Pendekar Mangrove dari Lampung

on Wednesday, December 26, 2012

Asihing Kustanti


ASIHING Kustanti melihat pepohonan dengan perakaran yang mencuat ke permukaan lautan itu sebagai nan objek eksotik. Baginya mangrove adalah simbol keteguhan hati.

Dalam pandangan Asihing, mangrove (bakau) adalah gambaran objek menarik, tetapi mampu menahan gempuran ombak. Hal ini menginspirasinya sejak kecil, terutama ketika ia sering berjalan-jalan dengan keluarga ke pantai ber-mangrove di Surabaya tempat kelahirannya.

Rupanya aktivitas jalan-jalan sepanjang pantai berbakau tetap dilanjutkan saat mengikuti praktek umum di tingkat sarjana di IPB. Waktu itu Asihing praktek di hutan bakau Cilacap, Jawa Tengah.

Kesenangan Asihing terhadap hutan mangrove makin menggila. Setelah Asihing lulus sarjana kehutanan IPB tahun 1995, Asihing menjadi dosen di Universitas Lampung. Di sini ia terlibat dalam upaya pelestarian 700 hektare hutan bakau.

Sepulang S-2 dari IPB, Asihing mengampu mata kuliah wajib Manajemen Hutan Mangrove di Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila sejak tahun 2002. Pada November 2004, kegiatan praktikum dilaksanakan di hutan bakau Desa Margasari, Lampung Timur.

Praktek di Hutan

Pada waktu itu mahasiswa praktek di hutan mangrove selama tiga hari, menginap di hutan bakau dengan menggunakan tenda. Melihat keseriusan mahasiswa melaksanakan praktek, Kepala Desa Sukimin (alm.) berinisiatif menyerahkan hutan bakau seluas 50 ha kepada Unila sebagai hutan pendidikan.

Tidak menyia-nyiakan inisiatif tersebut, Asihing langsung membuat surat kepada dekan Fakultas Pertanian Unila yang diteruskan ke rektorat dan suratnya mendapatkan tanggapan. Singkat cerita, hutan bakau dimasukkan ke program tripartit Unila, masyarakat, dan Pemkab Lampung Timur.

"Untuk mendapatkan hutan mangrove 700 hektare tidaklah mudah. Prosesnya memakan waktu cukup panjang dan melelahkan. Mulai dari audiensi, proses administrasi, penanganan konflik, dan negoisasi, berlangsung hampir satu tahun dengan pihak-pihak dari dinas teknis Pemkab Lamtim," ujar dia.

Namun, semuanya bisa diselesaikan dengan pendekatan komunikasi, keilmuan, dan koordinasi. Lahirnya MoU, naskah kerja sama, nota kesepahaman, dan penerbitan izin lokasi pengelolaan antara Universitas Lampung dan Pemkab Lamtim diserahterimakan pada 26 Januari 2006.

Ya, memang banyak sekali waktu yang dikorbankan, munculnya konflik, prasangka yang salah, tidak memahami pengembangan keilmuan, dan kelembagaan dalam pengembangan hutan bakau tersebut. Namun, itu semua bukanlah hambatan yang berarti.

"Asalkan kami melakukan sesuai keilmuan yang kami miliki dan dengan niatan yang baik maka semua hambatan itu akan menyingkir dengan sendirinya," ujar dia.

Integrasikan Manajemen Hutan Mangrove

Segera setelah masuk program tripartit, akhir Desember 2004, Asihing diminta presentasi di depan Muhajir Utomo, rektor Unila kala itu. Dia berbicara tentang program yang akan dikembangkan di hutan mangrove (bakau) yang diberinya nama Lampung Mangrove Center tersebut.

"Saya memaparkan tentang integrated management of mangrove forest management. Kenapa hal tersebut saya kemukakan karena melihat kondisi hutan yang berada di perbatasan daratan dan lautan yang melibatkan tidak hanya satu dinas teknis, tetapi bisa lebih banyak dinas teknis terlibat," ujar dia mengenang pertemuan itu.

Di depan Rektor, Asihing berargumen integrasi perlu dilakukan supaya tidak ada tumpang tindih aktivitas yang memboroskan anggaran. Tujuan akhirnya, efisiensi dan efektivitas pembangunan. Setelah memaparkan program, Rektor menyetujui dan segera dilakukan audiensi di Kabupaten Lampung Timur oleh tim tripartit mangrove Unila.

Kemudian, disusunlah program bersama yang akan dijadikan acuan dalam pengembangan Lampung Mangrove Center. Setidaknya ada enam program bersama waktu itu, salah satunya adalah terbangunnya Mangrove Center Building sebagai aktivitas penelitian dan pengembangan mangrove skala nasional bahkan internasional.

Selanjutnya, pembangunan jejaring kerja mangrove nasional dan internasional telah dilakukan pada 2009. Balai Pengelolaan Hutan Mangrove II Wilayah II Kementrian Kehutanan dan Subsectoral Program on Mangrove?Japan International Cooperation Agency (JICA) juga telah berkiprah di LMC.

Sejak tahun 2010, Asihing melanjutkan studi S-3 dengan spesialisasi kebijakan pengelolaan hutan bakau di Lampung Mangrove Center. Dengan rasa percaya diri, Asihing sampaikan ke promotor Asihing di IPB bahwa pengelolaan di LMC telah berlangsung secara berkelanjutan (sustainable) sampai saat ini, dari 2004 sampai 2012.

Dia baru saja menyelesaikan analisis penelitian tentang peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan hutan bakau di Forest Policy and Nature Conservation, Forestry Faculty, University of Gottingen, Germany, di bawah bimbingan Maximilian Krott.

Krott menunjukkan antusiasme dengan memberikan judul pada draf jurnal internasional Asihing yaitu Actors, Interests, and Conflict in Sustainable Mangrove Forest Management?A Case from Indonesia. Nama Lampung Mangrove Center, Universitas Lampung, Kabupaten Lampung Timur, dan Provinsi Lampung didengar di Jerman.

Bahkan, para anggota tim profesor di Jerman tidak percaya akan adanya kerja sama yang telah berlangsung cukup lama yaitu selama delapan tahun berjalan (2004?2008). Asihing melakukan studi tentang pengelolaan hutan bakau di dunia, ternyata pengelolaan hutan mangrove bersama masyarakat, Universitas Lampung, dan Kabupaten Lampung Timur, merupakan contoh yang sangat bagus dibandingkan negara-negara di dunia lainnya.

Di Tanzania, Afrika Timur, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang masih karut-marut atau tumpang tindih kegiatan di antara dinas teknis dalam pengelolaannya. Kita perlu berbangga hati karena pengelolaan yang berjalan selama delapan tahun ini bisa memberikan warna pada pengelolaan hutan bakau di dunia.

Asihing yakin, jika hutan mangrove 700 hektare mendapat dukungan seluruh sivitas akademika Unila, almamaternya akan dapat mengalahkan Fakultas Kehutanan Gadjah Mada dan Institut Pertanian Bogor dalam hal ihwal mengenai mangrove.

Selama memperjuangkan 700 hektare hutan bakau dan menjaga keberlanjutannya untuk kepentingan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan, bukannya tanpa hambatan. Namun, bila kita memang sudah berniat tulus dan mengembangkan keilmuan berdasarkan kemampuan yang kita miliki, insya Allah pasti ada jalan keluar walaupun sesulit apa pun hambatan yang menghalang. "Tuhan beserta orang-orang yang tulus," ujar dia optimistis. (ABDUL GOFUR/S-2)

BIODATA
Nama : Asihing Kustanti
Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 27 September 1971
Agama : Islam
Alamat : Jalan Cendana 50 Bataranila, Bandar Lampung
Pendidikan :
- Sandwich Like DIKTI ke Departemen Kebijakan Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Gottingen Jerman tentang Actors, Interests, and Conflict in Sustainable Mangrove Forest Management in Lampung Mangrove Center?A Case From Indonesia, 2012.
- Menempuh pendidikan Program Doktor pada Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian (IPB) Bogor, 2010-sekarang.
- S-2 Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, 1999-2002.
- S1-Manajemen Hutan, Institut Pertanian Bogor (IPB), 1990-1995
- SMA Negeri 5 Surabaya, 1987?1990
- SMP Negeri 3 Surabaya, 1984?1987
- SD Negeri Petemon XII Surabaya, 1978?1984

Pengalaman Kerja :
- Kepala Pusat Penelitian Pesisir dan Kelautan Unila, 2008-2010
- Koordinator Model Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat di Lampung Mangrove Center kerja sama Universitas Lampung, BPHM Wilayah II Sumatera, Sub Sectoral Program on Mangrove-JICA (Japan International Cooperation Agency), 2008?2010
- Ketua Tim Pengelolaan Terpadu Hutan Mangrove Pantai Timur Unila (kerja sama Pemda Lamtim, masyarakat, dan Unila), 2005-2010
- Tim Redaksi Warta FP Universitas Lampung 2004-2009
- Sekretaris Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 2004-2008
- Ketua Tim Pelaksana Praktek Umum Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 2003-2005
- Kepala Laboratorium Silvikultur dan Perlindungan Hutan FP Unila, 2002-2004
- Dosen Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 1997?sekarang
- Staf of AMDAL PT Selaras Rona Consultant, Jakarta, 1995-1997


Sumber:
Inspirasi, Lampung Post, Senin, 24 Desember 2012

"Amunisi" pendukung utama untuk survey lapangan

on Monday, December 19, 2011


Sebuah proses panjang, seyogyanya menjadi prasyarat untuk sebuah kegiatan konservasi mangrove. Menentukan lokasi tanam, yang kemudian dilajutkan dengan proses pengamatan medan, mengamati karakteristik pasang surut, serta tidak ketinggalan tingkat aktifitas masyarakat di sekitar kawasan yang direncanakan akan ditanami mangrove. Semua data tersebut harus terangkum sebagai sebuah bahan awal, untuk menentukan perencanaan kegaiatan penanaman mangrove sebagai agian dari sebuah gerakan nyata konservasi pesisir.
Beragam data, kondisi medan yang harus dilalui para surveyor, tentu saja sangat menguras tenaga. Secara otomatis, konsentrasi yag pada ujungnya mempengaruhi ketajaman daya ingat, juga dapat berkurang. Padahal informasi di lapangan itulah yang seharusnya dikompilasi untuk pada akhirnya menjadi landasan dalam bertindak. Kehadiran media bantu, seperti ultrabook-notebook tipis, tentu saja sangat memudahkan proses kompilasi data. Media penyimpanan sekaligus pengolahan data, yang dengan gampang dipindahkan, dan tidak memperberat beban punggung para surveyor yang pastinya menghadapi medan yang cukup berat dan menguras energi.
Kehadiran ultrabook-notebook-tipis ini juga dapat menjadi penghibur dikala lelah, diantara kaitan akar mangrove yang saling membelit, menghadirkan suasana yang menyegarkan.

Informasi tentang peran notebook yang sangat mendukung proses survey di laphttp://www.blogger.com/img/blank.gifangan ini, dapat dibuka melalui situ resminya, disini, sebagai produsen Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik.

Wahyono: "Kuncen" Mangrove Segara Anakan

on Tuesday, October 25, 2011

Thomas Heri Wahyono, perintis gerakan penghijauan mangrove di Kawasan Segara Anakan, Cilacap, Jateng. Foto : L Darmawan


"Hamparan mangrove di hutan dan tepian laguna bagi Anda mungkin tak ada artinya. Tetapi,saya yakin, menanam dan memelihara hutan mangrove di tanah dan kebun sendiri akan bermanfaat bagi kehidupan kita dan anak cucu di kemudian hari......"
OLEH GREGORIUS MAGNUS FINESSO
Kalimat tersebut menjadi "mantra' dalam hidup Thomas Heri Wahyono. Kalimat itu kembali diulang saat ia berjalan kaki melintasi hutan mangrove  menuju rumah semipermanen di Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah. Daerah pelosok ini berdekatan dengan bibir laut selatan kawasan laguna Segara Anakan.
     Kalimat itu pula yang menjadi pedoman Wahyono selama belasan tahun meyakinkan warga di sekitar laguna untuk menanami lahan mereka dengan mangrove (bakau). Kawasan ini mulai rusak akibat degradasi lingkungan.
     Bagi warga Kampung Laut yang rata-rata berpendidikan SD, semangat menanam mangrove yang tumbuh di benak Wahyono itu tidak lazim. "Desa, kok, malah dihutankan," katanya menirukan cibiran warga desa saat gerakan menanam mangrove dimulainya tahun 1999.
     Perjuangan pria tamatan SD ini dalam menghijaukan hutan berawal dari keprihatinan melihat desa kelahirannya kian gersang. Mengenang masa kecilnya, Wahyono merasa bahagia dengan hutan bakau di sekitarnya. hamparan pepohonan itu menjadikan lingkungan tempat tinggalnya kaya biota laut. Udang, kepiting, dan ikan begitu melimpah.
     Tak hanya asri, hamparan mangrove di sekitar Pulau Nusakambangan saat itu juga bermanfaat bagi warga yang hendak menggunakan kayu untuk rumah. Meski begitu, warga kampung Laut hanya mengambil kayu sesuai dengan keperluan mereka. 
Dihancurkan tambak
     Nostalgia Wahyono menjadi mimpi buruk kala 1995 puluhan investor dari Jawa Barat membabati hutan mangrove untuk tambak udang. Apalagi, warga setempat tertarik akrena mereka dimungkinkan memperoleh banyak uang sebagai pekerja tambak. tahun-tahun awal masyarakat menikmati hasilnya. 
     Namun, masa keemasan tambak udang tak bertahan lama. Sekitar tahun 1999, satu persatu tambak bangkrut. Serangan virus dan turunnya harga udang dunia memaksa investor angkat kaki dari Kampung Laut, meninggalkan ribuan hektar gundul.
     Tinggallah kampung Laut yang sebelumnya asri menjadi "gurun pasir", panas dan gersang. Tergugah mengembalikan keasrian alam, Wahyono mulai menanami mangrove di lahan bekas tambak itu seorang diri.
     "Awalnya, saya sendiri mencari biji mangrove dengan perahu ke hutan-hutan yang masih tersisa. Saya pergi siang, pulang malam. Setelah terkumpul banyak, saya menanami lahan bekas tambak dengan biji mangrove itu,"ungkap Wahyono yang sejak 2003 menjadi Kepala Dusun Lempong Pucung.
     Dia lalu mengajak kerabatnya untuk ikut menghijaukan lingkungan dengan mangrove. "Kali ini, ide saya diterima. Kami membentuk semacam kelompok,  namanya Keluarga Lestari, beranggota tujuh orang. Tujuannya sederhana, menghijaukan lingkungan mangrove yang rusak.," katanya bersemangat.
     Namun, gerakan penghijauan lahan di sekitar laguna tak mudah.Caci maki, bahkan tuduhan sebagian tetangga bahwa upaya menanam mangrove itu adalah proyek titipan yang hanya menguntungkannya harus dia hadapi. Wahyono tak menyerah.
     "Jika hutan mangrove lebat, ikan, udang, dan kepiting akan gampang  didapat. Itu pengalaman nyata panjenengan (Anda), bukan? Kalau butuh kayu, tinggal memotong ranting pohon mangrove yang besar. Tidak seluruhnya, agar pohon tidak mati," kata Wahyono setiap bertemu warga setempat.
Tanpa upah
     Gerakan penghijauan itu  lambat laun mampu menggugah kesadaran warga, bukan hanya warga di dusunnya, melainkan juga warga di desa tetangga, seperti Ujung gagak dan Klaces. Ia memanfaatkan setiap pertemuan dengan warga untuk bicara soal mangrove.
     Setelah menjadi kepala dusun, Wahyono pun punya kesempatan lebih besar untuk mengajak warga melestarikan mangrove. maka,terbentuklah kelompok Krida Wana Lestari pada 2004, yang lalu berubah nama menjadi Patra Krida Wana Lestari.
     "Sejak awal, saya sudah wanti-wanti untuk tak bicara upah. Apa yang kami lakukan ini tidak ada yang membayar. Kegiatan ini murni penghijauan, tak ada yang lain," katanya.
     Untuk menambah pengetahuan tentang mangrove, Wahyono mengikuti pelatihan dan lokakarya mengenai tumbuhan endemik perairan payau hingga ke luar daerah. Setiap mendengar ada seminar budidaya mangrove, dia mengajukan diri menjadi peserta.
     Dari berbagai seminar itu, wawasannya mengenai budidaya mangrove semakin luas. Ia jadi tahu bahwa memelihara mangrove jauh lebih sulit dibandingkan dengan saat menanam.
     "Saya bersama kelompok secara rutin membabati ilalang dan benalu yang tumbuh di sekotar mangrove. Cukup berat karena luas lahan yang ditanami mangrove mencapai 66 hektar.Kami melakukannya setiap Jumat," tuturnya.
Apresiasi
     Apa yang dilakukan kelompok itu mendapat perhatian banyak pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Cilacap hingga PT Pertamina unit Pengolahan IV di Cilacap.
     PT Pertamina memberikan pendampingan budidaya kepiting, mulai dari basket (rumah kepiting dari plastik tebal) sampai benih kepiting. Sekitar 33 anggota kelompok pun merasakan manfaat ekonomi dari hasil keringat selama bertahun-tahun.
     Kini, setelah berjalan sekitar 10 tahun, hampir semua halaman warga di Desa Ujung Alang, khususnya Dusun Lempong Pucung, ditanami mangrove, terutama jenis tancang (Bruguiera) dan bakau (Rhizophora) yang kokoh. Bibit-bibit mangrove diberikan Wahyono gratis kepada para tetangga.
     Kesadaran memiliki mangrove telah tertancap kuat dihati warga Kampung Laut. Jika ada warga dari luar kampung yang menebangi mangrove, warga setempat akan menyuruh mereka pergi. Luas lahan di sekitar laguna yang ditanami mangrove sekitar 65 hektar.
     "Itu belum termasuk yang ditanam secara mandiri oleh warga di sekitar rumah mereka," ujarnya.
     Maka, Kampung Laut berangsur kembali asri. Ikan dan udang berenang di celah-celah akar mangrove. Meski persoalan sedimentasi laguna terlalu besar untuk diatasi tangan Wahyono yang kian menua, setidaknya dia bersama kelompoknya telah memulai langkah kecil untuk menyelamatkan lingkungan.
Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 24 OKTOBER 2011
 
 
 
Lahir : Kecamatan Ujung Alang, Cilacap, Jawa Tengah, 8 Agustus 1965
Istri : Monica Tumirah (41)
Anak :
- Yuvita Reni Windiastuti
- Antoni Joni Rianto
- Andreas Aji Wibowo
- Rizki Tegar Saputro
Pekerjaan :
- Kepala Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut 
- Ketua Kelompok Patra Krida Wana Lestari
Pelatihan, antara lain :
- Pelatihan Peningkatan Keterampilan Kelompok Masyarakat Desa Tertinggal
  Cilacap, 2000
- Pelatihan Hutan Mangrove bagi Masyarakat Pesisir se-Indonesia, 2007
Penghargaan, antara lain :
- Tokoh Perintis Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, 2010
- Tokoh Perintis Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, 2010
 

Pertumbuhan benih mangrove, antara permintaan dan penyediaan

on Monday, February 7, 2011




Tulisan ini kami dedikasikan kepada dunia akademik, yang telah bersusah payah, melakukan penerapan teknologi demi perkembangan keilmuan di bidang mangrove. Walaupun masih belum mencapai hitungan puluan ribu, namun upaya kalangan akademik dan para peneliti dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang menggelayuti mangrove, patut diacungi jempol. Berikut catatan kami, mengenai hal terpuji tersebut.


Masalah mangrove, salah satunya, adalah masalah pertumbuhan. Pembenihan mangrove tergolong sangat lama, bahkan sampai sekitar 12 pekan (6 bulan) untuk mendapatkan bibit mangrove dengan 2 helai daun, terhitung sejak propagul. Sementara untuk mencapai taraf "propagul dengan satu tunas daun", propagul harus ditanam sekitar 45 hari (Yadi, 2005). Jika mempersiapkan bibit tanaman yang dikelola sendiri untuk memenuhi pesanan, membutuhkan waktu 6-8 bulan siap tanam. Sementara, pihak pemesan biasanya mematok waktu pemenuhan bibit, maksimal hanya 5 bulan. Padahal di lain hal, pemenuhan kebutuhan akan penyediaan bibit mangrove merupakan hal yang tak bisa dibantah, lebih-lebih untuk kawasan pantai yang mengalami krisis mangrove (sebuah realitas buruk yang terjadi di berbagai penjuru bumi). Di negara kita sendiri, tingkat kerusakan hutan mangrove sudah mencapai 68%. Kepedulian terhadap mangrove yang belakangan mengalami peningkatan, juga memberikan imbas kenaikan permintaan terhadap bibit mangrove siap tanam. Hal ini juga sekaligus memunculkan masalah baru, dimana permintaan yang sedemikian tingginya, ditambah lagi dengan terbatasnya waktu yang disediakan untuk memenuhi pemesanan bibit tersebut, sementara jumlah bibit yang tersedia tidak mencukupi.

Dunia kampus, ternyata tidak tinggal diam, menyikapi masalah tersebut. Dosen dan mahasiswa dari universitas Muhammadiyah Malang, pada tahun 2010 memunculkan ide untuk menerapkan kultur jaringan, sebagai salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif, kepada permasalahan penyediaan bibit mangrove. Sejatinya, kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan ditengarai mempunyai beberapa penanda, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Sampai saat tulisan ini diturunkan, sayangnya belum terdapat jawaban dari upaya ini.

Permasalahan penyediaan bibit rupanya juga cukup menyedot perhatian civitas akademika bilamana dirunut lebih kebelakang. Tiga dosen muda dari UNdip pada bulan November 2003, melaporkan usaha mereka untuk melakukan pembenihan mangrove jenis Rhizopora mucronata diatas rakit apung. Teknik ini mengacu kepada keberhasilan metode yang serupa kepada rumput laut pada tahun 2002. Sayangnya, teknik ini belum memberikan hasil yang menggembirakan.
Tahun 2005, laboratorium Atom dan Nuklir Jurusan Fisika FMIPA UnDip pada bulan Mei sd Oktober 2005, mencoba menjawab permasalahan tersebut. Peradiasian plasma propagul mangrove, dengan harapan dapat mempercepat pertumbuhan mangrove sebagai bentuk implementasi upaya perbaikan kualitas tumbuhnya. Pilihan mereka sebagai bentuk terapan teknologi plasma di bidang biologi tanam-tanaman ini, didasarkan kepada kesuksesan peradiasian terhadap biji sawi, yang terbukti menghasilkan peningkatan prosentase perkecambahan tanaman sawi, dan peningkatan pertambahan panjang hipokotil secara signifikan. Upaya serupa pada propagul mangrove dari species Rhizopora apiculata, sayangnya masih belum memunculkan hasil yang menggembirakan.

Sebagai penutup, kami berikan sebagai ilustrasi tentang besarnya bisnis pengadaan bibit mangrove. Pada tahun 2005, melalui sebuah saluran informasi terbatas, ketika itu Departemen Kehutanan mengadakan proyek rekonstruksi Pantura Jawa Barat dengan penanaman 36.5 juta pohon Mangrove (Bakau) setiap tahunnya, untuk 7.300 ha di tahun 2005. Para pebisnis, kala itu sudah mulai menawarkan kerjasama penanaman investasi untuk membuat pembibitan Mangrove di Kabupaten Indramayu, sebanyak 1.000.000 batang/tahun, dengan spesifikasi bibit siap salur: tinggi 30 cm dengan minimal 4 daun, senilai @ Rp.1.500,- dengan harga pokok @Rp.825,- perbatang. Jangka proyek mulai Agustus s/d Desember 2005, dengan modal awal yang diperlukan Rp.175.000.000,- dengan share-profit 30% bagi investor. Alih-alih mempercepat proses, penawaran tersebut juga menyasar laboratorium kultur jaringan yang memiliki kemampuan menduplikasi tanaman Mangrove.

Demikianlah, berbagai ide dan metode yang dapat kami paparkan, dalam menjawab sebuah permasalahan yang muncul dari upaya mulia untuk merehabilitasi kondisi mangrove di nusantara. Semoga saja, paparan singkat ini dapat memberikan inspirasi bagi perkembangan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, untuk menjawab berbagai permasalahan yang muncul, khususnya seputar budidaya mangrove.

bersambuung....
(dpp)

Mobil tangguh untuk melihat mangrove

on Monday, December 6, 2010

Dalam setiap perjalanan kami dalam menyebarkan ilmu ke"mangrove"an kepada khalayak luas, kami selalu gunakan kendaraan pendukung terbaik. Soalnya tidak mungkin bila kami harus direpotkan dengan kendaraan, sementara tugas kami dalam menyebarkan ilmu mangrove memerlukan konsentrasi yang cukup tinggi.



Logo Toyota SEO Award 2010

Membaca berbagai "buku" tentang mangrove

on Wednesday, December 1, 2010


Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.

Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca. Pembaca mangroveblog sekalian, untuk belajar tentang mangrove, anda juga perlu membaca, selain berdiskusi dengan para penggiat mangrove. Beberapa buku tentang mangrove dapat anda unduh dengan gratis melalui internet. Misalkan saja Mangrove Guidebook for Southeast Asia, yang diterbitkan FAO, yang bisa anda unduh disini, atau ada "pecahannya" yang bisa diunduh melalui ftp disini. Namun bagi anda yang merasa tidak memerlukan informasi di tingkat asia tenggara, maka anda dapat memilih buku terbitan Wetlands Indonesia tentang Panduan pengenalan mangrove di Indonesia (2006) disini. Atau anda lebih tertarik untuk mencari pengetahuan seputar olahan berbahan baku mangrove yang diterbitkan oleh Mangrove Action Project, Cooking with Mangrove disini, atau yang file pdf aslinya terbitan dari Yayasan Mangrove Indonesia disini. Bilamana lebih berminat pada sisi penghutanan mangrove, silvofishery dan beragam tetek bengeknya, worldagroforestrycentre, memberikan buku pdf berbahasa Indonesia, sebuah kompilasi abstrak agroforestry di Indonesia, disini. Global Nature Fund, tahun 2007, juga mengeluarkan Mangrove Rehabilitation Guidebook, post Tsunami Restoration of Mangroves, Education & Reestablishment of Livelihoods in Sri Lanka, yang dapat anda unduh disini.


Dari website Mangrove Action Project, kita dapat mengunduh buku-buku mengenai penggunaan bahan baku untuk berbagai bangunan di kawasan mangrove yang relatf ramah lingkungan, berikut teknik mengawetkannya, sebagai sebuah hasil pengalaman project mereka di Sulawesi disini dan disini.

Bahan menarik buat kalangan akademik yang berminat terhadap mangrove, dapat diunduh disini, tentang Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa, yang diterbitkan oleh Jurusan FMIPA, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2002, sebagai peuntun praktikum analisis vegetasi di kawasan ekosistem mangrove.



Anda juga dapat menikmati dua karya mini biografi dari, Soni Mohson, salah satu pionir dalam konservasi mangrove di pantai timur Surabaya, dalam bentuk pdf, yang berjudul Tak Kenal menyerah disini atau atau Aku, anugerah dan Mangrove disini

Ada lagi satu buku yang cukup menarik, dari Six Senses Resorts & Spas, sebuah konsorsium resort dan spa management, yang memiliki jaringan cukup luas mulai dari Maldive, Thailand, Vietnam, Oman, Jordan, dan Spanyol. Tentang bagaimana bisnis ekoturisme yang berwawasan lingkungan disini. Mereka mengambil judul unik, The little green book.

Lebih menarik lagi, ada sebuah ilustrasi dalam bentuk animasi tentang proses kehidupan yang terjadi di ekosistem mangrove, yang sepertinya sangat berguna untuk penyuluhan kepada usia sekolah, disini. Bilamana untuk usia pra sekolah, bahan untuk kegiatan pengenalan mangrove, yakni dengan mewarnai berbagai species mangrove, disediakan oleh mangroveactionproject, dengan ijin dari JICA, disini. Delapan gambar hitam putih dari species Xilocarpus granatum, Sonneratia alba, Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, Ceriops tagal, Brugueira gymnorrhiza, Avicennia marina, Aegiceras corniculatum, dapat menjadi bahan ampuh untuk penyuluhan mengenai mangrove sampai ke tingkat taman kanak-kanak.

Sumber Pustaka
Friendsofmangrove, Mangroveactionproject, Worldagroforestrycentre, FAO, Globalnature, Oneocean, Sixsenses

Keluarga besar Sonneratia

on Monday, November 29, 2010



Salah satu spesies "menarik" yang hidup di kawasan ekosistem mangrove adalah Sonneratia. Di dunia, Sonneratia memiliki anggota 20 spesies, namun di Indonesia lebih mudah menemukan 3 spesies dari genus Sonneratia, yaitu : Sonneratia alba, S. caseolaris, dan S. ovata. Salah satu jenis mangrove yang dimanfaatkan buahnya yaitu jenis pedada (Sonneratia caseolaris) yang hidup dan tumbuh di hutan mangrove. Tanaman ini memiliki daun berbentuk elips dan ujungnya memanjang dengan tulang daun berbentuk menjari. Bunga memiliki kelopak bunga mengkilat dan hijau serta datar dengan benang sari berwarna merah dan renggang. Buah ini memiliki morfologi yang sangat unik berbentuk bulat dengan diameter 6-8 cm. Namun demikian, warga asli di seputaran ekosistem mangrove, memberikan berbagai nama daerah antara lain pedada, perepat, pidada, bogem, bidada, posi – posi, wahat, putih, berapak, bangka, susup, kedada, muntu, pupat dan mange – mange. Wikipedia mencatat, bahwa Sonneratia sudah tidak masuk lagi kedalam suku Sonneratiaceae, tetapi telah menjadi suku Lythraceae.

Sonneratia memiliki "perawakan" sebagai pohon besar yang memiliki banyak sekali akar berbentuk serupa pensil yang mencuat ke atas. Bentuk akar ini merupakan bentuk adaptasi sonneratia untuk bernafas mengambil udara, karena kondisi tanah mangrove yang anoksik. Secara langsung bisa dikatakan kondisi anoksik adalah kondisi beracun, tapi arti sebenarnya dari anoksik adalah kurang oksigen atau tidak ada oksigen. Hal ini disebabkan ketidakberadaan oksigen di satu tempat bisa membuat satu pohon (dalam hal ini mangrove) bisa mati, oleh karena itu sonneratia "membuat" mekanisme akar nafas


Taman Nasional Baluran, memiliki koleksi sonneratia dari jenis alba (disana dikenal dengan nama Pedada). Pohon Pedada yang ada di TN Baluran memiliki ukuran keliling + 927 cm (9,27 m), tinggi bebas cabangnya + 15 m dan tinggi totalnya mencapai 25 m. Dapat dikatakan dengan ukurannya yang besar itu maka pohon Pedada ini merupakan yang terbesar di Indonesia atau mungkin di dunia. Hal ini didasari oleh pendapat Bapak Ir. Suwendra yang pada awal tahun 1990-an menjabat sebagai Kepala Seksi Pemanfaatan di Taman Nasional Baluran. Sebelum bertugas di Baluran, beliau pernah mengukur tanaman mangrove se- Indonesia dan menurut data yang ada pada waktu itu tercatat bahwa jenis pohon Sonneratia alba (Pedada) yang terbesar berada di Papua, dengan keliling pohon + 3 meter. Dan saat beliau mengukur pohon ini pertama kali diawal 90-an, kelilingnya masih + 4,5 meter. Pantai timur surabaya, memiliki dua jenis dari keluarga sonneratia, yakni dari jenis alba (Bogem prapat) dan caseolaris (bogem)

Sesama keluarga sonneratia, ternyata memiliki sifat yang berbeda-beda. Jenis alba, dikenal sebagai pionir, dan tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama. Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang padat. Sementara caseolaris memiliki kemiripan dengan jenis ovata, menyukai bagian yang kurang asin di hutan mangrove, pada tanah lumpur yang dalam, seringkali sepanjang sungai kecil dengan air yang mengalir pelan dan terpengaruh oleh pasang surut. Tidak pernah tumbuh pada pematang/ daerah berkarang. Juga tumbuh di sepanjang sungai, mulai dari bagian hulu dimana pengaruh pasang surut masih terasa, serta di areal yang masih didominasi oleh air tawar.

Sonneratia dikenal memiliki banyak manfaat, dan kegunaan. Primata pada umumnya sangat menyukai buah sonneratia yang rasanya asam ini. Mereka bahkan sudah mampu memilih, hanya buah yang matang saja yang bisa dimakan. Selain itu hewan pemakan buah yang lain, seperti kelelawar maupun burung, juga ikut menjadi 'penggemar" buah ini. Sementara manusia, dengan belajar dari kera, telah mampu mengolah sonneratia dari jenis caseolaris untuk diolah menjadi sirup. Di Sulawesi, kayunya dibuat untuk perahu dan bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain, karena kayunya berkualitas rendah dan memiliki serat yang padat, jadi sulit untuk memanfaatkan kayu pohon pidada ini sebagai bahan baku mebel. Akar nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.


Kalangan akademik juga tidak mau ketinggalan, terus meneliti manfaat spesies ini. Ilmuwan dari IPB mencoba mengekstrak daun, kelopak, buah dan biji Sonneralia alba dan S. caseolaris sebagai bahan alami antibakterial terhadap patogen Udang Windu, Vibrio harveyi. Sementara penggunaan ekstrak Rambai Bogem (Sonneratia alba) untuk menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila penyebab MAS (Motile Aeromonas Septicemia)”, pernah dilakukan mahasiswi fakultas Perikanan, Universitas Lampung. Dalam buku Mangrove Guidebook for Southeast Asia, disebutkan bahwa di Papua Nugini telah ditemukan persilangan Sonneratia caseolaris dengan Sonneratia alba, yang dinamai Sonneratia X gulngai.

Terhadap lingkungan pesisir, sonneratia dari jenis alba dikenal sebagai tumbuhan perintis atau reklamasi. . Secara tidak langsung tumbuhan pidada maupun tumbuhan bakau lainya dapat mencegah erosi dan abrasi pantai dari pasang surut air laut, selain itu tumbuhan ini akan menjadi tempat tinggal hewan-hewan rawa, seperti kepiting, udang, kerang ikan, dan lain-lain. Pengetahuan yang memadai terhadap berbagai jenis spesies mangrove, akan memberikan manfaat yang besar bagi berbagai kalangan pendidikan dan organisasi yang ingin melakukan restorasi ekosistem mangrove di sekitar tempat mereka, dengan teknik replanting, dengan lebih mengedepankan fungsi, jenis dan keberadaan lahan yang akan ditanami. Pengetahuan tersebut akan memberikan kita pemahaman yang cukup, bahwa penanaman mangrove tidaklah sekedar seremonial, mengejar kecepatan tumbuh mangrove yang akan ditanam, namun juga memperhitungkan kebutuhan ekosistem terhadap jenis mangrove yang paling sesuai untuk ditanam, karena dalam ekosistem mangrove, terdapat zonasi yang membuat ekosistem mangrove tersebut dapat memfungsikan dirinya secara optimal sebagai penahan ombak, dan lain sebagainya.

Sonneratia alba

A. Umum
1. Komponen: termasuk komponen utama/mangrove mayor
2. Bentuk: pohon/perdu. Tinggi mencapai 16 m
3. Akar: akar nafas, berbentuk kerucut
4. Daun: susunan tunggal, bersilangan; bentuk oblong sampai bulat telur sungsang; ujung membundar sampai berlekuk; ukuran panjang 5 – 10 cm
5. Tipe biji: biji normal
6. Lainnya: bagian atas dan bawah permukaan daun hampir sama
7. Kulit kayu: halus, retak/celah searah longitudinal, warna kulit krem sampai coklat
8. Ciri khusus: tangkai daun pada bunga dewasa berwarna kuning, helai kelopak menyebar atau sedikit melengkung ke arah buah (pada S. ovata helai kelopak tegak pada buah)
9. Fenologi: berbunga sepanjang tahun (antara 3 – 4 bulan); berbuah pada bulan Mei – Juni dan Oktober – November; pembuahan sampai masak memakan waktu 2 – 3 bulan
10. Spesies yang mirip: S. caseolaris, S. ovata
11. Habitat: tumbuh di lumpur berpasir di muara sungai, sering ditemukan di daerah tepian yang menjorok ke laut, daerah dengan salinitas relatif tinggi

B. Bunga
1. Rangkaian: 1 sampai beberapa bunga bersusun, di ujung atau cabang/dahan pohon
2. Mahkota: putih
3. Kelopak: 6 – 8 helai, merah dan hijau
4. Benang sari: banyak, putih
5. Ukuran: diameter 5 – 8 cm
6. Lainnya: bunga sehari (ephemeral), terbuka menjelang malam hari dan berlangsung sepanjang malam, mengandung banyak madu pada pembuluh kelopak

C. Buah
1. Ukuran: diameter 3,5 – 4,5 cm
2. Warna: hijau
3. Permukaan: halus
4. Lainnya: kelopak berbentuk cawan, menutupi dasar buah, helai kelopak menyebar atau melengkung, berisi 150 – 200 biji dalam buah

Sonneratia caseolaris

A. Umum
1. Komponen: termasuk komponen utama/mangrove mayor
2. Bentuk: pohon, tinggi mencapai 16 m
3. Akar: akar nafas, berbentuk kerucut, tinggi dapat mencapai 1 m
4. Daun: susunan tunggal, bersilangan; bentuk jorong sampai oblong; ujung membundar, dengan ujung membengkok tajam yang menonjol; ukuran panjang 4 – 8 cm
5. Tipe biji: biji normal
6. Lainnya: ranting menjuntai
7. Kulit kayu: halus
8. Ciri khusus: bunga dewasa memiliki tangkai daun pendek dengan dasar berwarna kemerah-merahan, benang sari berwarna merah dan putih, akar nafas yang berkembang dengan baik dapat mencapai tinggi lebih dari 1 m, lebih tinggi dibandingkan S. alba
9. Spesies yang mirip: S. alba, S. ovata
10. Habitat: tumbuh di tepi muara sungai terutama pada daerah salinitas rendah dengan campuran air tawar

B. Bunga
1. Rangkaian: 1 sampai beberapa bunga bersusun, di ujung
2. Mahkota: merah
3. Kelopak: 6 – 8 helai, hijau
4. Benang sari: tak terhitung, merah dan putih
5. Ukuran: diameter 8 – 10 cm
6. Lainnya: bunga sehari (ephemeral), terbuka menjelang malam hari dan berlangsung sepanjang malam, mengandung banyak madu pada pembuluh kelopak

C. Buah
1. Ukuran: diameter 6 – 8 cm
2. Warna: hijau kekuning-kuningan
3. Permukaan: mengkilap
4. Lainnya: kelopak datar, memanjang horisontal, tidak menutupi buah, helai kelopak menyebar, buah lebih besar dari S. alba, mengandung 800 – 1200 biji dalam buah, dapat dimakan




Sumber:
Wikipedia
Wetlands
Proseanet
Kesemat
TN alas purwo
Blog Si ken arok
IPB
Blog Iqbal
Blog lidiabayang

Ekoturisme di ekosistem Mangrove pantai Timur Surabaya?

on Tuesday, November 16, 2010


Pernahkah anda melihat logo seperti disamping? Paling gampang adalah dengan mencarinya melalui google. Anda akan menemukiannya secara lebih mudah berkat bantuan mesin pencari tersebut.

Lalu bagaimana di Pantai Timur Surabaya? Apakah ada yang merindukan hadirnya sebuah lembaga dengan sertifikasi ramah lingkungan di pantai timur Surabaya? Apa pentingnya sertifikat ini buat ekosistem? Sepertinya akan mempersulit aktifitas arek2 Suroboyo dalam menikmati mangrove ya? Atau kayaknya itu sekedar akal2 asing belaka?

Bisnis ekoturisme, sebenarnya memiliki keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan dari konservasi alam. Apalagi mengambil tempat di kawasan hutan mangrove, yang secara luas dikenal, memiliki catatan tingkat kerusakan yang sangat tinggi. Konservasi alam sendiri, sebenarnya merupakan upaya mempertahankan keaslian serta keasrian tatanan alam sehingga manusia dan makhluk hidup lainnya dapat tetap hidup dan terpelihara dengan baik. Eksplorasi dan elaborasi ecotourism (ekoturisme), merupakan salah satu bentuk pengusahaan konservasi alam. Pengembangan ekoturisme bukan saja sejalan dengan isu penanganan kerusakan ekosistem mangrove yang tiap hari digembar-gemborkan di negeri ini, tetapi juga sejalan dengan terus merebaknya berbagai isu yang berorientasi pada pemeliharaan lingkungan alam di berbagai belahan dunia.

Paradigma pelestarian alam perlu dipikirkan untuk ditata ulang sehingga bukan saja menjadi kewajiban pemerintah, namun seluruh komunitas idealnya bersatu padu. Kesadaran akan pelestarian alam perlu dibentuk dari bawah. Oleh karena itu, perlu membangun konsep dan menerapkan prinsip-prinsip penyadaran komunitas untuk pelestarian alam yang antara lain melalui ekoturisme. Isu mana saja yang melatarbelakangi pengembangan ekoturisme itu? Apa sebenarnya ekoturisme tersebut? Bagaimana mengeksplorasi dan mengelaborasi ekoturisme?

Perkembangan industri pariwisata merupakan salah satu isu utama dari isu 4T dalam milenium ketiga. Keempat T tersebut adalah Transportation, Telecommunication, Tourism dan Technology. Artinya, pariwisata menjadi salah satu industri yang akan tumbuh dan dominan di berbagai belahan dunia pada milenium ketiga. Industri pariwisata selama milenium ketiga memiliki peran dan makna begitu tinggi dalam aspek kehidupan manusia.


Selain isu di atas, pemeliharaan lingkungan alam tiada hentinya menjadi isu penting dalam berbagai forum dunia. Lingkungan alam dijadikan basis pengembangan hampir keseluruhan industri. Pariwisata merupakan salah satu industri yang tidak luput dari tuntutan aplikasi pengembangan industri berwawasan pemeliharaan lingkungan alam tersebut.

Kerangka berpikir dan bekerja industri pariwisata berubah menjadi, bagaimana mengembangkan pariwisata tanpa mengubah dan merusak alam. Perumusan kerangka pengembangan pariwisata berwawasan pemeliharaan lingkungan adalah hal mendesak yang perlu direalisasikan. Makin mencuatnya isu pemeliharaan dan pelestarian alam diekspresikan antara lain dalam bentuk greenspeak. Greenspeak itu sendiri berkonotasi mendalam untuk kemaknaan “alam yang hijau dan terpelihara.” Oleh karena itu, serta-merta muncul isu go green. (Cooper;1997;WTO;2000).

Isu lain yang telah lama mengglobal adalah back to nature yang tidak luput menyentuh pengembangan pariwisata. Kembali ke alam menjalar bukan saja di negara-negara maju, tetapi juga masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Indonesia memiliki kekayaan alam lebih dibanding negara lainnya di dunia. Alam hijau baik alam hutan maupun tanaman rekayasa manusia begitu melimpah. Dengan demikian Indonesia berpeluang membangun kepariwisataan yang berkelanjutan melalui pemeliharaan lingkungan alam.

Makna ekoturisme
Ekoturisme merupakan istilah berkonotasi pariwisata berwawasan lingkungan alam. Jenis wisata ini termasuk suatu bentuk pariwisata alternatif yang bertanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan alam sekitarnya. World Tourism Organization (WTO) sebagai badan dunia kepariwisataan menggulirkan isu ekoturisme sejalan dengan manuver konservasi alam di berbagai belahan dunia.

Pemahaman masyarakat terhadap ekoturisme tidak jarang menyimpang dari makna yang sebenarnya. Ecotourism merupakan gabungan dari ecologycal dengan tourism. Ekologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya. Di Indonesia khususnya, keilmuan ini secara umum relatif belum berkembang sebagaimana diharapkan. Ilmu ini lebih banyak berkaitan erat dengan tatanan kehidupan manusia, baik manusia secara pasif sebagai bagian dari alam maupun manusia sebagai elemen aktif yang dapat merekayasa alam. Berbagai kegiatan kehidupan manusia yang berkaitan erat dengan ekologi antara lain kehidupan ekonomi, sosial, maupun budaya. (Hardesty;1977; Soewarno;2000).

Ecotourism atau ecologycal tourism diterjemahkan menjadi wisata ekologi, lengkapnya pariwisata ekologi, berarti bertanggung jawab atas perjalanan wisata ke area alam yang mampu memelihara lingkungan, serta bertanggung jawab untuk memelihara keberadaan manusia dan mahluk hidup di sekitarnya untuk tetap hidup aman dan nyaman dalam lingkungannya (Blangly dan Megan;1994). Tentu berbeda dengan hanya sekadar wisata alam. Karena itu penyetaraan makna ekoturisme dengan ‘wisata alam’ tentu saja tidak tepat.

Ekoturisme maknanya setara dengan pariwisata yang berwawasan konservasi lingkungan. Sementara itu, wisata alam adalah kegiatan berwisata di dalam lingkungan alam.

Apakah suatu kegiatan wisata alam merupakan ekoturisme? Mungkin ya mungkin tidak! Ini lain perkaranya! Kegiatan wisata alam umpamanya arung jeram, pendakian gunung, wisata selam, wisata tirta, berperahu ke kawasan mangrove dan sejenisnya. Seluruh contoh wisata alam tersebut belum tentu dapat dikualifikasikan ekoturisme. Mungkin saja pendakian gunung menimbulkan kerusakan pada lingkungan dan keaslian alam pegunungan tersebut. Oleh karena itu, wisata seperti itu tidak masuk kualifikasi wisata berwawasan pelestarian lingkungan alam. Karena itulah, ekoturisme ini sarat oleh aspek primer yakni, mengelaborasi alam untuk kepentingan pariwisata tanpa menurunkan kualitas alam, atau mengubahnya menjadi wujud intervensi penyebab degradasi ekosistem.

Tema mass tourism berubah dari sun, see, sand menjadi tema trilogi yang berorientasi pada alam yakni nature, nostalgia, nirvana (Cooper;1997). Aspek alam atau nature merupakan daya tarik wisata yang asli atau prestine form. Keaslian alam disajikan dan ditawarkan untuk menciptakan pengalaman wisata bermakna. Misalnya membiarkan dan tetap melestarikan keindahan alam bawah laut di Bunaken.

Demikian halnya dengan aspek nostalgia, berbasis pada romantika sosial yang konstruktif atau menggambarkan realita utuh menyokong kekokohan daya tarik alam sebenarnya atau ecofundamentalism. Seperti, budaya masyarakat Baduy dan Dayak Pedalaman yang memiliki rasa rawat atau malire alam.

Sementara itu, nirvana merupakan istilah pengganti dari paradise atau surga yang telah lama dikenal dalam tema kepariwisataan tradisional. Nirvana ini dimaksudkan agar wisatawan dapat melepaskan segala kerisauan pikiran dan hatinya, sehingga dalam tahap akhir mereka memperoleh kesehatan spiritual. Misalnya, ketika memandang hamparan panorama keutuhan dan keindahan alam, maka tergeraklah hatinya dan menyadari betapa agungnya kebesaran Allah.

Paradigma hijau
Akumulasi dari isu yang berorientasi terhadap alam, mendorong perumusan paradigma baru dalam pariwisata yang terkait dengan alam. Paradigma hijau atau green paradigm merupakan salah satu paradigma yang sinergis untuk pengembangan ekoturisme (Weaver;2000).

Paradigma lingkungan yang telah lama dikenal di negara-negara Barat jika dibandingkan dengan paradigma hijau, terdapat perbedaan mendasar. Marilah kita toleh beberapa hal penting diantara lingkup paradigma hijau tersebut. Manusia yang dulu dianggap bukan bagian dari alam, kini dianggap sebagai bagian dari alam. Dulu manusia menjadi superior terhadap alam, kini berkedudukan setara alam. Dulu diyakini setiap kejadian di masa akan datang dapat diprediksi, namun kini masa depan alam dianggap sulit bahkan tidak dapat diprediksi.

Hal lain seperti penggunaan teknologi. Dulu teknologi lebih berorientasi pada penggunaan hard technology, kini sebaliknya lebih pada soft technology. Berdasarkan paradigma hijau ini, maka bukan saja sebagai upaya ‘proksi’ atau program yang mirip-mirip, bahkan kepura-puraan deudeuh pada lingkungan alam, namun absolut dalam bentuk “perwujudan” wisata berbasis konservasi alam.

Prinsip ekoturisme
Suatu kegiatan pariwisata dapat dikategorikan pariwisata ekologi jika memenuhi 5 prinsip ekoturisme (Cooper;1997). Kelima prinsip tersebut, 1) prinsip sustainable adalah pariwisata yang berkonsentrasi pada penyokongan pelestarian alam, 2) bahwa lingkungan alam harus aman dan terjamin keselamatannya untuk dijadikan harta warisan bagi generasi mendatang. 3) pemeliharaan beragam mahluk yang ada di sekitarnya, baik manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lainnya apa pun yang berasal dari alam dan hidup di alam bersangkutan. Keragaman makhluk hidup diyakini dapat bertahan jika secara ekosistem terjaga. 4) merumuskan perencanaan secara holistik dan mengimplementasikannya secara holistik pula. Harmonisasi alam dengan manusia dan totalitas lingkungannya (environmental integrity) harus jadi kenyataan. 5) carying capacity, artinya seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pariwisata tersebut mendapat manfaat. Tingkat kemanfaatan harus diperoleh baik secara dimensional bagi penyedia maupun bagi wisatawan.

Berdasarkan pemenuhan prinsipnya, pengembangan pariwisata berbasis pemeliharaan lingkungan ini dapat diketegorikan dalam hard ecotourism dan soft ecotourism. Hard ecotourism merupakan pengembangan wisata ekologi tanpa mengubah kondisi alam sekitarnya, tanpa penambahan aksesori apa pun yang menjadi daya tarik maupun sarana dan prasarana di tempat bersangkutan. Kondisi ini tentu amatlah berat. Jenis ini cocok dikembangkan di beberapa tempat umpama di daerah Kalimantan atau beberapa pulau kecil yang dimiliki Indonesia maupun di kawasan cagar alam, taman nasional, dan sejenisnya.

Sementara itu, jenis kedua menuntut perysaratan tidak seberat jenis sebelumnya. Tipe ini tentu lebih banyak diminati, namun demikian penerapan prinsip konservasi tetap menjadi panduan dalam mengembangkan jenis wisata ini.

Komunitas ekoturisme
Pengembangan pariwisata ekologi yang hati-hati (elaborasi) untuk kelestarian lingkungan tidak lepas dari dukungan komunitas di sekitarnya, baik dari masyarakat biasa maupun para pelaku dalam lingkungan industri dan pemerintahan. Beberapa pihak yang terinstitusi dalam pengembangan ekoturisme yang dikenal di Indonesia antara lain WALHI, ASITA, PHRI, HPI, PUTRI, pemda, Departemen Kelautan, Kehutanan, Kantor Lingkungan Hidup, LSM bidang lingkungan hidup, serta organisasi masyarakat setempat.

Pengembangan ekoturisme memerlukan kerja terpadu antara berbagai komponen masyarakat. Karena itu, perumusan berbagai kebijakan serta implementasinya, perlu melibatkan pihak terinstitusi untuk bekerja sama dalam suatu wahana. Wahana ini idealnya dibangun berdasarkan konsep bottom-up. Wadah yang dibentuk perlu dinasionalisasikan untuk membumikan ekoturisme di seluruh penjuru Tatar Nusantara ini.

Hal lain yang perlu diimplementasikan adalah prinsip-prinsip ekoturisme sehingga dengan aplikasi prinsip ini di samping akan banyak meraup devisa juga lingkungan alam tetap terjaga.

Beberapa hal penting perlu mendapat perhatian dari semua pihak terkait, 1) pengembangan ekoturisme perlu diyakini dan disadari berkontribusi menopang pelestarian lingkungan alam. 3) pengembangan ekoturisme perlu dibangun melalui totalitas upaya kebersamaan yang integral dalam suatu wahana komunitas kepariwisataan. 4) adanya kebutuhan mendesak membentuk asosiasi untuk mewahanai berbagai elemen yang terkait dalam pengembangan ekoturisme khususnya di tingkat daerah. 4) pelestarian lingkungan hendaknya menerapkan paradigma bottom-up yang dilengkapi konsep Atur-Diri-Sendiri (ADS) oleh komunitas ekoturisme. 5) perlunya mengembangkan ekoturisme secara hati-hati (elaborasi) agar lingkungan alam dan budaya masyarakat setempat tetap terjaga.

Bagaimana dengan pantai timur Surabaya sendiri?
Apakah aktifitas wisata baik yang berlabel ekowisata maupun bukan, sudah memenuhi kriteria seperti yang kami paparkan diatas? Apakah dengan kondisi pelayanan wisata yang kami yakin sudah sangat dikenal khalayak surabaya ini, dapat menambah pemahaman terhadap mangrove dengan wawasan yang lebih luas. Atau apakah ditemukan adanya kerjasama yang berkesinambungan antara berbagai organisasi lingkungan khusus di bidang mangrove, seperti Wetlands Indonesia atau ecoton, dan jalinan dengan WWF Indonesia?

Cooper, secara gamblang, telah merumuskan kegiatan pariwisata yang dapat dikategorikan pariwisata ekologi, jika memenuhi 5 prinsip ekoturisme (Cooper;1997). Berdasarkan pemenuhan prinsipnya, pengembangan pariwisata berbasis pemeliharaan lingkungan ini dapat diketegorikan dalam hard ecotourism dan soft ecotourism. Hard ecotourism merupakan pengembangan wisata ekologi tanpa mengubah kondisi alam sekitarnya, tanpa penambahan aksesori apa pun yang menjadi daya tarik maupun sarana dan prasarana di tempat bersangkutan. Kondisi ini tentu amatlah berat. Jenis ini cocok dikembangkan di beberapa tempat umpama di daerah Kalimantan atau beberapa pulau kecil yang dimiliki Indonesia maupun di kawasan cagar alam, taman nasional, dan sejenisnya.

Ekoturisme di kawasan mangrove pantai timur Surabaya, seyogyanya mampu menjadi salah satu pilihan dalam mempromosikan lingkungan yang khas yang terjaga keasliannya sekaligus menjadi suatu kawasan kunjungan wisata. Potensi yang ada adalah suatu konsep pengembangan lingkungan yang berbasis pada pendekatan pemeliharaan dan konservasi alam. Konsep ini sangat unik dengan pengembangan dan pelibatan sector management yang terpadu serta seluruh stakeholders’ yang terkait. Namun pada prinsipnya cukup sederhana dengan pola management lingkungan yang rill.

Sekali lagi, konsep tersebut tidak akan terlepas dari:
1. Penataan Lingkungan Alami.
2. Nilai Pendidikan (Penelitian dan pengembangan).
3. Partisipasi Masyarakat Local dan Nilai Ekonomi.
4. Upaya Konservasi dan Pengelolaan Lingkungan.
5. Minimalisasi Dampak dan Pengaruh Lingkungan (tentunya dengan beberapa strategi khusus).

Mangrove sangat diakui memiliki nilai potensil yang sedemikian besar bagi pengembangan konsep ekoturisme ini. Kondisi mangrove yang sangat unik, sangat cocok menjadi model wilayah yang dapat di kembangkan sebagai sarana wisata dengan tetap menjaga keaslian hutan serta organisma yang hidup disana.

Untuk mudahnya kita bisa melihat beberapa contoh pengembangan kawasan wisata yang berbasis pada pemeliharaan lingkungan itu sendiri. Suatu kawasan akan bernilai lebih dan menjadi daya tarik tersendiri bagi orang jika di dalamnya terdapat suatu yang khas dan unik untuk di lihat dan di rasakan. Ini menjadi kunci dari suatu pengembangan kawasan wisata. Lebih jauh pada kawasan mangrove, dengan estetika wilayah pantai yang mempunyai berjuta tumbuhan dan hewan unik akan menjadi daya tarik tersendiri. Yang lebih penting lagi adalah nilai ekonomis, ekologis dan pendidikan yang sangat besar yang ada di kawasan hutan mangrove.

Promosi pengembangan hutan mangrove sebagai kawasan ekowisata harus lebih terpusat pada ketiga nilai tadi, tentunya dengan melihat pula keseimbangan ekologis dari seluruh potensi tadi.

Artikel ini semata-mata kami dedikasikan untuk memberikan sumbangsih pemikiran yang kiranya dapat membantu upaya pelestarian mangrove Pantai Timur Surabaya secara lebih bertanggung jawab dan lebih berpihak kepada "kepentingan Mangrove" itu sendiri, dan bukan berpangku kepada kepentingan bisnis apalagi politik praktis. Jawabannya, kami kembalikan kepada sidang pembaca yang terhormat, apakah di Surabaya, khususnya di pantai timur Surabaya, sudah memenuhi kriteria dan sertifikasi ekoturisme bertaraf Internasional.(dpp)

Pemanfaatan Mangrove sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Makanan

on Tuesday, August 31, 2010


1. Brugulera gymnorhiza

Mengandung tanin yang dalam jumlah sedikit dapat mengurangi sakit perut, namun dalam jumlah banyak akan menjadi racun
A. Brugulera gymnorhiza sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Tepung dan Beras

Bahan :

Cara Pembuatan :
Buah dikupas kulitnya kemudian daging buah dicincang sekecil mungkin
Untuk mengurangi kandungan tanin, buah yang telah dicincang direndam selama 3 hari dengan air biasa ( air diganti setiap hari ). Namun jika tergesa-gesa buah tidak perlu direndam melainkan dicuci sambil diremes-remes kemudian direbus dengan air yang telah mendidih sambil diaduk kurang lebih 20-30 menit
Buah yang telah direndam atau direbus dicuci dengan air biasa sambil diuleni
Buah dijemur di bawah sinar matahari kurang lebih hingga 1 hari
Buah yang telah dijemur akan kering dan menyusut, bila ingin langsung dijadikan nasi atau belendung buah direndam kemudian ditanak
Jika ingin dijadikan tepung, buah bisa langsung digiling setelah dijemur atau diblender dulu dalam keadaan basah sebelum dijemur, setelah jadi bubur dijemur di atas karung bekas baru digiling sampai halus.

Setelah digiling tepung di ayak, hasil pengayakan tepung yang halus digunakan sebagai tepung sebagai bahan dasar pembuatan roti, kerupuk, dll, hasil pengayakan tepung yang kasar dapat ditanak sebagai nasi.


B. Brugulera gymnorhiza sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Kerupuk dan Cireng

Bahan :

Cara Pembuatan :
Tepung dari Brugulera gymnorhiza dicampur dengan tepung tapioka sebagai pelekat serta ditambah dengan sedikit air
Ditambahkan perasa pada adonan misalnya bawang putih, sari rajungan, dll
Adonan diuleni dan dibentuk seperti lontong
Adonan dikukus, kemudian diiris tipis
Jika ingin dijadikan cireng irisan adonan langsung digoreng
Jika ingin dijadikan kerupuk, irisan adonan dijemur di bawah sinar matahari selama kurang lebih 1 hari. Kerupuk yang masih mentah tersebut bisa langsung digoreng maupun disimpan. Jika disimpan, sebelum digoreng kerupuk yang masih mentah tersebut dijemur terlebih dahulu
C. Bruguiera gymnorhiza sebagai Bahan Alternatif Pembuatan Roti

Bahan :
Tepung 1 gelas, telur 6, ditambahkan ovalet secukupnya, pewarna coklat, mentega cair 250 gram, gula pasir 1 gelas, susu bubuk 1 saset, vanili 2

Cara pembuatan:
Tambahkan ovalet, gula, vanili, telur, di mixer hingga warnanya putih mengembang, di tambah pewarna coklat, susu bubuk, tepung, di aduk (mixer) masukkan mentega cair 1 ons, setelah itu masukkan ke loyang di oven ± 20 menit, roti siap di sajikan.

2. Sonneratia Caseolaris (Bogem) di manfaatkan sebagai Sirup Mangrove dan jenang


Cara pembuatan sirup:
Buah sonneratia, Kupas, cuci.
Di tambahkan air dengan perbandingan 1 kg:1 liter, misalnya 2 ons maka airnya sebanyak 200 mL.
Kemudian di rebus sampai buahnya lunak atau empuk, jangan sampai airnya mendidih. Setelah itu di dinginkan beberapa saat.
Buah di haluskan dalam panci, kemudian di saring dengan ayakan untuk memisahkan sari buah dengan daging buahnya.
Setelah terpisah antara daging buah dan sari buah, kemudian pada daging buah tadi ditambahkan lagi air sebanyak 1 liter lalu disaring lagi.
Lalu hasil saringan di saring kembali dengan kain, agar diperoleh air buah yang bebas dari ampas.
Akhirnya diperoleh sirup rasa buah Bogem.
Ampas sisa sirup dapat dibuat jenang dengan syarat ampas disisakan dengan kandungan airnya 30 %
Hasil akhir yang berupa sirup, direbus kembali dan ditambahkan gula sebanyak 2 kg. Dapat disimpulkan perbandingan buah,air dan gula adalah 1(kg):2(liter):2(kg)

Cara pembuatan jenang:
1 kg Sisa ampas sirup yang masih mengandung 30% air tadi atau 1 kg daging buah yang telah dimasak dan dilumatkan
250 gr tepung ketan
500 gr gula pasir
250 gr gula merah 2 liter air matang
Bahan-bahan diatas dimasukkan ke wajan besar secara bersamaan kemudian dicampur aduk sehingga semua bahan tercampur rata.
Lalu wajan di tempatkan pada kompor untuk memasak bahan-bahan yang ada di dadalamnya, kompor diatur dengan api kecil.
Pada saat memasak, bahan-bahan terus diaduk selama kurang lebih 4 jam
Ketika hampir 4 jam, saat jenang mulai lengket, maka tambahkan sedikitnya 1 ons mentega ke dalam wajan.
Setelah 4 jam maka diperoleh jenang bogem yang siap dicetak dan dimakan

Sumber; mangroviesta

Mencicip manis buah mangrove dari pantai timur Surabaya

on Friday, August 27, 2010

Di bulan puasa ini, dipastikan kebutuhan rumah tangga, terutama yang berhubungan dengan rasa dan kesegaran, meningkat cukup drastis. Sehingga tak mengherankan, manakala salah satu produsen sirup besar di negara ini, rela mengubah bentuk botol kemasan sirup mereka di bulan suci umat islam tersebut.

Tapi di ibukota propinsi Jawa Timur, Surabaya, penduduknya boleh menepuk dada. Karena selain kenangan heroik arek-arek suroboyo yang sudah tidak diragukan lagi, untuk soal sirup, mereka punya hal yang berbeda, yang boleh jadi tidak akan mudah ditemukan di tempat lain. Ya, surabaya boleh disebut metropolis dengan segala heterogenitas aktifitas enduduknya. Nun di pesisir timur surabaya, nyaris di ujung kali jagir-wonokromo, penduduk kota surabaya punya empu pengolah sirup modern berbahan dasar buah mangrove. Soal rasa? Hmmmm, banyak yang bilang seperti madu yaman.

Pantai timur surabaya boleh dibilang daerah pesisir kota yang unik. Kondisi masyarakatnya tidak seratus persen mewakili karakteristik masyarakat pesisir secara umumnya. Mereka sama seperti halnya penduduk kota besar lainnya yang kalau berbelanja masih memilih pergi ke mall, dan menonton gambar bergerak di jaringan bioskop terkemuka negeri ini. Hanya saja, lingkungan hidup sekitar rumah mereka didominasi ekosistem air payau.

Justru karena air yang payau itulah, mangrove dapat tumbuh, dan salah satunya adalah species Sonneratia caseolaris, atau masyarakat setempat mengenalnya dengan nama bogem. Nah, penduduk di sekitar muara sungai wonorejo ini sudah semenjak tahun 2004 silam mampu mengolah buah bogem yang telah masak, menjadi olahan sirup.

Adalah mohson, yang lebih akrab dipanggil soni, yang mengawali kiprah olahan sirup bogem mangrove ini. Setelah di tahun 2007 hasil olahannya mendapat sertifikasi dari Departemen Kesehatan, dan terdaftar di Disperindag, maka semenjak itulah hasil karyanya melanglang negeri. Dua menteri perikanan dan kelautan berturut-turut, Freddy Numberi dan fadel Muhammad, sudah beberapa kali mencicip manisnya olahan buah mangrove tersebut. Kebetulan dalam peresmian Puspa Agro, salah satu sentra pasar buah terbesar di jawa Timur yang peresmiannya dilakukan beberapa saat yang lalu, dihadiri empat menteri, dan seleuruhnya berkenan mampir dan mencicip sirup mangrove tersebut.

Bukan tanpa hambatan, untuk menyajikan sirup mangrove sehingga siap seduh. Keberadaan buah yang di mancanegara dikenal sebagai apple mangrove ini cukup sulit ditemukan. Bukan karena pohonnya yang mati, tetapi lebih karena perubahan musim yang membuat masa berbunga dan berbuah-nya menjadi tidak menentu. Namun kearifan lokal, sedikit mengatasi hal tersebut, sehingga pak mohson, mampu panen minimal 2 kilo buah apple mangrove setiap harinya.

Pemasaran sirup ini, walaupun masih belum masuk ke pasar, juga cukup menjanjikan. Pasalnya mereka yang sudah mencicipnya, pasti akan ketagihan untuk mencicipinya kembali. Beruntunglah kalian warga surabaya, sudah punya mangrove, bisa mencicipi manisnya pula. (dpp)

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page