HUT Perdana, Sekolah Anak Bahari Tanam 700 Bibit Mangrove

on Sunday, March 12, 2017


Sekolah Anak Bahari merayakan ulang tahun perdananya dengan menanam 700 bibit mangrove di Desa Patramanggala, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Tangerang. Perayaan ini diikuti oleh beberapa elemen masyarakat sekitar.
Bagus Muhamad Rijal, Ketua Sekolah Anak Bahari mengatakan, ini adalah salah satu upaya Sekolah Anak Bahari dalam menjaga lingkungan pesisir serta secara tidak langsung memberikan pendidikan kepada masyarakat pesisir untuk lebih peduli terhadap lingkungannya.
“Kita memilih menanam mangrove karena banyak manfaatnya, antara lain mencegah abrasi pantai, mengurai limbah dari darat yang masuk ke laut dan menjadi sumber makanan satwa laut, dengan harapan kedepan Sekolah Anak Bahari ini mampu memberi kebermanfaatan lebih bagi masyarakat,” terangnya, Minggu (12/2/2017).
Sementara itu, Siti Fitri Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Komite HMI Tigaraksa yang turut hadir mengapresiasi apa yang dilakukan Sekolah Anak Bahari, ditengah keterbatasan mereka masih mau melakukan berbagai kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat, seperti kegiatan menanam Mangrove ini.
“Lebih jauh mungkin Sekolah Anak Bahari bisa menjadi pelopor dalam melestarikan mangrove sebagai wisata edukasi,” tuturnya.
“Kami sangat mengapresiasi kerja nyata Sekolah Anak Bahari dengan komitmen kepedulian terhadapa dunia pendidikan dan sosialnya, selamat ulang tahun SAB semoga makin jaya dan terus mengabdi dan menginspirasi,” tambahnya.
Senada dengan Risky, salah seorang masyarakat sekitar, dirinya akan menjaga dan merawat pohon mangrove ini, karena kelak pohon mangrove ini akan menjadi penompang ekosistem masyarakat kedepannya.
“Mari kita bersama menjaga dan merawatnya bersama, karena keasrian ekositem kedepan menjadi tanggung jawab kita, dari semua lapisan masyarakat,” tutupnya.

PMI Siap Tanam 225.000 Mangrove di Aceh Jaya

on Saturday, March 11, 2017

ACEH JAYA,  – Sebagai wilayah yang sebagian besarnya pernah dihancurkan oleh tsunami pada 26 Desember 2004, Aceh Jaya telah kehilangan banyak hutan pantai akibat bencana tersebut dan menggugah Palang Merah Indonesia (PMI) melakukan  program mitigasi terpadu di Kabupaten Aceh Jaya. Salah satunya dengan kegiatan penanaman kembali hutan pantai di pesisir Aceh Jaya.
Secara simbolis penanaman mangrove dilakukan oleh Pengurus PMI Pusat, PMI Provinsi Aceh, PMI Aceh Jaya, serta Relawan PMI dan anggota SIBAT (siaga bencana berbasis masyarakat) di desa Ceunamprong pada. Simbolis ini sebagai awal dimulainya program penanaman mangrove hasil pembibitan relawan dan sibat di Aceh Jaya.
“Banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan pengelolaan yang baik dari tumbuhnya hutan mangrove. Kedepan jika tumbuh besar, bisa menjadi objek wisata. Jika ditambah nilai edukasi di dalam pengelolaannya, maka daerah wisata ini bisa ditingkatkan menjadi daerah ekowisata,” demikian dikatakan Bapak Teuku Ardiansyah Pengurus PMI Provinsi Aceh yang ikut melakukan penanaman, seperti dikutip dari laman PMI, Rabu (11/1/2017).
Dalam proses penguatan kembali hutan pantai ini, PMI melibatkan pakar dari Institut Pertanian Bogor. Proses pembibitan dilakukan langsung di daerah tanam agar angka pertumbuhan mangrove dapat tinggi. Selain itu proses pembibitan dan penanaman melibatkan langsung masyarakat sebagai penerima mamfaat dari tumbuhnya ekosistem pantai di daerah tersebut.
Untuk masing-masing desa jenis dan ragam mangrove sesuai dengan kondisi daerah tumbuh melalui rekomendasi hasil survey ahli dari IPB. Jumlah penanaman untuk Desa Lhok Geulumpang mangrove yang dibibitkan berjumlah 10.000 batang dan cemara 3.000 batang, Desa Meunasah Kulam 65.000 batang mangrove, Desa Krueng Noe 35.000 batang mangrove dan 1.000 batang cemara, Desa Ceunamprong 50.000 batang mangrove dan 1.000 batang cemara, Desa Krueng Tunong 65.000 batang mangrove dan 1.000 batang cemara. Total bibit siap tanam pada program PERTAMA tahap II ini berjumlah 225.000 batang mangrove dan 6.000 batang cemara.
Pada Program Pengurangan Resiko Terpadu Berbasis Masyarakat (PERTAMA) tahap I PMI telah menanam 109.670 batang mangrove jenis Rizhophora, Carioptagal, Brueguera, Avicenia dan 7.562 batang vegetasi pantai seperti cemara, ketapang, dan pandan, serta tanaman produktif kelapa sejumlah 6.119 batang.
Dimana sebelumnya PMI telah melakukan pembibitan di 5 desa binaan PMI yaitu desa Lhok Geulumpang, Meunasah Kulam, Krueng No, Ceunamprong, dan Krung Tunong. Jenis-jenis tanaman mangrove yang dibibitkan diantaranya Rizhopora Apiculata, Rizhopora Murcronata, Avicenia dan Cemara.
Dikatakan Al Akbar Abubakar perwakilan Palang Merah Amerika, perkembangan pengetahuan tentang arti pentingnya hutan mangrove oleh masyarakat di apresiasi secara positif. Terbukti masyarakat sangat antusias mengikuti pelatihan-pelatihan yang PMI fasilitasi.
PMI juga telah memfasilitasi pelatihan mata pencarian alternatif melalui pemamfaatan hutan manggove bukan-kayu. Misalnya, Pelatihan pembuatan sirup, selai, permen dan dodol dari buah tanaman mangrove serta pelatihan budidaya lebah madu. PMI juga telah memberikan 8 koloni lebah jenis Apis Mellifera yang didatangkan dari Cibubur supaya masyarakat dapat langsung membudidayakannya.
Selanjutnya proses penanaman bibit mangrove siap tanam, akan dilakukan oleh Relawan PMI Aceh Jaya dan anggota SIBAT di masing-masing desa. Juga akan dilakukan perawatan agar perkembangan tanaman hutan pantai tumbuh dengan baik.

NETRAL NEWS

Operasi “Serbuan Akar Lutut” Digelar di Cirebon

on Sunday, March 5, 2017

 
Kegiatan penanaman pohon mangrove di Desa Waru Duwur, Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. FOTO: Dispen Koarmabar

CIREBON - Perwira Staf dan Prajurit Lanal Cirebon bersama Taruna/Taruni AKMI (Akademi Maritim Indonesia), Pramuka Saka Bahari serta masyarakat pesisir Waruduwur menggelar operasi “Serbuan akar lutut” yaitu program tanam dan pelihara lima miliar pohon mangrove di wilayah/pantai pesisir barat Indonesia. Salah satunya dengan melaksanakan penanaman dua ribu pohon di Desa Waru Duwur, Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
“Hal ini sesuai dengan kebijakan dan perintah dari Pangarmabar untuk melaksanakan kegiatan penanaman pohon mangrove di pantai pesisir,” kata Komandan Lanal Cirebon Letkol Laut (P) Tarus Rostiyadi melalui keterangan tertulis Kadispen Koarmabar, Mayor Laut (KH) Budi Amin, Minggu (5/3).
Menurut Tarus, kegiatan ini merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan salah satu tugas pokok TNI Angkatan Laut khususnya Lanal Cirebon yaitu melaksanakan pembinaan potensi maritim menjadi kekuatan pertahanan negara di laut. Kali ini diimplementasikan melalui kegiatan fogging atau pengasapan untuk mencegah berkembang biaknya nyamuk demam berdarah di daerah pesisir dan penanaman 2000 (dua ribu) pohon mangrove (akar lutut).
Pohon mangrove ini memiliki beberapa fungsi yakni sebagai pelindung pantai dari ancaman abrasi bahkan dari gelombang tsunami. Mangrove juga menjadi tempat hidup habitat berbagai macam jenis satwa seperti biawak, kepiting bakau, udang lumpur, siput, burung, keang dan lain-lain.
Mangrove juga sebagai “Nursery Ground” yaitu tempat pembesaran banyak jenis ikan laut serta dapat menghasilkan jenis kayu yang berkualitas baik. Selain itu mangrove dapat digunakan menjadi arang kayu dan bahan pangan, minuman serta tempat wisata.
Dengan berbagai macam manfaat dari pohon mangrove ini tentunya hal ini akan membantu meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir, khususnya para nelayan. Namun yang terpenting masyarakat harus mempunyai kesadaran yang tinggi dalam menjaga lingkungan sekitar dengan memberdayakannya secara arif dan bijak.
Menurutnya, hal ini juga dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia yaitu pilar ke-2, menjaga dan mengelola sumber daya laut.
Oleh karena itu, dia berharap serbuan akar lutut ini akan digelar secara bertahap di garis pantai wilayah kerja Lanal Cirebon yang terbentang mulai dari Losari Brebes sampai dengan Karawang.

Geronimo, Aksi Tanam Bakau UAJY 2017

on

 

Acara bertema “Geronimo“ atau Green Never Stop Motion in My World, ini bertujuan untuk mengajak kaum muda bergabung dan ikut serta menyelamatkan bumi dengan aksi nyata menanam bakau.

YOGYAKARTA- Kondisi bumi saat ini cukup memprihatinkan. Perusakan ekositem dan pengalihan fungsi lahan terjadi dimana-mana. Kerusakan ekosistem laut akibat ulah manusia yang kurang memperhatikan dan menjaga ekosistem pun saat ini sudah berada pada zona merah.   

Sebagai bentuk keperdulian terhadap kelangsungan ekosistem di laut, Presidium Mahasiswa Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) mengadakan Aksi Penanaman Bakau di Pantai Baros, Dusun Baros, Kecamatan Kretek,  Bantul, Yogyakarta, Sabtu (4/3).

Seperti diketahui, hutan mangrove/bakau sangat membantu dalam pemeliharaan laut. Selain dapat mencegah terjadinya abrasi, mangrove juga dapat menjadi penyumbang oksigen terbesar untuk bumi dan terlebih mangrove merupakan tanaman yang dapat bertahan hidup terhadap kondisi cuaca yang ekstrim.

Presidium Mahasiswa Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) mengadakan Aksi Penanaman Bakau di Pantai Baros, Dusun Baros, Kecamatan Kretek, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (4/3).
Acara bertema “Geronimo“ atau Green Never Stop Motion in My World, ini bertujuan untuk mengajak kaum muda bergabung dan ikut serta menyelamatkan bumi dengan aksi nyata menanam bakau.

Aksi menanam bakau merupakan bagian dari rangkaian acara Biofair 2017, yakni acara tahunan yang diadakan oleh Presidium Mahasiswa Fakultas Teknobiologi UAJY dalam rangka memperingati hari bumi yang jatuh pada tanggal 22 April dan sudah terlaksana sejak tahun 1999.

Selain mahasiswa UAJY, aksi penanaman bakau ini juga melibatkan seluruh elemen masyarakat baik kaum muda, anak–anak hingga para orang tua, terlebih masyarakat sekitar pantai Baros.

Ketua acara Patrick Andung turut memberi  semangat kepada para mahasiswa untuk terus menjadi mahasiswa yang peduli terhadap bumi.
Selain mahasiswa UAJY, aksi penanaman bakau ini juga melibatkan seluruh elemen masyarakat baik kaum muda, anak–anak hingga para orang tua, terlebih masyarakat sekitar pantai Baros.

“Harapan saya pribadi ingin semakin hari semakin banyak kaum muda yang peduli terhadap bumi kita, dengan melakukan hal yang sangat sederhana, misal membuang sampah pada tempatnya, hemat energi dan masih banyak hal yang dapat dilakukan untuk bumi kita. Semoga keterlibatan kaum muda dalam hal konservasi semakin meningkat. Kelestarian di masa mendatang bergantung pada kepedulian kita pada hari ini,” katanya.

BERITA SATU

PMI Cilacap Tanam 10 Ribu Mangrove di Lahan Konservasi

on


Hutan Mangrove di Klaces, Kawasan Laguna Segara Anakan, Cilacap. (Foto: KBR/Muhamad Ridlo)

Cilacap – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah menanam 10 ribu bibit mangrove di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Tipar dan lahan konservasi Balai Konservasi Sumberdaya Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Sabtu sore (4/3/2017).

Kepala PMI Kabupaten Cilacap, Andi Susilo mengatakan,kegiatan ini bertujuan untuk mengurangi risiko bencana di wilayah pesisir. Terutama risiko yang ditimbulkan perubahan iklim seperti banjir rob air laut dan abrasi pantai.

“Ini adalah salah satu program atau satu bagian dari Program Pengurangan Resiko Bencana Terpadu Berbasis Masyarakat di wilayah Pesisir atau Pertama. Didukung oleh PMI Pusat dan juga Amarica Red Croos. Program Pertama sudah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Penanaman ini merupakan tahap kedua penananaman. Kita kemarin melakukan kegiatan menanam 10 ribu pohon dari 25 ribu pohon mangrove yang direncanakan akan ditanam,” jelas Kepala Markas PMI Cilacap, Andi Susilo, Minggu (5/3/2017).

Andi Susilo menjelaskan, penanaman mangrove di Karangbenda, Kecamatan Adipala merupakan rekomendasi dari Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PSKBL) Institut Pertanian Bogor (IPB). Karang Benda dinilai cocok untuk lahan konservasi sekaligus memacu berkembangnya ekosistem mangrove.

Pasalnya, pada penanaman mangrove tahap pertama di Kelurahan Tegalkamulyan, banyak bibit mangrove yang mati akibat pasang rob yang terjadi di perairan donan.

Andi Susilo menambahkan, pihaknya juga menggandeng Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKDP), Pemerintah Kecamatan, dan Pemerintah Desa. Selain itu, terlibat pula Basarnas Pos SAR Cilacap, SAR Cilacap Rescue, dan puluhan relawan yang fokus pada pelestarian lingkungan hingga siswa SD, SMP dan SMA di Kecamatan Adipala.

Menurut Andi, keterlibatan seluruh pihak itu penting sebagai kampanye untuk menjaga ekosistem mangrove sebagai upaya menanggulangi resiko akibat pemanasan global.

KBR

Diajak Tanam Mangrove, Turis Jepang Sangat Senang

on



POLEWALI,  - Puluhan wisatawan asal Jepang yang sedang menikmati liburan di sejumlah obyek wisata di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, tertarik mengabadikan perjalanan mereka dengan ikut berpartisipasi menanam mangrove di kawasan mangrove center, Kecamatan Binuang, Kamis (2/3/2017).
Kepedulian wisatawan Jepang melestarikan hutan mangrove ini mengundang perhatian warga dan wisatawan lain yang berkunjung ke Taman Mangrove Polewali.
Sebelum menanam mangrove, wisatawan Jepang itu mendapatkan penyuluhan atau kursus singkat tata cara menanam mangrove yang baik dan benar dari pihak pengelola kawasan.
Mereka juga diajak mengenali kondisi medan di kawasan mangrove Polewali.
Wisatawan asal negeri 'Sakura' ini pun tampak sangat menikmati liburan di Polewali sambil menanam mangrove.

Di kawasan ini pengelola memberikan pengenalan tentang jenis tanaman mangrove, seluk beluk dan fungsi mangrove sebagai benteng pertahanan dari abrasi laut.
Mereka didampingi pihak pengelola wisata juga mendapat bimbingan dari Dinas Kehutanan Polewali Mandar. Kawasan mangrove di Desa Sappoang ini memiliki luas 10 hektar.
Sebanyak 24 wisatawan Jepang mengaku penasaran ingin terlibat langsung menanam mangrove.
Ada juga yang beralasan ingin mengabadikan sejarah perjalanan wisata mereka ke Polewali dengan cara terlibat menanam mangrove yang diberi tanda oleh mereka.
Mereka berharap tanaman mangrove ini bisa tumbuh subur dan menjadi kenangan jika suatu saat nanti kembali berkunjung ke Polewali Mandar.
Menurut Sekretaris Dinas Pariwisata Polewali Mandar, Mustari Mula, kunjungan turis Jepang ini adalah kegiatan rutin setiap tahunnya. Tujuan utama mereka adalah berwisata agro, budaya dan bahari di Polewali Mandar.

“Mereka rutin tiap tahun ke Polewali. Mereka ikut berpartisipasi menanam mangrove sekaligus menjadi kenangan mereka sebelum pulang ke negaranya,” ujar Mustari.
Wisatawan Jepang ini berada di Polewali Mandar selama 3 hari. Sebelum kembali ke negaranya, mereka akan menikmati aneka keindahan wisata budaya, sejarah, wisata alam dan wisata agro di Polewali Mandar.



 

KOMPAS

Raja 3,5 Juta Mangrove dari Pesisir Pantura

on



Brebes - Sekitar 12 tahun terakhir, Mashadi (46), seorang aktivis lingkungan asal Kabupaten Brebes Jawa Tengah, bergelut dengan dunia mangrove di pesisir laut Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Namanya kini tak asing lagi bagi warga Brebes. Sudah tak terhitung torehan prestasi mengikuti kegigihannya menyelamatkan abrasi di Pantura laut Jawa yang semakin tahun kondisinya semakin parah.

Mulai awal 2005 lalu, hari demi hari dilewatinya dengan penuh semangat untuk berkubang di lumpur hanya untuk melestarikan tanaman mangrove. Pada awal 2017 ini, Mashudi dan kelompok binaannya kini sudah mencapai 3,35 juta pohon mangrove Mashadi dan kelompok binaannya di pesisir pantura Brebes.

Mashadi menyelamatkan pesisir laut pantura dari bencana abrasi dengan konsistensinya menanam pohon mangrove. Berkat kepedulianya terhadap kondisi lingkungan di Pantura, ia pun pernah menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden Joko Widodo dua tahun lalu.

Namun, ada satu mimpi yang hingga kini belum terwujud yakni, menjadikan Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi menjadi desa wisata mangrove yang terintegrasi pada 2022 mendatang.

"Tak hanya wisata mangrove saja, tapi segala sesuatu tentang mangrove nanti ada di sini seperti, sekolah alam bagi pelajar segala usia, batik mangrove, makanan berbahan mangrove, dan lain-lain sebagainya," ucap Mashadi. 

Meskipun berlatar belakang pendidikan perdagangan, menjadi petani adalah pilihan hidup yang Mashadi jalani. Ia lebih memilih mandi lumpur dan mandi keringat di bawah terik matahari yang acap kali membuat kulit tubuhnya tersengat.

"Apa yang saya lakukan ini ikhlas dan bertujuan untuk menyelamatkan pesisir pantura laut Jawa di Desa Pandansari, Bulakamba, Brebes. Karena abrasi yang terus menggerus dikhawatirkan menyebabkan kerusakan lingkungan yang parah jika dibiarkan," tutur dia.

Tak hanya merehabilitasi hutan mangrove, Mashadi bersama 34 warga desa lainya juga bersama-sama mengelola pesisir menjadi objek wisata mangrove yang menakjubkan dengan memberdayakan masyarakat pesisir dan penguatan kelembagaan kelompok.

Mereka kini menggelar kampanye penyadaran masyarakat, pembelajaran dan pendidikan lingkungan bagi pelajar disegala usia dan perlindungan kawasan hutan mangrove.

"Gerakan saya ini juga didukung oleh kelompok binaan di sini yang satu visi dan misi menjaga bumi dari kerusakan. Sampai saat ini, hampir 3,5 juta batang pohon mangrove sudah ditanam di sepanjang pesisir pantura Jawa di lahan seluas 210 hektare lebih," kata pria kelahiran Brebes, 1 April 2017.

Buat Sabuk Hijau Pantura

Sebanyak 3,5 juta tanaman mangrove sudah ditanam sang 'raja'. Hasil kerja keras mulai terbayar dengan udara sejuk. (Liputan6.com/Fajar Eko Nugroho)

 

 Menurut dia, banyak manfaat yang diperoleh dari penyelamatan pesisir dengan mangrove, berdampak positif pada terjaganya wilayah pesisir dari abrasi yang selalu mengancam sebagian wilayah Budi daya perikanan di pantura Brebes.

Selain itu, juga membantu program pemerintah di bidang pemberdayaan masyarakat pada umumnya dan program lingkungan hidup dan penghijauan pantai. "Manfaatnya juga di sini juga sudah terbentuk sabuk hijau pantai coastal green belt di sebagian wilayah pesisir Kabupaten Brebes," kata dia.

Kang Hadi, biasa orang menyebutnya mengatakan, sejak gerakan rehabilitasi pantura Laut Jawa digalakkan dengan menanam mangrove, kesadaran masyarakat, khususnya kelompok dampingan, mulai tumbuh terhadap ekosistem pesisir dan dampak global warming dan climate change.

Usahanya kini juga mulai dilirik berbagai pihak, khususnya para peneliti dari dalam negeri, perguruan tinggi dan luar negeri yang membutuhkan dampingan selama kegiatan penelitian dan survei di kawasan pesisir.

Berdasarkan penelitian, kepedulian Mashadi terbukti menjadikan kondisi air tambak semakin membaik. Jumlah biota laut yang hidup di sekitar hutan mangrove meningkat, sedangkan intrusi air laut ke areal persawahan bisa ditahan dan ditekan.

Bahkan, dengan adanya hutan mangrove itu juga membuat kualitas udara yang ada di sekitar tanaman mangrove yang direhabilitasi lebih bersih dan sejuk.

"Alhamdullilah, dengan kegiatan rehabilitasi mangrove hampir 3,5 juta batang ini mampu melindungi tambak tambak petani dari gempuran ombak serta dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir mampu menangkap sedimen di beberapa titik muara sungai lebih dari 50 Ha," ucap dia.

Tak hanya biota laut, kehadiran mangrove di pesisir pantura brebes itu juga kembali mengundang berbagai hewan, seperti kura-kura dan burung. Hal itu jauh berbeda dengan abrasi yang menimpa pantai Dukuh Pandansari selama kurun waktu 1985-2010.

Saat itu, 850 hektare lahan pantai hilang. Tak ayal, masyarakat setempat kehilangan mata pencaharian dan menjadikan warga yang miskin semakin miskin.

"Dari 22 hektare terdampak intrusi laut, dengan usaha dan kemauan yang tinggi bersyukur dapat dikelola 16 Ha. Jadi, mampu meringankan beban petani pada saat itu dari kerugian yang banyak," kata ayah dari Muhammad Bangkit Gunung Surya Samudra (19), Nok Ayu Nur Asih (17), dan Nugroho Mukti Syaelendra (12)

PMI Gencarkan Penanaman Mangrove

on Saturday, March 4, 2017

DEMAK – Seratusan sukarelawan dan aktivis Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Demak, kemarin, melakukan aksi penghijauan di sepanjang pesisir Pantai Wedung. Aksi penghijauan tersebut berupa penanaman mangrove di kawasan pantai, bibir sungai dan tanah timbul atau akresi di beberapa lokasi di Pantai Wedung. Pengurus PMI Cabang Demak, Daryanto mengatakan, gerakan yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat tersebut untuk mempercepat langkah penyelamatan pantai dari abrasi. “Gerusan abrasi sangat ganas sehingga harus ada upaya penangkalan dengan cara yang alami, seperti penanaman mangrove,” katanya.
Di wilayah Wedung, lanjut Daryanto yang juga Kabag Humas Pemkab Demak itu, terdapat beberapa tanah timbul atau ekresi. Pada tanah baru tersebut langsung dilakukan penyelamatan dengan ditanami mangrove.” Karena tanaman mangrove ini akan menjadi benteng dari keganasan ombak laut,” ujarnya. Dia menuturkan, penanaman mangrove tersebut merupakan program PMI Demak bekerja sama dengan American Red Cross (Amcross), dalam rangka menyelamatkan daerah pesisir dari abrasi. Pihaknya menargetkan dapat menanam sedikitnya 60.000 pohon mangrove. “Kegiatan ini akan kami lakukan secara berkelanjutan, termasuk ikut memantau perkembangan mangrove yang telah ditanam,” terangnya.
Kawasan pesisir Demak dari Sayung hingga Wedung, imbuh aktivis PMI Demak, Didit Ariyanto, mengalami perubahan sejak terdapat reklamasi pantai di wilayah Kota Semarang. Dampak kerusakan pantai terparah terjadi di kawasan pesisir Sayung. Ribuan hektare tambak di daerah itu hilang tergerus abrasi. Akan tetapi, belakangan ini gempuran abrasi mulai berkurang setelah terdapat hutan mangrove.
Di pesisir Karangtengah, Bonang dan Wedung juga mengalami ancaman serupa. Dengan demikian, perlu dilakukan gerakan penyelamatan, baik dengan cara membuat tanggul, pemecah ombak dan penanaman mangrove. “PMI akan terus memprogramkan gerakan penyelamatan alam dengan melibatkan sejumlah pihak, baik pemerintah, masyarakat maupun LSM dari dalam dan luar negeri,” katanya.

SUARA MERDEKA

Sharp Greenerator Kukuhkan Generasi Kedua

on Thursday, March 2, 2017


Anggota baru Sharp Greenerator foto bersama saat menggelar acara Boot Camp  dan menanam 100 pohon mangrove di Pulau Pari, Jakarta, beberapa waktu lalu.
JAKARTA  – Di 2017, Sharp Greenerator kembali mengu­kuh­kan anggota baru sebanyak 45 orang yang berasal dari siswa sekolah di wilayah Bogor dan sekitarnya. Rangkaian seleksi anggota baru telah berlangsung selama Januari 2017 dengan melakukan road show ke beberapa sekolah menengah umum di Kota Bogor.

Lebih dari 100 aplikasi pendaftaran yang masuk, tetapi hanya 40 siswa yang berhasil terpilih menjadi anggota Sharp Greenerator generasi kedua ini dan masuk kedalam kegiatan boot camp yang dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 25-26 Februari 2017. Ke 45 siswa ini lolos sesi penyaringan berdasarkan tulisan mereka mengenai motivasi dan pengetahuan dasar mengenai pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati Indonesia.

Bertempat di kawasan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Pulau Pari, Jakarta, keempat puluh lima anak ini mendapatkan pelatihan mengenai konservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati dari yayasan nirlaba yang menjadi pendamping Sharp Greenerator dari awal berdiri yaitu Pusat Konservasi Tumbuhan–Kebun Raya Bogor (LIPI), Yayasan Transformasi Hijau, Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS),  Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) dan World WildlifeFund  (WWF) Indonesia seperti monitoring terumbu karang dan ekosistem pesisir serta workshop pemanfaatan rumput laut dan cara pembuatan selai dari bahan dasar rumput laut yang didemokan oleh warga pulau hasil pendampingan Pusat Penelitian Oseanografi LIPI di Pulau Pari.

Guna meningkatkan kemampuan mereka menjadi generasi penerus yang memiliki visi dan misi yang kuat dalam mengkampanyekan pelestarian lingkungan, mereka pun ditantang untuk membuat rencana kegiatan selama satu tahun ke depan.
“Sebelumnya, mereka pun diharuskan mengikuti sesi visioning terlebih dahulu untuk menyatukan visi dan misi dari ke 45 anak ini agar selaras dengan visi dan misi yang dimiliki oleh Sharp Greenerator,’’ jelas  PR, CSR & Promotion Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Pandu Setio di Jakarta, Rabu (1/3).

Melalui sesi visioning, lahirlah beberapa kegiatan yang akan siap dijalankan oleh Sharp Greenerator selama satu tahun ke depan. Selain itu dalam kegiatan ini Sharp Greenerator meluncurkan jargon yang siap digunakan dalam mengkampanyekan aksi-aksi mereka.

Jargon ‘Teenagers Save Nature’  dipilih karena dirasa mampu memiliki semangat dari  Sharp Greenerator yang beranggotakan para remaja yang memiliki visi dan misi untuk membuat perubahan demi lingkungan yang lebih baik dengan cara melakukan aksi nyata pelestarian lingkungan dan keanekaragam hayati Indonesia.

Tanpa menunggu waktu lama, di hari kedua pelaksanaan Boot Camp Sharp Gree­nerator Generasi kedua, me­re­ka langsung melakukan ak­si pertamanya dengan me­lakukan aksi bersih Pulau Pari sisi bagian barat, aksi ini berhasil mengumpulkan sampah anorganik yang terbawa arus laut  maupun sampah pengunjung seberat 95 kg, tidak hanya itu mereka pun menanam 100 pohon bakau (mangrove) berjenis Rhizophora spp sebagai salah satu upaya untuk melindungi pantai dari proses erosi atau abrasi, serta menahan atau menyerap tiupan angin kencang dari laut ke darat



Cegah Abrasi Masyarakat Wedung Tanam Mangrove Bersama

on

DEMAK -- Pemerintah Kecamatan Wedung beserta Koramil, dan pelajar menggelar aksi tanam mangrove di Sungai Babalan, Desa Babalan Kecamatan wedung, Kamis (2/3/2017). Pelajar se-Kecamatan Wedung sengaja dilibatkan dalam kegiatan tersebut untuk menanamkan kepedulian lingkungan dan pencegahan abrasi.
Pelda Abu Tolka salah satu panitia dari Koramil 06/Wedung mengatakan mangrove memiliki peran sebagai benteng alamiah daratan dari terjangan abrasi pantai.
"Selain itu Mangrove juga memiliki nilai ekonomis karena kayu, buah maupun berbagai biota yang berada di dalamnya, laku di jual," terang Abu dalam press releasenya.
Menurutnya, abrasi sepanjang pantai di Kabupaten Demak terus meluas. Ia menyadari hal tersebut setelah melihat citra satelit yang dibandingkan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Demak.
"Menurut saya, selain dampak dari kerusakan hutan mangrove, abrasi yang terjadi di wilayah Pesisir Demak berkaitan dengan laju pembangunan di kawasan pesisir Kota Semarang. Ini tidak mustahil karena Demak berdekatan dengan Semarang," imbuhnya.

TRIBUN JATENG

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page