangrove" itu sendiri, dan bukan berpangku kepada kepentingan bisnis apalagi politik praktis. Jawabannya, kami kembalikan kepada sidang pembaca yang terhormat, apakah di Surabaya, khususnya di pantai timur Surabaya, sudah memenuhi kriteria dan sertifikasi ekoturisme bertaraf Internasional.(dpp)

Pemanfaatan Mangrove sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Makanan

on Tuesday, August 31, 2010


1. Brugulera gymnorhiza

Mengandung tanin yang dalam jumlah sedikit dapat mengurangi sakit perut, namun dalam jumlah banyak akan menjadi racun
A. Brugulera gymnorhiza sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Tepung dan Beras

Bahan :

Cara Pembuatan :
Buah dikupas kulitnya kemudian daging buah dicincang sekecil mungkin
Untuk mengurangi kandungan tanin, buah yang telah dicincang direndam selama 3 hari dengan air biasa ( air diganti setiap hari ). Namun jika tergesa-gesa buah tidak perlu direndam melainkan dicuci sambil diremes-remes kemudian direbus dengan air yang telah mendidih sambil diaduk kurang lebih 20-30 menit
Buah yang telah direndam atau direbus dicuci dengan air biasa sambil diuleni
Buah dijemur di bawah sinar matahari kurang lebih hingga 1 hari
Buah yang telah dijemur akan kering dan menyusut, bila ingin langsung dijadikan nasi atau belendung buah direndam kemudian ditanak
Jika ingin dijadikan tepung, buah bisa langsung digiling setelah dijemur atau diblender dulu dalam keadaan basah sebelum dijemur, setelah jadi bubur dijemur di atas karung bekas baru digiling sampai halus.

Setelah digiling tepung di ayak, hasil pengayakan tepung yang halus digunakan sebagai tepung sebagai bahan dasar pembuatan roti, kerupuk, dll, hasil pengayakan tepung yang kasar dapat ditanak sebagai nasi.


B. Brugulera gymnorhiza sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Kerupuk dan Cireng

Bahan :

Cara Pembuatan :
Tepung dari Brugulera gymnorhiza dicampur dengan tepung tapioka sebagai pelekat serta ditambah dengan sedikit air
Ditambahkan perasa pada adonan misalnya bawang putih, sari rajungan, dll
Adonan diuleni dan dibentuk seperti lontong
Adonan dikukus, kemudian diiris tipis
Jika ingin dijadikan cireng irisan adonan langsung digoreng
Jika ingin dijadikan kerupuk, irisan adonan dijemur di bawah sinar matahari selama kurang lebih 1 hari. Kerupuk yang masih mentah tersebut bisa langsung digoreng maupun disimpan. Jika disimpan, sebelum digoreng kerupuk yang masih mentah tersebut dijemur terlebih dahulu
C. Bruguiera gymnorhiza sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Roti

Bahan :
Tepung 1 gelas, telur 6, ditambahkan ovalet secukupnya, pewarna coklat, mentega cair 250 gram, gula pasir 1 gelas, susu bubuk 1 saset, vanili 2

Cara pembuatan:
Tambahkan ovalet, gula, vanili, telur, di mixer hingga warnanya putih mengembang, di tambah pewarna coklat, susu bubuk, tepung, di aduk (mixer) masukkan mentega cair 1 ons, setelah itu masukkan ke loyang di oven ± 20 menit, roti siap di sajikan.

2. Sonneratia Caseolaris (Bogem) di manfaatkan sebagai Sirup Mangrove dan jenang


Cara pembuatan sirup:
Buah sonneratia, Kupas, cuci.
Di tambahkan air dengan perbandingan 1 kg:1 liter, misalnya 2 ons maka airnya sebanyak 200 mL.
Kemudian di rebus sampai buahnya lunak atau empuk, jangan sampai airnya mendidih. Setelah itu di dinginkan beberapa saat.
Buah di haluskan dalam panci, kemudian di saring dengan ayakan untuk memisahkan sari buah dengan daging buahnya.
Setelah terpisah antara daging buah dan sari buah, kemudian pada daging buah tadi ditambahkan lagi air sebanyak 1 liter lalu disaring lagi.
Lalu hasil saringan di saring kembali dengan kain, agar diperoleh air buah yang bebas dari ampas.
Akhirnya diperoleh sirup rasa buah Bogem.
Ampas sisa sirup dapat dibuat jenang dengan syarat ampas disisakan dengan kandungan airnya 30 %
Hasil akhir yang berupa sirup, direbus kembali dan ditambahkan gula sebanyak 2 kg. Dapat disimpulkan perbandingan buah,air dan gula adalah 1(kg):2(liter):2(kg)

Cara pembuatan jenang:
1 kg Sisa ampas sirup yang masih mengandung 30% air tadi atau 1 kg daging buah yang telah dimasak dan dilumatkan
250 gr tepung ketan
500 gr gula pasir
250 gr gula merah 2 liter air matang
Bahan-bahan diatas dimasukkan ke wajan besar secara bersamaan kemudian dicampur aduk sehingga semua bahan tercampur rata.
Lalu wajan di tempatkan pada kompor untuk memasak bahan-bahan yang ada di dadalamnya, kompor diatur dengan api kecil.
Pada saat memasak, bahan-bahan terus diaduk selama kurang lebih 4 jam
Ketika hampir 4 jam, saat jenang mulai lengket, maka tambahkan sedikitnya 1 ons mentega ke dalam wajan.
Setelah 4 jam maka diperoleh jenang bogem yang siap dicetak dan dimakan

Sumber; mangroviesta

Mencicip manis buah mangrove dari pantai timur Surabaya

on Friday, August 27, 2010

Di bulan puasa ini, dipastikan kebutuhan rumah tangga, terutama yang berhubungan dengan rasa dan kesegaran, meningkat cukup drastis. Sehingga tak mengherankan, manakala salah satu produsen sirup besar di negara ini, rela mengubah bentuk botol kemasan sirup mereka di bulan suci umat islam tersebut.

Tapi di ibukota propinsi Jawa Timur, Surabaya, penduduknya boleh menepuk dada. Karena selain kenangan heroik arek-arek suroboyo yang sudah tidak diragukan lagi, untuk soal sirup, mereka punya hal yang berbeda, yang boleh jadi tidak akan mudah ditemukan di tempat lain. Ya, surabaya boleh disebut metropolis dengan segala heterogenitas aktifitas enduduknya. Nun di pesisir timur surabaya, nyaris di ujung kali jagir-wonokromo, penduduk kota surabaya punya empu pengolah sirup modern berbahan dasar buah mangrove. Soal rasa? Hmmmm, banyak yang bilang seperti madu yaman.

Pantai timur surabaya boleh dibilang daerah pesisir kota yang unik. Kondisi masyarakatnya tidak seratus persen mewakili karakteristik masyarakat pesisir secara umumnya. Mereka sama seperti halnya penduduk kota besar lainnya yang kalau berbelanja masih memilih pergi ke mall, dan menonton gambar bergerak di jaringan bioskop terkemuka negeri ini. Hanya saja, lingkungan hidup sekitar rumah mereka didominasi ekosistem air payau.

Justru karena air yang payau itulah, mangrove dapat tumbuh, dan salah satunya adalah species Sonneratia caseolaris, atau masyarakat setempat mengenalnya dengan nama bogem. Nah, penduduk di sekitar muara sungai wonorejo ini sudah semenjak tahun 2004 silam mampu mengolah buah bogem yang telah masak, menjadi olahan sirup.

Adalah mohson, yang lebih akrab dipanggil soni, yang mengawali kiprah olahan sirup bogem mangrove ini. Setelah di tahun 2007 hasil olahannya mendapat sertifikasi dari Departemen Kesehatan, dan terdaftar di Disperindag, maka semenjak itulah hasil karyanya melanglang negeri. Dua menteri perikanan dan kelautan berturut-turut, Freddy Numberi dan fadel Muhammad, sudah beberapa kali mencicip manisnya olahan buah mangrove tersebut. Kebetulan dalam peresmian Puspa Agro, salah satu sentra pasar buah terbesar di jawa Timur yang peresmiannya dilakukan beberapa saat yang lalu, dihadiri empat menteri, dan seleuruhnya berkenan mampir dan mencicip sirup mangrove tersebut.

Bukan tanpa hambatan, untuk menyajikan sirup mangrove sehingga siap seduh. Keberadaan buah yang di mancanegara dikenal sebagai apple mangrove ini cukup sulit ditemukan. Bukan karena pohonnya yang mati, tetapi lebih karena perubahan musim yang membuat masa berbunga dan berbuah-nya menjadi tidak menentu. Namun kearifan lokal, sedikit mengatasi hal tersebut, sehingga pak mohson, mampu panen minimal 2 kilo buah apple mangrove setiap harinya.

Pemasaran sirup ini, walaupun masih belum masuk ke pasar, juga cukup menjanjikan. Pasalnya mereka yang sudah mencicipnya, pasti akan ketagihan untuk mencicipinya kembali. Beruntunglah kalian warga surabaya, sudah punya mangrove, bisa mencicipi manisnya pula. (dpp)

Dokumentasi Antarafoto

on Friday, July 30, 2010

foto  sirup mangrove

SURABAYA, 29/7 - SIRUP MANGROVE. Seorang perempuan berada di balik jajaran botol sirup yang terbuat dari Bougem (buah Mangrove), saat Pameran UKM Surabaya di Balai Kota Surabaya, Kamis (29/7). Pameran UKM yang digelar dalam rangka Hari Keluarga Nasional dan Hari Koperasi tersebut, bertujuan untuk mengenalkan beberapa produk unggulan hasil inovasi warga Surabaya, yang dihasilkan dari kekayaan alam Surabaya. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ss/NZ/10

Sirup mangrove Hadir di JHCC

on Tuesday, July 20, 2010



Dalam rangkaian Fashion and Craft 2010, Sirup Bogem tidak ketinggalan turut hadir meramaikan di JHCC, mulai tanggal 21 sampai dengan 25 Juli 2010. Kesempatan kali ini diwakili oleh Pak Saipul dan Pak Kaderi, dua praktisi mangrove dari Wonorejo yang turut mendampingi  keberangkatan team dari Jawa Timur. Pameran ini sekaligus juga pameran perdana bagi Koperasi Mina mangrove Sejahtera. So, jangan lupa, bagi anda di seputaran Jakarta yang menginginkan  merasakan nikmatnya sirup daru buah Sonneratia caseolaris, kami persilahkan mampir di stand No A18, Hall A, pameran Fashion and Craft 2010. Untuk harga per botol nya, mulai dari Rp. 20.000,-. Stock yang dibawa kali ini tidak terlalu banyak, pasalnya keberadaan buah bogem (atau orang jakarta mengnalnya dengan nama pidada) yang terlambat berbuah, sebagai akibat dari global warming. So, selamat bertemu dengan Ketan Mangrove dan Koperasi Mina Mangrove Sejahtera di JHCC.  


Berbagi Ilmu di Gerbang Pulau Garam

on Monday, July 19, 2010

Ada catatan tertinggal dari aktifitas Kelompok Tani Mangrove dengan BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN NONFORMAL DAN INFORMAL Jl. Gebang Putih No 10 Sukolilo Surabaya Telp. 031 - 5925972 , 031 - 5945101 Fax. 031 - 5953787 Kode pos : 60117. Tulisan di bawah ini merupakan salinan dari situs resmi mereka.

Berbagi Ilmu di Gerbang Pulau Garam  

Written by M. Subkhan
Wednesday, 14 July 2010 03:35

Pagi itu, Kamis 6 Mei lalu, matahari memanggang bumi Socah, Bangkalan, Madura. Di pintu gerbang Pulau Garam ini, langit terang benderang nyaris tanpa halangan barisan awan. Cuaca yang kurang bersahabat ini tak menghalangi langkah Mahrun dan Bilal, Ketua dan Sekretaris Kelompok Tani Karya Makmur, Desa Tengket, Arosbaya, Bangkalan, untuk menimba ilmu.

Dari Tengket, Mahrun dan Bilal berboncengan naik sepeda motor menuju kawasan Sembilangan, Socah. Mereka memenuhi undangan tim pengembang model Kelompok Studi (Pokdi) Pendidikan Masyarakat (Dikmas) BPPNFI Regional IV, untuk mengikuti diskusi kelompok terfokus. Diskusi itu digelar di sebuah rumah makan yang jaraknya sepelemparan batu saja dari Selat Madura.

Mahrun dan Bilal tak sendirian.
Ikut diundang pula Abdullah Hanafi MPd dari Universitas Negeri Malang (UM) selaku konsultan tim model, DR Imam Mukhlis dosen Fakultas Ekonomi UM, dan Sapto Andriyono, dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga, Surabaya. Selain itu, ada Muhammad Sony, Ketua Kelompok Tani Mangrove Wonorejo serta wakil dari Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Bangkalan.

Dari seluruh pembicara, paparan Muhammad Sony alias Muhson menarik banyak perhatian. Betapa tidak, sebagai seorang alumnus SMK jurusan kelistrikan, ia tak pernah menyangka kalau seperempat umurnya dihabiskan untuk mangrove seperti sekarang. Ibarat bumi dan langit, pria 47 tahun ini berurusan dengan hal yang berbeda 180 derajat dari latar belakangnya. Semua bermula ketika pria berkumis tebal ini hijrah bersama istri, Riyati dan tiga anak dari Bojonegoro ke Wonorejo, Surabaya, pada akhir 1997. Migrasi sejauh 120 Kilometer ini hanya untuk mencari pekerjaan.

Status sebagai mengantarkan Muhson terlibat dalam proyek pembangunan gardu induk tegangan ekstratinggi milik Perusahaan Listrik Negara. Selepas proyek itu, Muhson bekerja serabutan. Sampai akhirnya, ia bekerja pada sebuah proyek perumahan di dekat pantai Wonorejo pada 1998. Dilahirkan di tempat yang jauh dari pantai membuat Muhson penasaran. Demi memuaskan keinginannya menikmati pantai yang kini tak jauh dari rumahnya, dia memutuskan untuk melihat dari dekat.

Pada suatu akhir pekan, Muhson menggenjot sepedanya ke pesisir pantai Wonorejo. Apa daya, bayangan Muhson akan pantai yang indah jauh dari kenyataan. Aneka sampah rumah tangga menghiasi sekujur pesisir pantai berlumpur itu. Sebagian besar menutupi tunas-tunas bakau. Padahal, letak Pantai Wonorejo sangat strategis. Ia adalah muara Sungai Wonorejo dan Sungai Wonokromo.

“Muara adalah lahan subur untuk tanaman bakau,” katanya.

Atas dasar keprihatinan itu, Muhson memancangkan tekad untuk membersihkan sampah dari tunas-tunas bakau agar pertumbuhannya bisa optimal. Strategi pun dirancang. Setiap akhir pekan, Muhson bergerak sendirian ke tepi pantai untuk membersihkan sampah. Dia himpun sampah itu ke terpal raksasa yang dibelinya sendiri. Kewalahan membersihkan sampah sendiri, Muhson menyusun strategi lain. Dia dekati beberapa pekerja tambak untuk dimintai bantuan. Sebagai iming-iming, Muhson membawa rokok, serta puluhan nasi bungkus, dan air minum buatan sang istri. Makanan itu sengaja dibawa untuk menjamu makan siang para pekerja tambak.

Setelah tiga tahun berjuang membersihkan sampai, barulah Muhson menanam bibit-bibit bakau di pesisir Pantai Wonorejo. Bibit bakau diperoleh dari bogem (nama buah bakau dalam bahasa Jawa) yang berjatuhan di pantai. Dia meminta para pekerja tambak mengumpulkan bogem untuk dibelinya seharga Rp 25-50.

Sedikit demi sedikit, dalam tempo beberapa tahun, pesisir pantai Wonorejo mulai menghijau oleh hutan bakau. Bogem semula sekadar dimanfaatkan untuk bibit. Muhson belum mengetahui kalau buah sebesar bawang bombay ini bisa diolah menjadi produk pangan. Saat beristirahat di bawah rerimbunan pohon bakau pada 2007, Muhson mencium bau wangi laiknya buah apel dari jarak sepuluh meter. Penasaran, Muhson mendatangi asal bau. Teryata berasal dari bogem matang bekas gigitan hewan yang berjatuhan di akar bakau.

”Saya pikir manis, langsung saya gigit bogemnya. Ternyata kecut (asam),” tukasnya

Yakin bahwa ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan dari aroma harum itu, Muhson membawa pulang beberapa bogem.

”Kalau hewan saja suka, pasti ada sesuatu yang bisa dibuat dari bogem itu,” ungkapnya.

Selanjutnya, Muhson mengupas, mencuci, dan melumatkan bogem untuk diperas airnya. Proses berikutnya, air perasan bogem disaring lalu dicampur gula pasir. Jadilah sirup bogem. Rasanya manis-asam segar mirip sirup buah leci. Sirup ini kerap disajikan Muhson ketika menjamu tamu atau saat ada kegiatan kerja bakti warga.

”Ternyata banyak yang suka dengan sirup bogem ini,” ucapnya bangga.

Muhson makin bersemangat mengolah daging bogem. Melalui serangkaian eksperimen bersama kelompok taninya, Muhson berhasil membuat jenang dan tepung dari bogem. Namun, tidak semua jenis bogem bisa dijadikan makanan enak dan bergizi. Untuk sirup dan jenang, bogem yang cocok diolah adalah bogem jenis pedada (Sonneratia alba). Bogem ini mengandung banyak vitamin C namun rendah kalori. Khusus bogem linaur (Bruguiera gymnoriza) hanya bisa diolah menjadi tepung untuk dipakai sebagai bahan dasar kue. Kendati olahan bogem mereka makin dikenal luas, kemampuan pembuatannya masih terbatas di tingkat industri rumah tangga.

”Semua masih dikerjakan sendiri untuk menjaga kualitas,” tambah Muhson.

Harga jualnya beragam. Sirup dibandrol Rp 15 ribu per botol sedangkan jenang dipatok Rp 8 ribu per kotak. Untuk tepung, menurut Muhson, tidak dijual karena dimanfaatkan sebagai bahan baku ketika memberikan pelatihan.

Keberhasilan Muhson merehabilitasi pesisir pantai bergema luas. Dia kemudian diminta membantu rehabilitasi pantai di wilayah Gresik dan Sidoarjo.
Pengalamannya pun dibagi melalui pelatihan di berbagai wilayah di Indonesia.

Selesai membagi pengalamannya, Muhson dihujani pertanyaan. Mahrun dan Bilas bertanya lebih jauh mengenai teknis pengolahan bogem. “Kami belum mengolah bogen karena belum tahu bogen jenis apa yang tumbuh di daerah kami,” ujar Mahrun.

Muhson menanggapi dengan menyampaikan janji untuk membantu identifikasi bogem di wilayah Tengket. Lebih dari itu, Muhson menekankan pentingnya mengubah cara berpikir dari menebang bakau menjadi mengolah buah bakau.
Hanya dengan cara ini kelestarian lingkungan pesisir pantai dan rantai ekosistem akan terjaga. (mss)

Last Updated on Wednesday, 14 July 2010 03:54 

Powered by BPPNFI Regional IV Surabaya - East Java XHTML 

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page