Pelestarian hutan bakau (mangrove). (dishut.sumutprov.go.id)
PONTIANAK - Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rusman Ali
mengapresiasi masyarakat Batu Ampar yang telah melakukan konservasi dan
rehabilitasi kawasan pinggir sungai dengan menanam mangrove.
"Ini tentu menujukan bahwa kesadaran masyarakat Batu Ampar sudah
sangat tinggi. Dengan melakukan konservasi pada kawasan Mangrove, tidak
hanya memberi dampak positif terhadap alam namun juga memberi kontribusi
yang signifikan dalam memajukan perekonomian masyarakat," kata Rusman
Ali di Sungai Raya, Sabtu.
Dengan mengembangkan pengelolaan kawasan mangrove dapat
meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem
pantai. Tidak hanya bermanfaat terhadap pelestarian lingkungan juga
dapat mengoptimalkan potensi wisata.
Untuk itu, Rusman Ali berharap bahwa tidak hanya pemerintah, tapi
juga masyarakat serta pihak swasta dalam pembangunan berkelanjutan
melalui aksi nyata menanam dan merehabilitasi mangrove pada daerah yang
memiliki pantai terutama adanya kerusakan pesisir pantai akibat abrasi.
"Melestarikan lingkungan hidup dan menjaga ekosistem pantai melalui penanaman mangrove berdampak positif," katanya.
Dikatakannya, konservasi mangrove bermanfaat terhadap pelestarian
lingkungan juga dapat mengoptimalkan potensi wisata dengan kehadiran
wahana ekowisata mangrove yang memiliki kontribusi positif terhadap
aktivitas ekonomi warga sekitar.
Selain pariwisata, tanaman mangrove memiliki nilai lebih secara
ekonomi karena dapat menghasilkan produk-produk olahan mangrove seperti
sirup, dodol, nastar dan selali.
"Adapun daun mangrove dapat menjadi bahan baku utama dalam pembuatan teh, bumbu pecel dan rempeyek," tuturnya.
Makassar - Pola kemitraan
dapat didorong untuk mengoptimalkan rehabilitasi mangrove. Hal ini demi
pemulihan mangrove kritis di Indonesia. Upaya rehabilitasi ini juga bisa
disinergikan dengan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) dan danau
prioritas yang kondisinya terancam.
Mangrove adalah formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di daerah
tropis dan subtropis yang tumbuh pada tanah lumpur alluvial di daerah
pantai dan muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Mangrove merupakan bagian integral dari sistem daerah aliran sungai
(DAS). Luas mangrove di dunia adalah 15 juta hektare dan 30 persennya
terdapat di Asia. Luas mangrove di Indonesia saat ini mencapai 3,4 juta
ha atau 22 persen dari luas mangrove dunia, menempati urutan pertama
terluas di dunia.
Ekosistem mangrove dengan kondisi baik dan sedang seluas 1,59 juta ha
(46 persen), sedangkan yang mengalami degradasi mencapai 1,81 juta ha
(54 persen).
Kepala Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung
(BPDAS HL) Jeneberang Saddang Sulawesi Selatan, Muhajir, mengatakan,
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong rehabilitasi
mangrove melalui pemberian bibit kepada kelompok tani atau masyarakat
dalam program kebun bibit rakyat (KBR).
"Tahun 2017 ada 30 KBR, tiga hingga empat KBR di antaranya untuk
rehabilitasi mangrove," katanya di kantor BPDAS HL Makassar, Sulawesi
Selatan, Rabu (24/5).
Menurutnya, rehabilitasi mangrove penting untuk menahan infiltrasi
air laut masuk ke darat, abrasi dan tsunami. Dampak positif lainya bisa
dijadikan kawasan ekowisata dan meningkatkan populasi udang, kepiting
dan ikan.
Dalam rehabilitasi mangrove, KLHK memberikan bantuan 25.000 bibit ke
per kelompok tani atau masyarakat dalam setahun. Pembagian bibit ini pun
harus bergilir bagi kelompok tani yang berbeda.
Terkait adanya keterhubungan rehabilitasi mangrove dan pemulihan
danau dan DAS prioritas, Muhajir mengungkapkan perlu diawali dengan
mengubah pola pikir (mind set) masyarakat, pemberdayaan dan
kemitraan yang membawa manfaat. Kemitraan yang dimaksud bisa melibatkan
BUMN atau pun pihak swasta.
Sementara itu, Kelompok Tani Sumur menjadi potret keberhasilan
rehabilitasi mangrove di Desa Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Takalar,
Sulawesi Selatan.
Rehabilitasi gambut tersebut diinisiasi Syarifuddin yang juga selaku
pembina kelompok tani Sumur, Takalar sejak tahun 2001. Berbekal kredit
uang Rp 18 juta, sarjana kehutanan ini mengawali kecintaannya pada
lingkungan hidup dengan menanami mangrove di delta Takalar yang dulunya
sangat gersang.
"Awalnya berat sekali. Dulu gersang tidak ada pepohonan," katanya di hutan mangrove Takalar, Sulawesi Selatan.
Saat pertama kali menanam, bapak empat orang anak ini melibatkan
kerabatnya untuk membantu. Sebab kerja tanpa pamrih yang digelutinya
akan sulit mengajak masyarakat lain karena tidak digaji.
Hingga akhirnya di tahun 2012, pemerintah melalui Kementerian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberi bantuan bibit dalam
program kebun bibit rakyat (KBR) dengan membantu memberikan 50.000
bibit.
"Hanya sedikit orang yang tahu manfaat hutan mangrove. Padahal banyak memberikan manfaat langsung dan tidak langsung," ucapnya.
Suksesnya
pelaksanaan Festival Mangrove Penajam 2017, mendapat sambutan serta
apresiasi Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Yusran Aspar. Dikatakannya,
kegiatan ini secara otomatis dapat dikatakan sebagai gerakan masyarakat
guna pemeliharaan tanaman bakau di daerah, sekaligus mempertahankan
stabilitas lingkungan dan pelestarian alam. Festival
tersebut kata Yusran, menghasilkan salah satu output positif, dengan
upaya menjadikan daerah sebagai kota layak huni, layak investasi, dan
layak wisata. Maka dari itu, pemerintah pun akan meneruskan pembangunan
jembatan titian mangrove di ekowisata hutan bakau, dengan panjang
mencapai 500 meter ke arah Pantai Gusung. Selain
itu, Festival Mangrove menurutnya tidak hanya mengajak masyarakat
merawat alam dengan menanam bakau, namun turut memberikan pemahaman
tentang manfaat bakau yang juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. "Atas
nama pemerintah daerah, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini
dilaksanakans ebagai bentuk kontribusi positif terhadap pembangunan
daerah. Mengingat PPU kedepan harus mampu menjadi daerah yang lebih baik
dan layak, baik untuk ditinggali, investasi, hingga potensi wisata yang
bisa dimaksimalkan," ungkap Yusran Aspar. Sebelumnya,
Festival Mangrove Penajam, digelar mulai tanggal 13-16 April 2017.
Kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan ini sebagai ajang promosi
dan kampanye pelestarian ekowisata hutan mangrove di Kabupaten PPU. Kegiatan
yang mengangkat tema “Seribu Aksi Mangrove untuk Negeri”, turut digelar
acara penanaman 1.000 bibit mangrove, soft launching lokasi ekowisata,
pentas seni budaya Paser, dan pameran komunitas-komunitas lokal PPU. terlebih
keindahan hutan bakau PPU masih alamai. Pengunjung dapat melihat kera
ekor hitam, bekantan (jenis kera hidung panjang), berbagai jenis burung
dan kepiting serta biota lainnya di objek wisata bakau itu. Sehingga
menjadi potensi apik yang bisa dikembangkan dengan lebih maksimal.
Mashadi dapat penghargaan dari Presiden Jokowi melalui prestasinya sebagai penyelamat lingkungan hidup di Pantura
Di Rembang, ada kakek Suyadi (77) yang berjuang selama 40 tahun lebih menanam dan merawat mangrove atau hutan bakau di pesisir pantai Rembang. Sama- sama berjuang 'melawan' abrasi, di Brebes ada penyelamat lingkungan bernama Mashadi (46).
Warga Desa Pagejugan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebesitu sudah 12 tahun terakhir menanam dan merawat mangrove di pesisir laut Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, di Desa Kaliwlingi, Brebes.
Usahanya itu pun diganjar penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup. Berkubang di lumpur untuk menanam mangrove mangantarkannya meraih penghargaan Kalpataru yang diberikan Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu.
Seperti halnya kakek Suyadi sang "Profesor Mangrove" dari Rembang,
Mashadi juga punya julukan sebagai "Penyelamat Mangrove" dari Brebes.
Menginjakkan kaki di pesisir Pantura Brebes pada 1995 dengan rasa
prihatin. Ribuan hektare tambak warga sekitar hilang diterjang abrasi. Abrasi sudah merusak tambak warga seluas 1.100 hektare saat itu.
Hasil budidaya udang windu pun turun drastis. Perekonomian warga yang
bergantung pada budidaya udang goyang. Sumber penghidupan mereka
satu-satunya pun terancam sirna. Tahun 2000, kondisi abrasi
semakin parah, sejumlah rumah warga sudah tergenang air laut. Mashadi
pun mulai mengajak masyarakat untuk sadar atas kondisi lingkungan di
sekitar tempat tinggal dan lahan nafkah mereka.
Baru pada 2005, sejumlah warga menerima ajakan Mashadi untuk
menyelematkan tanaman garda terdepan dari daratan pantura Brebes itu.
"Awalnya memang susah mengajak dan meyakinkan warga bahwa menanam mangrove sangat berguna bagi kehidupan mereka beberapa tahun mendatang," kata Mashadi, kemarin.
Beruntung, masih ada segelintir orang yang mau mendengarkannya dan
bersedia bergabung. Saat ini, sudah banyak warga yang mau berjuang
bersamanya. Sejak itu, dinginnya lumpur dirasakan kaki ayah tiga anak
itu setiap harinya.
Ia bertekad merehabilitasi hutan mangrove melalui penanaman bibit mangrove. Saat ini, sudah ada sebanyak 3,35 juta pohon mangrove yang ditanam di areal sekitar 210 hektare di wilayah pantai Brebes.
Menurutnya, banyak manfaat yang diperoleh dari penyelamatan pesisir dengan mangrove. Terjaganya wilayah pesisir dari abrasi yang selalu mengancam lahan budidaya perikanan di pantura Brebes.
Usahanya kini juga mulai dilirik berbagai pihak, khususnya para
peneliti perguruan tinggi dari dalam negeri maupun luar negeri.
"Berdasarkan penelitian, adanya mangrove membuat kondisi air tambak semakin membaik. Jumlah biota laut yang hidup di sekitar hutan mangrove meningkat," jelasnya.
Bahkan, kata dia, dengan adanya hutan mangrove itu juga membuat kualitas udara yang ada di sekitar lebih bersih dan sejuk.
Kehadiran mangrove di pesisir Pantura Brebes itu juga 'mengundang' berbagai hewan, semisal burung, dan kura-kura. Hal itu jauh berbeda dengan abrasi yang menerjang daerah itu beberapa tahun lalu.
Mashadi dan sejumlah tokoh masyarakat setempat juga membentuk Satuan Tugas Penjaga Segara untuk melindungi kawasan hutan mangrove. Selain itu, suami Muryanti (38) itu juga menjadikan kawasan mangrove menjadi kawasan wisata.
Dibentuklah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Mangrove Sari. Wisatawan dapat menikmati hamparan ratusan hektare mangrove menggunakan perahu.
Berbagai penghargaan
yang diterima Mashadi bukan akhir dari perjuangannya. Ia ingin mengubah
kehidupan masyarakat Brebes lebih baik. Perjuangannya pun masih
berlanjut lantaran masih ada lahan yang belum ditanami mangrove. Ia menargetkan, lahan seluas 1.100 hektare yang terdampak abrasi akan kembali pulih dengan ditanami mangrove selama 35 tahun.
"Kalau abrasi tidak ditangani, rob bisa sampai jalanan pantura. Jalan pantura bisa tenggelam 10 tahun lagi jika mangrove tidak dapat direhabilitasi," kata pria yang juga Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes itu.
Saat ini, sudah banyak perusahaan dan donatur yang mau memberikan sumbangan pohon mangrove dan menanamnya.
Bupati Demak meresmikan pembangunan jalan beton di wilayah pesisir
Wedung, untuk meningkatkan perekonomian di wilayah tersebut beberapa
waktu lalu
DEMAK -Bupati Demak, M Natsir akan meresmikan 3 destinasi ekowisata Mangrove di Kabupaten Demak. Hal itu di paparkan, Minggu (7/5/2017).
"Rencana 10 Mei nanti akan kami resmikan tiga tempat itu adalah di
Desa Kedung Mutih, Babalan, dan Berahan Wetan," jelas Natsir kepada
Tribun Jateng.
Tiga lokasi tersebut akan melengkapi satu eko wisata lainnya yang
sudah dikembangkan yakni di wilayah Morosari. Natsir mengungkapkan eko
wisata memang potensial untuk wilayah pesisir Demak.
"Tujuan kami memang selain mencegah abrasi
di pantai utara juga menjadi alternatif sumber mata pencaharian bagi
warga sekitar," terang pria dengan background pengajar tersebut.
Pihak pemkab memang sedang memberi alternatif mata pencaharian bagi
masyarakat pesisir. Hal itu karena pertanian padi mulai susah diandalkan
di wilayah pantai utara Demak.
"Jadi konsep eko wisata ini semacam sekali mendayung dua pulau terlampaui, wilayah pesisir juga akan terjaga dari abrasi pantai, tapi juga bisa untuk pariwisata dan pembelajaran soal Mangrove," bebernya
Oleh karena itu ia mengungkapkan tidak menutup kemungkinan nantinya
akan bertambah lagi lokasi serupa di daerah lain di pantura Demak.
SURABAYA – Sudah jatuh, tertimpa tangga. Kondisi tersebut,
sepertinya, menggambarkan apa yang dialamiSembilan siswa SMPN 3 Surabaya
duduk rapi di sebuah perahu. Tidak untuk berlibur menyusuri Kali
Wonorejo, melainkan memainkan perangkat musik karawitan.
Mereka hadir di salah satu dermaga Mangrove Information Center (MIC)
Wonorejo untuk menjadi pengiring acara puncak. Di dermaga itu pula, lima
boks styrofoam berisi ratusan kepiting berjejer. Petugas dari Balai
Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM)
Kelas I Surabaya I terlihat sibuk menata kepiting tersebut. Pelepasan
kepiting bakau yang masih berusia dini tersebut menjadi agenda utama
kegiatan Gemar Makan Ikan (Gemarikan).
Pelepasan kepiting juga hasil kerja sama dinas ketahanan pangan dan
pertanian (DKPP) dengan BKIPM. Kepiting yang akan dilepas tersebut
merupakan hasil operasi BKIPM. Kepiting itu tidak bisa dijual karena
ukurannya masih di bawah standar. Yakni, panjang kurang dari 15
sentimeter dan berat kurang dari 200 gram. ”Saya berharap bukan hanya
kali ini. Tapi seterusnya bisa kerja sama untuk pelepasan kepiting,”
ujar Djoestamadji, kepala DKPP. Dia mengawali pelepasan hewan dengan
nama ilmiah Scylla tersebut. Dengan menggunakan sarung tangan merah,
satu per satu kepiting dikeluarkan dari boks. Jumlah sarung tangan yang
terbatas memaksa beberapa tamu hanya memakai satu sarung tangan.
Alhasil, capit kepiting masih bebas menari, bahkan melukai tangan.
Berdasar hasil riset dari Universitas Hang Tuah, wilayah MIC
merupakan habitat yang cocok bagi pengembangan kepiting. Penangkapan
liar kepiting masih sedikit. Jadi, kepiting bisa berkembang biak dengan
baik. Selain ketersediaan lahan bakau yang cukup, sedimentasi di kawasan
itu juga kecil. ”Ini dinamakan proses restocking,” ujar Nurmalasari,
peneliti dari Universitas Hang Tuah.
Dengan restocking itu, diharapkan Surabaya mampu menjadi penghasil
kepiting bakau. Selain itu, hasil kepiting yang melimpah akan
berpengaruh pada harga yang lebih murah. ”Kalau murah, daya beli
masyarakat akan meningkat,” terang Djoestamadji.
Saat ini konsumsi ikan di Surabaya masih rendah. Angkanya 33–34
kilogram per kapita per tahun. ”Jawa Timur sudah di angka 35 kilogram
per kapita per tahun,” jelasnya. Gemarikan menjadi salah satu sarana
untuk meningkatkan konsumsi ikan di kalangan masyarakat Surabaya.
INDRAGIRI HILIR - Hamparan hutan Bakau seluas 1.000 hektare di
Pulau Cawan dan Basu Indragiri Hilir, Riau menjadi daya tarik
persinggahan migrasi gerombolan ribuan ekor Burung Blekok Asia pada
musim kawin dan bertelur.
"Blekok Asia ini datang di kisaran bulan Februari-April," kata Kepala
Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Inhil Haryono Karim di Tembilahan,
kemarin.
Blekok Asia Migrasi ke daerah ekuator saat memasuki musim kawin dan
bertelur. Karena daerah asalnya China dan Siberia pada waktu tersebut
sedang mengalami musim dingin.
"Pantai dan hutan Bakau Inhil dekat dengan ekuator, selain miliki
kedalaman lumpur yang baik menjadi habitat berbagai jenis ikan ini daya
tarik persinggahan Blekok Asia di kawasan hutan Bakau Inhil," tuturnya.
Terutama Pantai Solop Pulau Cawan dan Basu setiap tahun disinggahi
ribuan ekor burung yang katanya mirip Burung Kedidi hanya agak lebih
besar.
Bahkan tidak jarang usai musim kawin dan bertelur burung Blekok Asia
ini beberapa ekor tertinggal dari rombongannya saat migrasi ke
Australia. Namun kemudian akan kembali kerombongan musim berikutnya
tiba.
"Kemarin saya jumpai di Pulau Cawan ini ada lima ekor Blekok Asia yang
kececer dari gerombolannya dan tetap di kawasan Bakau Pulau Cawan dan
Basu hingga musim berikut tiba untuk bergabung," urainya.
Menurutnya, ini satu keberuntungan bagi habitat Bakau Pulau Cawan dan Basu karena menambah khasanah hewan langka.
"Kececernya unggas asal Siberia yang tiap musim bermigrasi ke Australia
ini pun sempat berkembang biak di Hutan Bakau dan akan kembali lagi
kepada gerombolannya saat mereka tiba musim tahun depan," tegasnya.
Blekok Asia juga mengumpulkan pakannya dari kawasan pantai pasang surut
Inhil. Sebab di daerah itu banyak terdapat jenis ikan dan kerang.
"Makanya jenis burung laut ini betah mampir ke mari karena banyak
pakannya yakni ikan segar," jelas Haryono Karim yang memang banyak tau
tentang ekologi karena pernah berdinas cukup lama di Badan Lingkungan
Hidup (BLH) Inhil.
Keberadaan burung migrasi ini menambah keunikan Pantai Solop menjadi
bagian Bakau Pulau Cawan. Pantai yang memiliki pasir dibentuk oleh
triliunan kulit binatang laut menepi saat pasang surut terhimpun seakan
terperangkap oleh lumpur semula, sehingga menjadikannya sebuah fenomena
alam yang sangat unik.
Hamparan fosil binatang laut yang membentuk pantai indah asri di Solop itu, juga tak kepalang karena panjangnya tiga kilometer.
Dengan kondisi bentukan pasir dari fosil kerang Inilah maka Pantai
Solop juga dinamakan dengan Pantai Seresah, yaitu pantai yang dibentuk
dari fosil binatang seperti kerang, siput, senteng, lokan dan berbagai
jenis lainnya.
Pemandangan saat memasuki jantung hutan Mangrove di kawasan Wisata
Mangrove, di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten
Langkat.
BINJAI - Desa Lubuk Kertang yang dulunya rusak parah
kini menjadi kawasan wisata baru. Kawasan yang dulunya hutan ini kini
menjelma menjadi hutan mangrove yang subur dan indah.
Sepuluh tahun yang lalu, warga desa setempat sepakat untuk
mengembalikan fungsi kawasan hutan sebagai tempat Biota laut dan tempat
berkembangnya mangrove.
Memasuki kawasan tersebut, wisatawan akan disuguhi hamparan mangrove
hijau nan cantik. Tulisan selamat datang, seakan menyambut wisatawan
yang hendak memasuki kawasan wisata hutan mangrove itu.
Dengan luas lahan sekitar 100 hektar, kawasan ini dulunya adalah
kawasan yang rusak parah akibat pembalakan liar. Sedihnya, mereka
meninggalkan lokas tanpa melakukan penanaman kembali.
Ketua kelompok tani
Mekar, Desa Lubuk Kertang, Dian Batubara, Rabu (3/5/2017), mengatakan
keinginan mereka untuk melestarikan hutan mangrove karena merasa sedih
melihat kerusakan kampung mereka.
Reportase Anang Pujimanto Staf TU SD Muhammadiyah 4 Surabaya MANGROVE adalah kelompok tanaman yang ada di garis
pantai dalam jangkauan pasang surut air laut dan di dalam hutan mangrove
bisa terdapat 202 jenis tanaman. Demikian paparan Soni Muchson, Ketua Kelompok Tani mangrove Surabaya
saat pembelajaran hutan mangrove bersama siswa kelas VI SD Muhammadiyah
4 (Mudipat) Pucang Surabaya, di aula Din Syamsudin, Kamis (20/4/2017).
Soni Muchson mengimbuhkan, mangrove berfungsi sebagai penahan abrasi
dari gempuran ombak dan tsunami, sebagai filter resapan air laut ke
darat.
"Kalau tak ada mangrove air akan terasa asin, karena mangrove juga
penyerap karbondioksida, memproduksi oksigen, dan penyedia makanan bagi
biota laut,” urai Soni.
Indonesia, sebut Soni, memiliki garis pantai dengan panjang hampir
100.000 km dengan jumlah pulau lebih dari 17.000. Dengan kondisi itu
Indonesia memiliki hamparan mangrove terbanyak. "Hampir 25 persen
mangrove di dunia ada di Indonesia yang tumbuh di tambak, muara sungai,
laguna, delta, dan pantai," sebutnya.
Untuk itulah menjaga kelestarian mangrove sangatlah penting, karena
mangrove memiliki banyak fungsi utama bagi lingkungan, sehingga
kelestarian harus dijaga.
Di antaranya, menanam mangrove sesuai tempat hidupnya, tak
memanfaatkan kayu mangrove, mengingat akhir-akhir ini kayu tanaman
mangrove banyak dipakai sebagai bahan membuat chip semikonduktor.
Mangrove merupakan anugrah Tuhan yang harus dimanfaatkan sebaik
mungkin, karena itu Soni mencanangkan gerakan ayo memetik mangrove,
bukan menebangnya.
Pria kelahiran Bojonegoro itu menerangkan manfaat lain tanaman
sebagai bahan makanan yang bisa diolah menjadi tepung pengganti beras
yang rendah gula dan tinggi serat, dibuat menjadi berbagai macam kue
kering, jenang.
Bahkan, bisa untuk pewarna batik, untuk obat herbal, menurunkan gula
darah, obat untuk penyakit hepatitis, kosmetika, serta untuk wahana
penelitian dan eduwisata.
Soni bahkan berhasil menemukan, buah dari tanaman mangrove bisa diolah menjadi sirup mangrove, dan sudah mendapat sertifikasi dari Kementerian Kesehatan sejak 2007.
Pelajaran paling mengesankan bagi para siswa saat Soni mengajarkan
proses pembuatan sirup, mulai dari mengupas buah, menyiapkan bahan
untuk direbus hingga menjadi sirup siap minum.
“Sirup dari bahan tanaman mangrove ini cukup aman dan mudah dibuat,
anak-anak pasti bisa membuatnya sendiri di rumah,” ujarnya di akhir
pembelajaran tematik lingkungan di luar kelas.
“Selain pembelajaran teori di dalam kelas, siswa Mudipat Pucang
Surabaya ini juga menerima pelajaran di luar kelas, sekolah mendatangkan
pemerhati lingkungan yang ahli tentang mangrove,” imbuh Ustadz Edi
Purnomo, Humas SD Muhammadiyah 4 Surabaya.
Hutan mangrove raksasa di Pulau Cawan (Chaidir/detikTravel)
Indragiri Hilir - Ada yang unik di Kabupaten Indragiri Hilir. Ada hutan mangrove berukuran besar-besar. Diameter pohonnya sampai 40 cm.
Lokasi
kawasan mangrove ini tepatnya berada di Pulau Cawan, Kecamatan Mandah,
Kab Inhil. Pulau Cawan ini berada di semenanjung pantai timur Sumatera.
Perjalanannya yang ditempuh dari Pekanbaru menuju Tembilahan, Ibukota
Inhil dengan jalan darat sekitar 8 jam perjalanan.
Memang, untuk
menuju kawasan mangrove ini, dari Kota Tembilahan masih menyambung
dengan kapal motor dengan perjalanan sekitar 1 jam 30 menit. Perjalanan
dengan kapal motor menelusuri selat dengan airnya yang keruh.
detikTravel
berkesempatan menginjakan kaki ke Pulau Cawan ini bersama Gubernur
Riau, Arsyadjuliandi Rachman, Bupati Inhil, HM Wardan bersama Kapolres
Inhil, AKPB Dolifar Manurung, dan Kadis Pariwisata Provinsi Riau,
Fahmizal, pada Minggu (30/4/2017).
Mangrove yang lebat (Chaidir/detikTravel)
Ketika kapal motor merapat di Pantai Cawan, berjejer rumah-rumah
panggung masyarakat setempat menghadap pantai. Khas bahasa Melayu sangat
terasa di sana.
Rombongan disambut makan siang dengan hidangan
ikan laut hasil tangkapan masyarakat. Ada udang, ikan, serta kelapa muda
yang tersedia.
Usai santap makan siang, melanjutkan jalan-jalan
di atas jalur tracking yang terbuat dari kayu selebar satu meter dengan
tinggi dari permukaan rawa gambut sekitar 75 cm. Tracking yang ada ini,
merupakan program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan sepanjang 2 km
dan 300 meter dibangun Pemprov Riau.
Memasuki kawasan hutan
bakau, sungguh pemandangan yang tak terlupakan. Batang mangrove
menjulang tinggi mencakar langit. Terik matahari terbendung oleh
rimbunnya pohon bakau tersebut.
Jalur tracking (Chaidir/detikTravel)
Hukan bakau nan tumbuh secara alami ini menyejukan mata saat memandang.
Uniknya, pohon-pohon bakau ini tumbuh bagai raksasa dengan lingkaran
pohon mencapai rata-rata 40 cm. Padahal umumnya, pohon bakau hanya
memiliki lingkaran 20 cm.
"Kami belum pernah melakukan penelitian
soal bakau ini di Riau. Tapi kemungkinan, pohon bakau di pulau Cawan
ini bisa disebut paling terbesar di Riau," kata Kabid Pariwisata Kab
Inhil, Hariono Karim kepada detikTravel.
Selain pohon bakau yang
menjulang tinggi, akar-akarnya menggurita juga menjadi pemandangan yang
asyik. Di traking yang tersedia di sana, kita bisa mengikuti sejumlah
ruas untuk melihat bakau tersebut.
Ada juga tersedia toilet,
serta menara yang dibangun dari batang kayu menjulang tinggi. Menaiki
tapak tangga di atas menara itu, menjadi pemandangan yang cukup indah
untuk melihat hutan mangrove.
Aneka jenis mangrove yang ada (Chaidir/detikTravel)
Di kawasan hutan mangrove ini, tercatat ada 12 jenis pohon bakau.
Jenis-jenis bakau itu adalah Perepat (Sonneratia alba), Teruntum Merah
(Lumnitzera littorea), Kedabu (Sonneratia ovata), Piyai (Acrostichum
aureum) Buta-buta (Excocaria agalioca), Nyirah Batu (Xylocarpus
moluccensis), Bakau (Rhizophora apiculata), Langgadai (Bruguiera
parviflora), Ketapang, Teruntum Putih (Lumnitzera lacemosa), Nyirah
(Xylocarpus granatum), Api-api (Avicennia alba).
Di kawasan
mangrove ini juga terdapat spesies burung. Ada burung bangau kambing,
blekok, bangau putih, elang bondol. Ada juga ular piton, dan ular kobra.
Setiap
hari libur masyarakat dari Kab Inhil serta sejumlah kampus yang ada di
Pekanbaru sering melakukan kunjungan di sana. Rata-rata setiap hari
libur pengunjung lokal yang datang antara 100 sampai 300 orang.
"Namun
kita menutup kawasan ini pada jam 5 sore. Karena rimbunnya bakau,
membuat jam lima sore itu sudah tampak gelap," kata Hariono.
Menara pandang (Chaidir/detikTravel)
Di Pulau Cawan ini, ada sekitar 200 kepala keluarga (KK) yang hidup di
sana. Khusus di sekitar kawasan hutan mangrove, hanya ada sekitar 27 KK.
Kesehariannya, masyarakat hidup sebagai nelayan.
Untuk
penerangan, mereka tidak memiliki aliran listrik dari PLN. Pemprov Riau
membang tenaga listrik dari surya. Listrik tenaga surya inilah menjadi
andalan masyarakat di sana.
Setelah puas berjalan-jalan di
kawasan hutan bakau, kita bisa memanjangkan mata sebentar duduk santai
di tepi Pantai Solop. Walau pantai ini tidaklah begitu menarik, namun
masih bisa untuk rehat sejenak menikmati air pantai yang keruh itu. Anda
penasaran ingin melihat raksasa mangrove, tidak ada salahnya bertualang
ke Kab Inhil. DETIK TRAVEL