Nelayan Desak Para Perusak Hutan Mangrove di Perairan Sumut Ditindak

on Thursday, May 14, 2015

* Perusahaan Asing Dituntut Hentikan Penutupan 10 Paluh di Hamparan Perak dan Marelan
Jumat, 15 Mei 2015 | 10:24:11
Medan (SIB)- Nelayan tradisional Kelurahan Terjun dan Sei Pasir Medan mendesak DPRD Sumut bekerja sama dengan aparat terkait untuk segera menindak tegas perusahaan perusak lingkungan hutan mangrove, tempat berkembangnya ikan, udang dan kepiting, Perusahaan Manggrove menghabiskan sumber pencaharian nelayan.

"Perusahaan yang merusak lingkungan telah mendzolimi kami. Tempat ikan, udang dan kepiting, berkembang biak, yakni hutan bakau tempat kami mencari nafkah telah dirusak perusahaan perusak lingkungan. Kami minta aparat penegak hukum segera menindaknya," kata koordinator aksi Rahman saat berorasi di depan gedung DPRD Sumut, Selasa (12/5).

Kerusakan lingkungan itu dikarenakan  eksploitasi pengerukan pasir sungai dan penebangan pohon mangrove. Selain itu, perusahaan asing dan lokal di kawasan perairan Sumut, seperti Kecamatan Medan Marelan dan Kecamatan Hamparan Perak menutup 10 paluh (anak sungai), yakni Paluh Udang, Luka, Lumpur, Kurau, Besar, Pelakak, Sorong, Benteng, Tiga dan Paluh Babi. "Hentikan penutupan paluh dan penebangan mangrove serta pengerukan pasir. Buka kembali lahan tempat nelayan tradisional mencari nafkah," katanya.

Dalam kesempatan itu, Rahman menyampaikan kekecewaanya terhadap anggota DPRD Sumut yang sempat melihat kondisi limbah perusahaan namun hingga kini tidak ada tindakan. Disempaikanya juga kekecewaan kepada pemerintah Dinas Perikanan Deliserdang, Camat Hamparan Perak, Kepala Desa Palu Kurau yang diduga tidak menindaklanuti laporan nelayan yang dilengkapi dengan identitas pelapor.

 "Sudah pernah datang anggota dewan, tapi apa penyelesaianya sampai sekarang. Kami hanya dapat janji - janji, tapi tidak terealisasi" katanya kepada anggota Komisi A DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan dan Burhanuddin yang menerima aspirasi warga nelayan.

Burhanuddin dan Sutrisno dalam kesempatan itu meminta agar massa nelayan mengirimkan laporan resmi disertai data lengkap dan identitas pelapor. Hal itu untuk melengkapi prosedur, sehingga bisa ditindaklanjuti dalam rapat dengar pendapat Komisi A dengan mengundang pihak-pihak terkait.

"Kami minta agar ini dilaporkan secara lengkap. Biar dewan mengundang perusahaan perusak hutan mangrove dan penambang pasir beserta masyarakat nelayan yang dirugikan juga pihak terkait yang terlibat masalah perusakan ini," kata Sutrisno sembari meminta masyarakat nelayan bersabar menyikapi permasalahan ini.


HARIAN SIB

Wayan Patut Tanam Mangrove Tak Lazim di Serangan

on Wednesday, April 22, 2015

DENPASAR - Memperingati hari bumi, warga Desa Serangan, Denpasar, Bali, menanam 500 pohon mangrove yang dikembangkan di darat dengan air tawar.

Sejatinya tanaman mangrove yang selama ini dikenal hidup di air payau (percampuran air tawar dan laut) dan menjadi salah satu syarat hidup tumbuhnya mangrove.

Melalui tangan dinginnya, Wayan Patut bersama rekan-rekannya di kelompok Serangan Bersinar Indah (SBI) dan Sahabat Karang Serangan (SKS) berhasil melakukan uji coba budidaya mangrove di darat dengan air tawar.

Hal ini belum lazim dilakukan, namun dari hasil uji coba tersebut, setidaknya saat ini terdapat 8 jenis mangrove yang telah berhasil tumbuh dengan baik yaitu Soneratia sp, Rhizopora Apiculata, Rhizopora sp, Xylocarpus sp, Pemphis sp, Lumnitzera sp, Bruguiera gymnorhiza, dan Avicenia sp.

Saat ini Wayan Patut dipercaya oleh PT BTID ditunjuk sebagai salah satu fasilitator untuk menjalankan program Pengembangan Ekologi Terpadu (PET) yang dilakukan di desa Serangan, bukan tanpa alasan.
Selain sebagai salah satu tokoh pecinta lingkungan di Desa Serangan, yang pada tahun 2011 juga mendapatkan Kalpataru kategori penyelamatan lingkungan di masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kalpataru diberikan karena melihat semangat, kerja keras, komitmen dan perjuangannya yang sangat panjang dan atas keberhasilannya mengembangkan budidaya terumbu karang dan kuda laut untuk pelestarian lingkungan pesisir dan laut di Desa Serangan.

Apa yang dilakukan tentu tidak mudah dan ini satu diantara bentuk apresiasi perusahaan atas apa yang telah dialukakannya.

Melalui momentum peringatan hari bumi, dengan kegiatan penanaman mangrove yang melibatkan warga masyarakat Desa Serangan, pihak perusahaan berharap akan tumbuh generasi-generasi muda lainnya seperti Wayan Patut yang peduli terhadap lingkungan dan kelestarian sumberdaya alam yang ada di Desa Serangan.
Wayan Patut menambahkan, penanaman Mangrove yang dilakukan untuk memperingati hari bumi, Rabu (22/4) juga berharap, tidak hanya selesai setelah penanaman mangrove ini dilakukan, namun harus dilakukan terus menerus.

Dan kegiatan ini harus dilihat dan dimaknai bahwa, kita hidup dan dihidupkan dari alam yang diciptakan oleh Tuhan, maka selayaknya kita harus menghormati dan menghargai alam dengan memanfaatkan secara arif dan bijaksana, untuk kelestarian sumber daya alam tersebut dan kehidupan generasi kita selanjutnya.

TRIBUN BALI

Riau Diharapkan Jadi Pusat Riset Hutan Mangrove

on Wednesday, March 11, 2015



PEKANBARU: Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskalut), H Surya Maulana menyebut, dengan luas mencapai 143 ribu hektar, Provinsi Riau bakal menjadi pusat riset dan pengembangan Hutan Mangrove di Pulau Sumatera.

Dia menjelaskan, saat ini hutan mangrove di beberapa daerah pesisir di Riau masih terjaga kelestariannya.

"Dengan kondisi itu, Kita berharap Riau menjadi sentra riset, pembelajaran pengembangan mangrove di Sumatera. Karena masih ada 143 ribu hektar mangrove di Riau,"jelas Surya, Selasa (10/3).
Surya memaparkan, dari beberapa daerah di Riau, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) merupakan daerah yang paling luas hutan mangrove-nya, yakni mencapai sekitar 105 ribu hektar. Inisiasi program pengembangan mangrove ini menurutnya sudah dimulai. Dengan mulai melakukan indentifikasi potensi hutan mangrove di Riau.

"Tahun 2015 ini, kita menargetkan sudah bisa masuk dalam APBN," jelasnya.
Surya menambahkan, sebelum itu juga akan dilakukan restorasi mangrove di bagian tertentu. Selanjutnya, membangun pengelolaan seperti, pusat-pusat pembelajaran dan eko wisata alamnya. Dia berharap, program ini dapat berjalan dengan baik.

"Kita berharap ini bisa terwujud, terlebih jenis mangrove di Riau ini ada enam jenis, ini merupakan yang terlengkap di Indoensia. Untuk tahap awal, tahun ini program itu telah kita laksanakan di Pulau Cakung dan Pulau Cawan,"harapnya.

RIAU GO ID

Newlywed couples plant mangrove propagules in Puerto Princesa

on Saturday, February 14, 2015


On Valentine's Day, two of the 176 newlyweds in Puerto Princesa City, Palawan plant mangrove propagules in Barangay San Jose as part of Mayor Edward Hagedorn's 'Love Affairs With Nature' project.

Image By" Danny Pata


http://www.gmanetwork.com/news/photo/15606/newlywed-couples-plant-mangrove-propagules-in-puerto-princesa

BPN Harus Selesaikan Klaim Laut Muaragembong

on Wednesday, January 28, 2015

DIPATOK : Laut Muaragembong bermunculan patok klaim warga. Pemerintah derah beserta BPN dan pihak terkait diminta untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ariesant/RADAR BEKASI
DIPATOK : Laut Muaragembong bermunculan patok klaim warga. Pemerintah derah beserta BPN dan pihak terkait diminta untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Ariesant/RADAR BEKASI
PERSOALAN klaim laut di Kampung Beting, Desa Pantaisejahtera dianggap menjadi tanggung jawab Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Bekasi. Oleh sebab itu, DPRD mendesak agar BPN menyelesaikan persoalan tersebut.
Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Bekasi, Muhtadi Muntaha mengatakan, secara bersama-sama antara BPN dan pemerintah daerah harus menyelesaikan klaim laut yang berlangsung sejak 2007 lalu.
’’Secepatnya pihak BPN menyelesaikan persoalan itu, bekerjasama dengan SKPD terkait di Pemda kabupaten Bekasi,” ujarnya.
Menurut Muhtadi, persoalan di pesisir utara Kabupaten Bekasi itu menjadi hal yang serius. Jika dibiarkan, maka klaim serupa bakal terus meluas dan dikhawatirkan bakal merusak ekosistem laut Muaragembong.
’’Jangan dibiarkan berlarut-larut, harus clear dan terang benderang, supaya ada kepastian hukum,” katanya.
Diberitakan sebelumnya, sekitar 10 hektar hutan mangrove di pesisir Kecamatan Muaragembong diklaim oleh warga setempat sejak 2007. Hal tersebut disampaikan Kasi Bina Usaha pada Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Bekasi, Yudianhar.
Menurut Yudi, perlu adanya pembuatan tapal batas antara lahan milik warga dan pemerintah pusat di pesisir laut. Dengan demikian warga lebih berhati-hati jika ingin memanfaatkan lahan.

GO BEKASI

10 Hektar Hutan Mangrove Diklaim Warga

on Monday, January 26, 2015

KLAIM : Salah satu patok berdiri di laut Muaragembong dengan latar belakang hutan mangrove yang sudah rusak. Ariesant/RADAR BEKASI
KLAIM : Salah satu patok berdiri di laut Muaragembong dengan latar belakang hutan mangrove yang sudah rusak. Ariesant/RADAR BEKASI
SEKITAR 10 hektar hutan mangrove di pesisir Kecamatan Muaragembong diklaim oleh warga setempat. Hutan mangrove yang diakui warga itu berada di Desa Pantaibahagia.
Hal itu dikatakan Kasi Bina Usaha pada Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Bekasi, Yudi Anhar. Klaim lahan hutan mangrove itu sudah berlangsung sejak 2007 lalu.
Menurut Yudi, munculnya klaim areal hutan mangrove disebabkan karena tidak adanya kejelasan batas antara milik pemerintah pusat dan masyarakat. Sehingga dengan bebas masyarakat setempat mengakui kalau areal tersebut miliknya.

Klaim sepihak itu diduga menjadi salah satu penyebab menyusutnya hutan mangrove di Muaragembong. Menurut Yudi, perlu adanya antisipasi agar pengakuan sepihak itu tidak berlanjut.
Salah satu cara untuk antisipasinya, kata dia, dengan cara membuat tapal batas di sekitar hutan mangrove. Dengan demikian masyarakat mengetahui batasan antara milik pemerintah pusat dan daerah.

“Tapal batas antara yang tanah rakyat dan tanah negara harus jelas,” katanya.
Jika tapal batas dibuat, maka harus disertakan sanksi bagi yang melanggar. Hal itu sebagai efek jera sekaligus melestarikan hutan mangrove dan pemukiman warga Muaragembong yang kini mulai terkikis akibat abrasi.

“Beberapa persoalan mengenai tanah negara dan tanah warga karena tidak ada tapal batas,” ujarnya.

GO BEKASI

Hutan Mangrove Menyusut Seribu Hektar

on Friday, January 23, 2015

MENYUSUT : Pengendara motor melintasi hutan mangrove yang sudah hancur (foto kanan). Anak-anak bermain di pesisir Desa Pantaibahagia, Muaragembong. Di desa itu pengikisan daratan terus terjadi dan mengkhawatirkan (foto kiri). Ariesant/RADAR BEKASI
MENYUSUT : Pengendara motor melintasi hutan mangrove yang sudah hancur (foto kanan). Anak-anak bermain di pesisir Desa Pantaibahagia, Muaragembong. Di desa itu pengikisan daratan terus terjadi dan mengkhawatirkan (foto kiri). Ariesant/RADAR BEKASI
BERDASARKAN data dari Dinas Pertanian Kehutanan dan Kelautan (DPKK) Kabupaten Bekasi, luas hutan mangrove di Kecamatan Muaragembong kini mencapai 10.481,15 hektar. Jumlah tersebut menyusut sekitar seribu hektar sejak 1997 lalu.

Kasi Bina Usaha DPKK Kabupaten Bekasi, Yudi Anhar mengatakan, hutan mangrove banyak beralih fungsi menjadi tambak. Namun ia mengaku belum mengetahui jika penyusutan terjadi karena hal lain.
Namun kata Yudi, penyusutan hutan mangrove dalam bentuk apa pun, akan mengancam ekosistem laut. Terlebih, daratan juga akan semakin tergerus karena abarasi.

’’Ini akan jadi ancaman yang serius dan penyebabnya ekosistem yang rusak. Sulitnya lagi, tanah di sini bukan milik orang Bekasi melainkan dari luar daerah,” ungkapnya.

Mengembalikan ekosistem dan tanaman mangrove tidak seperti membalikan telapak tangan. Meski ada upaya dengan cara menanam mangrove, namun belum bisa dipastikan terhindar dari bencana abrasi.
Dikatakan Yudi, pihaknya bakal menanam 200 ribu bibit mangrove di pesisir Muaragembong. Beberapa desa yang akan menjadi tujuan tanam mangrove seperti Pantaibahagia.

’’Nanti sekitar Juni akan ada penanaman bibit yang sesuai dengan kondisi tanah di sana,” katanya.
Sekedar diketahui, habisnya tanaman mangrove di Muaragembong sudah menimbulkan bencana abrasi. Ratusan rumah dikabarkan hilang akibat daratan yang tergerus air laut.
Gelombang laut bebas menerjang daratan karena tidak adanya penahan atau pemecah arus seperti tanaman mangrove.  Dalam hal ini, pemerintah daerah harus segera mencari jalan keluar agar daratan Muaragembong tidak hilang dari peta.

GO BEKASI

Muhammad Ali, Mengangkat Derajat Masyarakat Pesisir

on Wednesday, January 21, 2015


BONTANG – Nama Muhamad Ali begitu populer di antara msyarakat Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kota Bontang, Kalimantan Timur. Perantauan asal Sulawesi itu menjadi tokoh penggerak pelestarian mangrove melalui Kelompok Lestari Indah. Pria yang sangat memahami jenis dan perawatan mangrove itu kami temui di Rumah Mangrove Information Center, Kamis (13/2) bersama anggota kelompok binaannya.

Pak Ali, begitu kami sapa, membudidayakan mangrove sejak tahun 2009. “Awalnya saya melihat bencana tsunami di Aceh. Saya yang tinggal di pesisir tidak ingin musibah tersebut terjadi di sini,”kisahnya. Entah berhubungan atau tidak, menurut Ali dengan menanam mangrove di sekitar pantai, minimal bisa menahan gelombang air yang begitu besar sekaligus mengurangi abrasi.

Awalnya ia menanam seorang diri sekaligus mela­kukan pembibitan dengan mencari buah mangrove di hutan. Bibit mangrove siap tanam, oleh Ali ditanam di sekitar pesisir. Hanya be­berapa orang saja yang mengikuti jejak Ali, karena keterbatasan waktu untuk mengerjakan hal yang sifatnya sukarela.

Ali tak kehabisan ide. Ia berencana membuat sentra pembibitan mangrove di Tanjung Laut. Menurutnya pembibitan mangrove sangat berpeluang memberikan hasil bagi masyarakat, apalagi banyak perusahaan di sekitar Bontang yang rutin melakukan kegiatan penanaman mangrove.

“Saya masukkan per­mohonan ke PT Badak NGL tahun 2009. Tidak sampai satu minggu kami disurvei dan bantuan langsung turun,” kenang Ali. Bantuan yang dimaksud meliputi pem­bangunan bedeng pem­bibitan, polybag, pembelian benih, dan lain-lain. Agar masyarakat terlibat, Ali punya aturan. Setiap kantong bibit yang ditanam warga diberi imbalan. “Sekarang satu bibit diupah Rp 700, kalau rajin sehari bisa dapat 400 kantong,”papar Ali.

Bibit yang sudah jadi, de­ngan usia 3 – 6 bulan biasanya dijual kepada perusahaan yang akan melakukan kegiatan penanaman mang­rove dengan harga beragam. “Untuk PT Badak dan pe­merintah kami berikan har­ga khusus, karena telah memberikan dukungan dan pembinaan bagi kami dalam mengembangkan usaha ini,”jelasnya. Harga bibit berkisar antara Rp 3.000 – Rp9.000 per batang.

Hasil penjualan  dibagi kepada anggota kelompok yang terlibat dalam pembibitan dan perawatan. Ali juga menyisihkan hasil usaha kelompok untuk pembelian lahan. “Agar tidak bermasalah atau kena gusur, kami beli lahan pembibitan se­­luas  4 x 8 meter,” kata pria yang berencana membangun ekowisata mangrove di lahan tersebut.

April 2013, Ali mendapat dukungan dari PT Badak NGL untuk membangun Rumah Mangrove Infromation Center (RMIC). Yakni pusat belajar masyarakat untuk budidaya mangrove dan keterampilan pe­manfaatan buah melalui berbagai pelatihan. Saat ini su­dah ada 12 kelompok yang bernaung di bawah RMIC. Ada­pun produk yang dihasilkan tidak hanya bibit mangrove, tetapi juga produk turunan lain­nya. Seperti sirop mangrove, dodol mangrove dan pewarna batik.

“Target khusus Rumah Mangrove Information Center ini adalah meningkatkan pem­berdayaan perempuan melalui kegiatan produktif ekonomi kreatif, sehingga mampu mem­berikan penghasilan tambahan bagi keluarga,”jelas Ali.

Kini niat Ali yang awalnya ingin mencegah abrasi pantai dengan menanam mangrove, ternyata telah berkembang. Tidak hanya menjaga keles­tarian ekosistem pantai, tetapi juga  mengangkat derajat masyarakat pesisir.

Aziil Anwar, Penanam Mangrove di Batu Karang

on Monday, January 19, 2015

Inilah mangrove yang ditanam Aziil di batu karang. Kok bisa? Aziil punya cara. Foto: Wahyu Chandra

Aziil Anwar berjalan agak cepat, melewati jalan setapak ditumbuhi padang ilalang. Lelaki setengah baya itu sebelumnya menegaskan kami harus segera tiba di lokasi. “Harus cepat tiba di lokasi sebelum air pasang. Ini sudah agak siang. Kalau terlambat air bisa setinggi dada,” katanya.

Kami tiba di rumah panggung kecil di tepi  pantai, sekitar 50 meter dari jalan raya. Dia menunjuk  tujuan selanjutnya, sekitar 100 meter lagi. Melewati rerimbunan mangrove yang tergenang air berlumpur.

Aziil, pendiri Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat Desa (YPMMD) Majene, sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat dan perlindungan mangrove.  Pagi itu, Kamis (19/12/14),  dia mengajak saya mengunjungi lokasi pembibitan mangrove, di Desa Binanga, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Aziil antusias menunjukkan pembibitan sekitar 400.000 bibit dari sejumlah spesies.

Lokasi itu tepat di lahan dengan sekeliling tumbuh beragam mangrove. Luasnya, termasuk kawasan konservasi mangrove sekitar 40 hektar, meski yang tercatat di BPH hanya 20 hektar.

Bibit-bibit yang disusun berpetak-petak rapi dalam polibag kecil ini diberi nama latin sesuai spesies, antara lain Rhizophora stylosa, Cerios decandra, Bruguiera gymnorrhiza, Aigiceras corniculatum, Ceriops tagal,  Rhizophora mucronata dan Avicennia marina. Pelabelan baru dilakukan akhir-akhir ini, bantuan Yayasan Kehati.

“Kebetulan kemarin ada kerjasama dengan Kehati. Tak semua bisa dilabeli. Baru 500 papan bisa disiapkan.”

Seluruh bibit itu milik warga  yang tergabung dalam Rimbawan Muda. Anggota 17 orang,  adalah ibu rumah tangga.

Bibit-bibit mangrove yang diusahakan yayasan Aziil dan para ibu rumah tangga. Foto: Wahyu Chandra

Ibu-ibu ini alumni sekolah lapang pembibitan yang digagas Aziil beberapa tahun lalu. Mereka terampil membibit  termasuk membedakan jenis mangrove.

Lokasi pembibitan sebenarnya terbentuk sejak 1990-an. Kala Aziil bersama beberapa teman membentuk YPMMD. Awal berdiri mereka fokus  penyelamatan pesisir. Mereka memungut bibit-bibit berserakan di pantai, yang terbawa ombak dari berbagai daerah.

“Kami yakin bibit-bibit mangrove terdampar di sini banyak dari Mamuju bahkan Kalimantan.”
Tidak hanya membibit dan menanam mangrove, YPMMD juga mengadvokasi warga sekitar tidak lagi menebang  di kawasan itu.

Penebang mangrove sebenarnya  banyak nelayan pendatang yang  tinggal sementara di situ. Mereka mengambil mangrove untuk bahan bakar. “Kami  sampaikan  sebaiknya jangan tebang mangrove. Kini  tak ada lagi. Mungkin karena ada tabung gas tiga kg,  mudah dibawa-bawa.”
Pada mulanya, YPMMD membibit sekadar dibagi-bagikan kepada warga. Sejak 2010, muncul keinginan bersama menjual bibit.

Penjualan bibit ini bermula ketika PT Inhutani Mamuju memesan bibit mangrove 110.000 pohon. Mereka mendapat bayaran cukup besar. “Ibu-ibu kerja suka rela tanpa gaji. Yayasan pun menyiapkan polybag. Kami kasih makan siang. Setelah menghasilkan mereka tak mau diberi makan siang. Toh kepentingan bersama juga.”

Terdapat sekitar 400 ribu bibit mangrove diproduksi pertahunnya di kawasan ini, dari berbagai jenis mangrove. Ini sekaligus menjadi sumber mata pencaharian warga. Foto: Wahyu Chandra


Bibit-bibit ini dijual Rp700. Pelanggan dari pemerintah dan perusahaan. Dari penjualan ini, warga mendapatkan Rp300 per batang, selebihnya YPMMD.

“Jika mereka punya 1.000 bibit, ya dapat Rp300.000. Sekali jual bisa 10.000-20.000 bibit. Baru-baru ini dari Lingkungan Hidup Rp20 juta. Mereka bagi hasil merata ke anggota dan lembaga.”
Untuk menghasilkan bibit siap tanam memerlukan waktu tumbuh tujuh sampai delapan bulan. Kadang juga ada bibit sampai dua tahun. Bibit lama biasa dipotong dipindahkan ke polybag lain, untuk menghambat pertumbuhan.

Kala mendampingi ibu-ibu, katanya, hal paling ditekankan bagaimana mereka memperlakukan mangrove bak merawat anak sendiri.

Aziil mengajak kami ke bagian depan pantai. Tempat warga dan siswa pecinta alam menanam beberapa bulan lalu. Air setinggi mata kaki.

“Itu daerah terluar masih bisa ditumbuhi Aviecenna. Umur sekitar enam bulan. Kalau paling dekat ini Rhizophora styloza. Ini dua tahun. Kelihatan kecil karena tak cocok tanam di sini.”

Lokasi itu, kawasan yang dipenuhi karang mati karena marak pengeboman dan racun ikan era 1990-an. Menaman mangrove di sini biasa diistilahkan menumbuhkan mangrove di pantai berbatu karang.

Tahun 1990-an, katanya,  marak penangkapan ikan dengan bom dan racun hingga merusak terumbu karang di sini. Karang mati. “Dulu,  banyak tak percaya kalau mangrove bisa tumbuh. Bahkan peneliti dari luar negeri juga tak percaya. Saya membuktikan itu bisa.”  Rhizophora dikenal hanya bisa di lahan masih berlumpur.

Perawatan yang dimaksud Aziil, rutin membersihkan karang atau tiram yang menempel di batang mangrove,  per bulan hingga tanaman melewati usia kritis, yaitu dua tahun. Dengan pendekatan ini keberhasilan mangrove tumbuh bisa 60%.

Rhizophora meskipun tanaman laut namun batang tak tahan air. Luka di batang karena kerang dan tiram bisa membuat kering dan mati.

“Supaya tumbuh baik, gunakan propagul jangan bibit. Kita gali karang dengan linggis ketika laut surut dan diberi sedikit tanah sebagai pemancing.”

Kreativitas Aziil  ternyata menarik minat sejumlah peneliti asing datang dan belajar. “Mereka selalu bilang ini tak mungkin, tapi sudah lihat hasil dan bisa.”

Menurut Aziil, menghijaukan pesisir bukanlah mudah. Apalagi di daerah itu dia sebagai pendatang karena dari Ternate, Maluku Utara. Larangan tak menebang mangrove kadang tak digubris warga.
Namun penentangan perlahan berkurang dan sekarang tak ada. Warga menyadari manfaat mangrove, tidak hanya ekonomi, juga tangkapan ikan, kepiting dan usaha pembibitan. Mangrove juga benteng pelindung dari ombak dan degradasi pantai.

Atas usaha selama ini, Aziil mendapatkan banyak penghargaan dari pemerintah. Antara lain, 1993 dia menerima Pemuda Pelopor dari Presiden RI.

Pada 2003, Aziil menerima Kalpataru dari Presiden Megawati. Terakhir 2013, menerima Satyalencana, diserahkan Wakil Presiden RI, Boediono. Tahun ini, Aziil dinominasikan menerima Kehati Award dari Yayasan Kehati.

Ini adalah kawasan yang telah ditanami oleh Aziil bersama warga sejak tahun 1990 silam. Luasnya kini mencapai 40 hektar, meski yang tercatat di pemerintah hanya 20 hektar. Foto: Wahyu Chandra

Aziil berharap, kawasan kelola ini kelak menjadi Mangrove Learning Center di Sulbar bahkan Sulawesi. Dia berkeinginan bisa membangun kawasan ekowisata.

“Saya rencana membuat tree to tree. Jembatan antarpohon ke pohon. Lalu ada flying fish, seperti terbang ke laut. Atau juga path away atau jalan-jalan setapak dengan bambu.”
Aziil berharap ada kemitraan dari lembaga lain dalam pengembangan kawasan itu.“Saya rencana mengusulka ke Kehati kalau mereka mau menjadikan tempat ini pusat mangrove mereka. Seperti taman Kehati di Sumatera. Kehati bisa klaim dan pasang plang kalau ini milik mereka.”

Menanam mangrove kadang banyak gagal. Kata Aziil, disebabkan beberapa faktor, seperti tidak mempertimbangkan kondisi lahan. “Kalau Majene jangan gunakan bibit, lebih cocok propagul. Tapi kan pemerintah tak senang propagul karena biaya kecil. Hanya Rp100. Bandingkan dengan bibit Rp700.”
Di proposal, mereka biasa mencantumkan harga bibit per batang Rp1.900, harga beli cuma Rp700. “Tidak hanya untung selisih harga, dari volumepun bisa dimainkan. Tertulis 50.000 pohon, cuma beli bibit 10.000 bibit, misal. Mereka bisa untung banyak dari situ.”

Pemilihan waktu tanam juga menentukan keberhasilan. Pada bulan-bulan tertentu ombak tinggi membuat bibit sulit bertahan.  “Kalau propagul bisa kapan saja karena ditancapkan dan diberi penahan. Selama ini, orang hanya berpikir menanam mangrove, tak peduli tumbuh atau tidak. Seharusnya, kita gunakan istilah menumbuhkan mangrove, bukan menanam.”

MONGABAY 

Mohammad Ali; Dari Mangrove Menuju Kemandirian

on Tuesday, December 9, 2014




Kawasan Tanjung Laut Indah di Bontang, Kalimantan Timur, sudah berubah banyak. Kalau tiga tahun lalu deretan mangrove masih pendek dan jarang, kini sejauh mata memandang tampaklah mangrove yang merimbun memagari pantai. Hanya dalam waktu lima tahun, sudah 170 hektar kawasan pesisir Bontang ditanami mangrove.


Terima kasih kepada Mohammad Ali (46), yang mulai merintis penanaman mangrove dengan 150 bibit Rhizopora sp, salah satu jenis tanaman mangrove. ”Waktu ibu ke sini dulu, tanamannya rata-rata baru umur dua tahun. Sekarang sudah lebat ya,” katanya sambil menunjuk sabuk hijau mangrove di kejauhan.

Bertahun-tahun menjadi operator alat berat, Ali masih melaut bersama temannya para nelayan. Ia menyaksikan bagaimana hutan mangrove ditebang dan merasakan ikan tangkapan semakin jarang. Maka, tahun 2009, ia mencoba membibitkan mangrove bersama istrinya. Kebetulan lurah tempat Ali bermukim mendapat info bahwa Syahbandar Pelabuhan Tanjung Laut, Bontang, perlu 1.000 pohon bibit. Dengan dukungan sang lurah, Ali membuat proposal kerja sama ke PT Badak LNG.

Bak gayung bersambut, PT Badak LNG datang dengan bantuan perahu ketinting, pra-net, polybag, dan pelatihan. Menyadari tak mungkin mencapai target sendiri, Ali membentuk Kelompok Tani Lestari Indah untuk mengerjakan pembibitan bersama- sama. Meski semula Ali dan kawan- kawan hanya bisa memenuhi permintaan syahbandar 700 bibit, dalam perjalanannya pembibitan mangrove ini berkembang pesat.

Tidak hanya mampu menyediakan 100.000 bibit mangrove per tahun untuk program penghijauan PT Badak LNG, Kelompok Tani Lestari Indah juga menyuplai kebutuhan Pemerintah Kota Bontang, Dinas Perikanan Provinsi Kaltim, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat. Kawasan yang ditanami mangrove pun kian luas, membentang di seluruh pesisir Bontang.

Tidaklah mengherankan jika jumlah kelompok juga terus bertambah. Saat ini ada 16 kelompok tani pembibitan mangrove dengan total anggota 150 orang. Tiap-tiap kelompok mampu menyediakan bibit hingga 200.000 pohon per tahun. Tak hanya Rhizopora sp, mereka juga menanam Sonneratia ovata yang buahnya menjadi bahan baku sirup dan dodol serta Bruguiera gymnorrhiza yang menghasilkan tepung pengganti beras.

Sabuk hijau
Hutan mangrove tidak hanya menjadi sabuk hijau yang melindungi pantai dari abrasi, tetapi juga menjadi tempat pemijahan ikan dan biota laut lainnya. Dampaknya kemudian bisa dirasakan nelayan secara luas. Tidak perlu melaut jauh, mereka bisa menangkap ikan di kawasan bakau, bahkan kerang bakau yang besar-besar, kepiting, dan udang.

Kehadiran hutan mangrove ternyata juga memicu tumbuhnya kelompok baru: kelompok ibu-ibu pengolah hasil hutan mangrove. Dari pewarna batik, sirup, tepung, hingga dodol.

”Kalau pewarna batik dari rhizopora. Yang dikirim ke Surabaya hanya dipotong-potong dan dikeringkan, yang dipakai di Bontang sudah siap pakai dalam bentuk cair,” papar Ali.

Pengolahan pewarna batik dikerjakan sendiri oleh Kelompok Tani Lestari Indah, sedangkan pengolahan makanan dikerjakan oleh tiga kelompok berbeda. Ada Kelompok Tani Daun Harum, Wanita Pesisir, dan Karya Wanita, yang total beranggotakan 30 orang. Dengan demikian, secara langsung pembibitan mangrove rintisan Ali sudah menghidupi lebih dari 180 orang berikut keluarganya, dan manfaat tak langsung untuk ratusan nelayan lainnya.

”Istri saya dulu ikut di Lestari Indah. Tetapi sekarang dia lebih banyak di rumah mengurus si bungsu yang baru 2,5 tahun,” kata Ali yang memiliki lima anak.

Sumbangan tambahan PT Badak LNG berupa ruang Mangrove Information Center seluas 200 meter persegi menjadi tempat pembelajaran mangrove: dari pemahaman sampai pelatihan untuk berbagai pihak. Dari siswa sekolah hingga lembaga pemerintah.

Namanya juga Ali, aktivitas tersebut menelurkan peluang baru. Tamu yang hanya berkunjung sebentar sampai orang-orang yang belajar seharian tentu saja butuh makan. Maka, Ali mengajak para ibu yang belum tergabung dalam kelompok pembibitan dan pengolahan membentuk kelompok baru: katering.

Ia memang bersemangat mengajak para ibu karena hasilnya langsung buat keluarga. Pernah ada suami-suami yang ikut, tetapi karena uangnya dipakai untuk judi, mereka tidak boleh ikut lagi. Buat Ali, yang terpenting uang bisa digunakan untuk pendidikan.

”Anak-anak saya, juga anak-anak lain di kampung sini, harus sekolah setinggi mungkin. Jangan seperti saya dan kebanyakan orangtua yang cuma lulusan SD,” tuturnya.

Terus berkembang
Siang itu kelompok katering menyiapkan makan siang berupa ikan bakar, kerang, telur asin, bebek kecap, sayur sop, dan berbagai lalapan. Sebagian besar berasal dari usaha sendiri, termasuk telur dan bebek. Di pembibitan itu, ada 200-an bebek yang gemuk-gemuk karena makan hama siput.

Bebek dijual ke kelompok katering dengan harga pasar, juga ikan kerapu putih, kakap merah, dan baronang hasil dari keramba. Jadilah kelompok- kelompok ini saling mendukung dan menghidupi.

Sambil memilihkan sepatu bot untuk berkeliling kebun pembibitan, Ali menunjuk enam deretan dangau beratap biru. Dangau-dangau itu persiapan untuk ekowisata mangrove dan pemancingan. ”Biru artinya dibangun dengan biaya dari usaha kami sendiri,” katanya.

M AliHanya satu yang beratap merah, bangunan pusat studi mangrove bantuan PT Badak LNG. Tidaklah mengherankan jika Kelompok Tani Lestari Indah mendapat beberapa penghargaan. Demikian juga dengan Kelompok Tani Daun Harum, pengolah sirup dan dodol, yang baru saja menjadi juara pertama Wirausaha Produktif Seluruh Kaltim, 2014. Kelompok Tani Karya Wanita hari-hari ini tengah mengikuti expo di Jakarta.

Apa lagi yang ingin dicapai Ali? Ia tengah bersemangat mengembangkan kawasan ekowisata yang bisa memadukan pembelajaran, pemancingan, dan kuliner sekaligus, yang kini sudah berlangsung 40 persen.

”Nanti kami lepaskan kakap bakau dan kerapu lumpur. Ikan yang kena pancing bisa dimasakkan kelompok katering. Kalau semua sudah jalan, mudah-mudahan makin banyak masyarakat sekitar terkena dampaknya sehingga makin sejahtera,” ujar Ali.



—————————————————————————

Mohammad Ali
Lahir: Bontang, 3 November 1968
Istri: Norma
Anak: Karmila, Jumlian, Fitriani, Nurlina, Mohammad Rahman
Pengalaman kerja:
– Operator alat-alat berat
– Merintis usaha pembibitan
– Ketua Kelompok Tani Lestari Indah
Penghargaan:
– Harapan II Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan, 2011
– Kelompok Tani Pelestari Lingkungan dari Kotamadya Bontang, 2011
– Kelompok Tani Pelestari Lingkungan dari Kecamatan Bontang Utara, 2011
– Kelompok Tani Konservasi Mangrove dari Provinsi Kaltim, 2011
– Terbaik  Penghijauan dan Konservasi Alam, 2011

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas,  8 Desember 2014

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page