Cerita sosok tangguh di balik reboisasi hutan mangrove Brebes

on Wednesday, May 31, 2017





Wilayah daratan pantai Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes sudah dikenal mengalami abrasi yang terjadi sejak tahun 1985. Hingga tahun 2010, sekitar 850 Ha lahan tambak dan sawah masyarakat hilang tergerus pengikisan tersebut. Tak bisa dipungkiri, kondisi tersebut dapat menyebabkan efek domino masyarakat yang terancam kehilangan mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, hingga urbanisasi.

Kondisi yang memprihatinkan ini ternyata menggerakkan nurani salah satu masyarakatnya, yaitu Mashadi. Berbekal kekhawatiran abrasi yang bisa melenyapkan kampungnya, pria tersebut mengajak warga sekitar untuk melakukan kegiatan penanaman mangrove kembali untuk mencegah dampak abrasi yang semakin meluas.

Perjuangan tangguh penanaman pohon mangrove ini dilakukan Mashadi sejak tahun 2005. Ada banyak kegiatan yang dilakukan pria tersebut untuk menyelamatkan kampungnya, mulai dari pengelolaan pesisir, pemberdayaan masyarakat pesisir, penguatan kelembagaan kelompok, kampanye kesadaran masyarakat, hingga perlindungan kawasan hutan mangrove.

Tak hanya itu saja, Mashadi juga melakukan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat lokal, pemanfaatan lahan kritis, hingga membentuk Satuan Tugas Penjaga Segara (Satgas Gara) dan pertanian berkelanjutan demi mempertahankan wilayah kampung mereka dari risiko abrasi.

Mashadi berhasil membuktikan kalau kondisi alam yang tak bersahabat bukan berarti membuat dia dan warga masyarakat lainnya tidak bisa melakukan apa-apa. Tak menyerah dengan keadaan, Mashadi akhirnya berhasil membuktikan kalau perjuangannya tidak pernah sia-sia. Saat ini, 25 hektar tambak yang terancam dapat dilindungi. Dari 22 Ha terdampak, mereka dapat mengelola hingga 16 Ha.

Hingga kini sudah lebih dari tiga juta pohon mangrove yang tertanam di wilayah tersebut. Bahkan, hutan mangrove ini menjadi potensi wisata baru yang menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung ke Desa Kaliwlingi. Hampir semua tambak yang ada di wilayah tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk budidaya perikanan.

Kepedulian yang besar di bidang lingkungan ini membuat pria kelahiran 1 April 1971 tersebut sukses meraih penghargaan bergengsi nasional. Mashadi menerima Kalpataru dari Presiden RI Joko Widodo pada tahun 2015 lalu di Istana Negara. Selain itu, perjuangan Mashadi pun membuatnya sukses terpilih menjadi Pejuang Tangguh Panadol dan tampil di acara Kick Andy.

Mashadi menjadi sosok inspiratif yang membuktikan ketangguhannya untuk tak menyerah dengan keadaan.


Tonton video perjuangan tangguh Mashadi selengkapnya di sini, yuk!

Delegasi Timor Leste Amati Pengelolaan Mangrove di Probolinggo

on Monday, May 29, 2017

Delegasi Pemerintah Timor Leste datangi Pantai Duta Probolinggo (Foto: M. Rofiq)

Probolinggo - Pemerintah Timor Leste mendatangi Pantai Duta di Desa Randutatah, Paiton, Kabupaten Probolinggo. Kedatangan delegasi negara tetangga itu bertujuan untuk melihat dari dekat pengelolaan konservasi mangrove yang dilakukan masyarakat setempat di kawasan wisata tersebut.

Delegasi Pemerintah Timor Leste dipimpin Director General of Forestry, Coffe and Industrial Plants, Manuel Mendez. Kedatangannya diterima oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo Rachmad Waluyo, Minggu (28/5/2017).

Mendez mengatakan bahwa kedatangannya sebanyak bersama tujuh orang bertujuan ingin mengetahui bagaimana pemerintah Indonesia khususnya Pemkab Probolinggo memotivasi masyarakat tentang kesadaran lingkungan.

"Kalau di Timor Leste kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sangat kurang. Bahkan mereka sangat acuh dan tidak mau tahu tentang lingkungannya. Oleh karenanya, kami ingin tahu apa saja yang dilakukan pemerintah di sini sehingga masyarakat ikut berperan aktif menjaga kelestarian lingkungan," kata Mendez.

Pengelola Pantai Duta, Abdul Aziz, mengungkapkan bahwa Pantai Duta awalnya tidak seperti sekarang ini. Ketika itu Pantai Duta tidak terawat dan kotor. Berangkat dari kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan, akhirnya dirinya melakukan penanaman mangrove.

"Setelah mangrove tumbuh, barulah datang CSR dari PJB Paiton yang mulai menanam pohon cemara laut. Dari situlah akhirnya keberadaan disini mulai berkembang hingga akhirnya bisa seperti sekarang," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, rombongan Pemerintah Timor Leste melihat-lihat dari dekat keberadaan mangrove center dan lokasi lingkungan Pantai Duta yang sudah tertata dengan baik melalui deratan mangrove dan cemara laut.

Detik

Bupati apresiasi konservasi mangrove oleh masyarakat

on Sunday, May 28, 2017


Pelestarian hutan bakau (mangrove). (dishut.sumutprov.go.id)
PONTIANAK - Bupati Kubu Raya, Kalimantan Barat, Rusman Ali mengapresiasi masyarakat Batu Ampar yang telah melakukan konservasi dan rehabilitasi kawasan pinggir sungai dengan menanam mangrove.

"Ini tentu menujukan bahwa kesadaran masyarakat Batu Ampar sudah sangat tinggi. Dengan melakukan konservasi pada kawasan Mangrove, tidak hanya memberi dampak positif terhadap alam namun juga memberi kontribusi yang signifikan dalam memajukan perekonomian masyarakat," kata Rusman Ali di Sungai Raya, Sabtu.

Dengan mengembangkan pengelolaan kawasan mangrove dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem pantai. Tidak hanya bermanfaat terhadap pelestarian lingkungan juga dapat mengoptimalkan potensi wisata.

Untuk itu, Rusman Ali berharap bahwa tidak hanya pemerintah, tapi juga masyarakat serta pihak swasta dalam pembangunan berkelanjutan melalui aksi nyata menanam dan merehabilitasi mangrove pada daerah yang memiliki pantai terutama adanya kerusakan pesisir pantai akibat abrasi.

"Melestarikan lingkungan hidup dan menjaga ekosistem pantai melalui penanaman mangrove berdampak positif," katanya.

Dikatakannya, konservasi mangrove bermanfaat terhadap pelestarian lingkungan juga dapat mengoptimalkan potensi wisata dengan kehadiran wahana ekowisata mangrove yang memiliki kontribusi positif terhadap aktivitas ekonomi warga sekitar.

Selain pariwisata, tanaman mangrove memiliki nilai lebih secara ekonomi karena dapat menghasilkan produk-produk olahan mangrove seperti sirup, dodol, nastar dan selali.

"Adapun daun mangrove dapat menjadi bahan baku utama dalam pembuatan teh, bumbu pecel dan rempeyek," tuturnya.

ANTARA

Pola Kemitraan Optimalkan Rehabilitasi Mangrove

on Wednesday, May 24, 2017




Makassar - Pola kemitraan dapat didorong untuk mengoptimalkan rehabilitasi mangrove. Hal ini demi pemulihan mangrove kritis di Indonesia. Upaya rehabilitasi ini juga bisa disinergikan dengan rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS) dan danau prioritas yang kondisinya terancam.
Mangrove adalah formasi tumbuhan daerah litoral yang khas di daerah tropis dan subtropis yang tumbuh pada tanah lumpur alluvial di daerah pantai dan muara sungai dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Mangrove merupakan bagian integral dari sistem daerah aliran sungai (DAS). Luas mangrove di dunia adalah 15 juta hektare dan 30 persennya terdapat di Asia. Luas mangrove di Indonesia saat ini mencapai 3,4 juta ha atau 22 persen dari luas mangrove dunia, menempati urutan pertama terluas di dunia.
Ekosistem mangrove dengan kondisi baik dan sedang seluas 1,59 juta ha (46 persen), sedangkan yang mengalami degradasi mencapai 1,81 juta ha (54 persen).
Kepala Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS HL) Jeneberang Saddang Sulawesi Selatan, Muhajir, mengatakan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mendorong rehabilitasi mangrove melalui pemberian bibit kepada kelompok tani atau masyarakat dalam program kebun bibit rakyat (KBR).
"Tahun 2017 ada 30 KBR, tiga hingga empat KBR di antaranya untuk rehabilitasi mangrove," katanya di kantor BPDAS HL Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (24/5).
Menurutnya, rehabilitasi mangrove penting untuk menahan infiltrasi air laut masuk ke darat, abrasi dan tsunami. Dampak positif lainya bisa dijadikan kawasan ekowisata dan meningkatkan populasi udang, kepiting dan ikan.
Dalam rehabilitasi mangrove, KLHK memberikan bantuan 25.000 bibit ke per kelompok tani atau masyarakat dalam setahun. Pembagian bibit ini pun harus bergilir bagi kelompok tani yang berbeda.
Terkait adanya keterhubungan rehabilitasi mangrove dan pemulihan danau dan DAS prioritas, Muhajir mengungkapkan perlu diawali dengan mengubah pola pikir (mind set) masyarakat, pemberdayaan dan kemitraan yang membawa manfaat. Kemitraan yang dimaksud bisa melibatkan BUMN atau pun pihak swasta.
Sementara itu, Kelompok Tani Sumur menjadi potret keberhasilan rehabilitasi mangrove di Desa Takalar, Kecamatan Mappakasunggu, Takalar, Sulawesi Selatan.
Rehabilitasi gambut tersebut diinisiasi Syarifuddin yang juga selaku pembina kelompok tani Sumur, Takalar sejak tahun 2001. Berbekal kredit uang Rp 18 juta, sarjana kehutanan ini mengawali kecintaannya pada lingkungan hidup dengan menanami mangrove di delta Takalar yang dulunya sangat gersang.
"Awalnya berat sekali. Dulu gersang tidak ada pepohonan," katanya di hutan mangrove Takalar, Sulawesi Selatan.
Saat pertama kali menanam, bapak empat orang anak ini melibatkan kerabatnya untuk membantu. Sebab kerja tanpa pamrih yang digelutinya akan sulit mengajak masyarakat lain karena tidak digaji.
Hingga akhirnya di tahun 2012, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memberi bantuan bibit dalam program kebun bibit rakyat (KBR) dengan membantu memberikan 50.000 bibit.
"Hanya sedikit orang yang tahu manfaat hutan mangrove. Padahal banyak memberikan manfaat langsung dan tidak langsung," ucapnya.

Berita Satu

Apresiasi Festival Mangrove, Yusran Janji Rampungkan Jembatan Wisata Bakau

on Friday, May 19, 2017


Suksesnya pelaksanaan Festival Mangrove Penajam 2017, mendapat sambutan serta apresiasi Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Yusran Aspar. Dikatakannya, kegiatan ini secara otomatis dapat dikatakan sebagai gerakan masyarakat guna pemeliharaan tanaman bakau di daerah, sekaligus mempertahankan stabilitas lingkungan dan pelestarian alam.
Festival tersebut kata Yusran, menghasilkan salah satu output positif, dengan upaya menjadikan daerah sebagai kota layak huni, layak investasi, dan layak wisata. Maka dari itu, pemerintah pun akan meneruskan pembangunan jembatan titian mangrove di ekowisata hutan bakau, dengan panjang mencapai 500 meter ke arah Pantai Gusung.
Selain itu, Festival Mangrove menurutnya tidak hanya mengajak masyarakat merawat alam dengan menanam bakau, namun turut memberikan pemahaman tentang manfaat bakau yang juga memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.
"Atas nama pemerintah daerah, saya sangat mengapresiasi kegiatan ini dilaksanakans ebagai bentuk kontribusi positif terhadap pembangunan daerah. Mengingat PPU kedepan harus mampu menjadi daerah yang lebih baik dan layak, baik untuk ditinggali, investasi, hingga potensi wisata yang bisa dimaksimalkan," ungkap Yusran Aspar.
Sebelumnya, Festival Mangrove Penajam, digelar mulai tanggal 13-16 April 2017. Kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan ini sebagai ajang promosi dan kampanye pelestarian ekowisata hutan mangrove di Kabupaten PPU.
Kegiatan yang mengangkat tema “Seribu Aksi Mangrove untuk Negeri”, turut digelar acara penanaman 1.000 bibit mangrove, soft launching lokasi ekowisata, pentas seni budaya Paser, dan pameran komunitas-komunitas lokal PPU.
terlebih keindahan hutan bakau PPU masih alamai. Pengunjung dapat melihat kera ekor hitam, bekantan (jenis kera hidung panjang), berbagai jenis burung dan kepiting serta biota lainnya di objek wisata bakau itu. Sehingga menjadi potensi apik yang bisa dikembangkan dengan lebih maksimal.

KLIK PENAJAM

MENGENAL Mashadi, Penyelamat Mangrove di Pesisir Pantura

on Sunday, May 14, 2017

 
 
Mashadi dapat penghargaan dari Presiden Jokowi melalui prestasinya sebagai penyelamat lingkungan hidup di Pantura 


Di Rembang, ada kakek Suyadi (77) yang berjuang selama 40 tahun lebih menanam dan merawat mangrove atau hutan bakau di pesisir pantai Rembang. Sama- sama berjuang 'melawan' abrasi, di Brebes ada penyelamat lingkungan bernama Mashadi (46).
Warga Desa Pagejugan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebesitu sudah 12 tahun terakhir menanam dan merawat mangrove di pesisir laut Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah, di Desa Kaliwlingi, Brebes.
Usahanya itu pun diganjar penghargaan tertinggi di bidang pelestarian lingkungan hidup. Berkubang di lumpur untuk menanam mangrove mangantarkannya meraih penghargaan Kalpataru yang diberikan Presiden Joko Widodo pada 2015 lalu.
Seperti halnya kakek Suyadi sang "Profesor Mangrove" dari Rembang, Mashadi juga punya julukan sebagai "Penyelamat Mangrove" dari Brebes.
Menginjakkan kaki di pesisir Pantura Brebes pada 1995 dengan rasa prihatin. Ribuan hektare tambak warga sekitar hilang diterjang abrasi. Abrasi sudah merusak tambak warga seluas 1.100 hektare saat itu.
Hasil budidaya udang windu pun turun drastis. Perekonomian warga yang bergantung pada budidaya udang goyang. Sumber penghidupan mereka satu-satunya pun terancam sirna.
Tahun 2000, kondisi abrasi semakin parah, sejumlah rumah warga sudah tergenang air laut. Mashadi pun mulai mengajak masyarakat untuk sadar atas kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal dan lahan nafkah mereka.
Baru pada 2005, sejumlah warga menerima ajakan Mashadi untuk menyelematkan tanaman garda terdepan dari daratan pantura Brebes itu. "Awalnya memang susah mengajak dan meyakinkan warga bahwa menanam mangrove sangat berguna bagi kehidupan mereka beberapa tahun mendatang," kata Mashadi, kemarin.
Beruntung, masih ada segelintir orang yang mau mendengarkannya dan bersedia bergabung. Saat ini, sudah banyak warga yang mau berjuang bersamanya. Sejak itu, dinginnya lumpur dirasakan kaki ayah tiga anak itu setiap harinya.
Ia bertekad merehabilitasi hutan mangrove melalui penanaman bibit mangrove. Saat ini, sudah ada sebanyak 3,35 juta pohon mangrove yang ditanam di areal sekitar 210 hektare di wilayah pantai Brebes.
Menurutnya, banyak manfaat yang diperoleh dari penyelamatan pesisir dengan mangrove. Terjaganya wilayah pesisir dari abrasi yang selalu mengancam lahan budidaya perikanan di pantura Brebes.
 
Usahanya kini juga mulai dilirik berbagai pihak, khususnya para peneliti perguruan tinggi dari dalam negeri maupun luar negeri. "Berdasarkan penelitian, adanya mangrove membuat kondisi air tambak semakin membaik. Jumlah biota laut yang hidup di sekitar hutan mangrove meningkat," jelasnya.
Bahkan, kata dia, dengan adanya hutan mangrove itu juga membuat kualitas udara yang ada di sekitar lebih bersih dan sejuk.
Kehadiran mangrove di pesisir Pantura Brebes itu juga 'mengundang' berbagai hewan, semisal burung, dan kura-kura. Hal itu jauh berbeda dengan abrasi yang menerjang daerah itu beberapa tahun lalu.
Mashadi dan sejumlah tokoh masyarakat setempat juga membentuk Satuan Tugas Penjaga Segara untuk melindungi kawasan hutan mangrove. Selain itu, suami Muryanti (38) itu juga menjadikan kawasan mangrove menjadi kawasan wisata.
Dibentuklah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dewi Mangrove Sari. Wisatawan dapat menikmati hamparan ratusan hektare mangrove menggunakan perahu.
Berbagai penghargaan yang diterima Mashadi bukan akhir dari perjuangannya. Ia ingin mengubah kehidupan masyarakat Brebes lebih baik. Perjuangannya pun masih berlanjut lantaran masih ada lahan yang belum ditanami mangrove. Ia menargetkan, lahan seluas 1.100 hektare yang terdampak abrasi akan kembali pulih dengan ditanami mangrove selama 35 tahun.
"Kalau abrasi tidak ditangani, rob bisa sampai jalanan pantura. Jalan pantura bisa tenggelam 10 tahun lagi jika mangrove tidak dapat direhabilitasi," kata pria yang juga Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Brebes itu.
Saat ini, sudah banyak perusahaan dan donatur yang mau memberikan sumbangan pohon mangrove dan menanamnya.

Tribun Jateng

KEREN, Demak Punya Tiga Destinasi Ekowisata Mangrove yang Segera Diresmikan

on Sunday, May 7, 2017

Bupati Demak meresmikan pembangunan jalan beton di wilayah pesisir Wedung, untuk meningkatkan perekonomian di wilayah tersebut beberapa waktu lalu

DEMAK - Bupati Demak, M Natsir akan meresmikan 3 destinasi ekowisata Mangrove di Kabupaten Demak. Hal itu di paparkan, Minggu (7/5/2017).
"Rencana 10 Mei nanti akan kami resmikan tiga tempat itu adalah di Desa Kedung Mutih, Babalan, dan Berahan Wetan," jelas Natsir kepada Tribun Jateng.
Tiga lokasi tersebut akan melengkapi satu eko wisata lainnya yang sudah dikembangkan yakni di wilayah Morosari. Natsir mengungkapkan eko wisata memang potensial untuk wilayah pesisir Demak.
"Tujuan kami memang selain mencegah abrasi di pantai utara juga menjadi alternatif sumber mata pencaharian bagi warga sekitar," terang pria dengan background pengajar tersebut.
Pihak pemkab memang sedang memberi alternatif mata pencaharian bagi masyarakat pesisir. Hal itu karena pertanian padi mulai susah diandalkan di wilayah pantai utara Demak.
"Jadi konsep eko wisata ini semacam sekali mendayung dua pulau terlampaui, wilayah pesisir juga akan terjaga dari abrasi pantai, tapi juga bisa untuk pariwisata dan pembelajaran soal Mangrove," bebernya
Oleh karena itu ia mengungkapkan tidak menutup kemungkinan nantinya akan bertambah lagi lokasi serupa di daerah lain di pantura Demak.

TRIBUN NEWS

Rayakan Hari Jadi Kota, Lepas 724 Ekor Kepiting Bakau

on


SURABAYA – Sudah jatuh, tertimpa tangga. Kondisi tersebut, sepertinya, menggambarkan apa yang dialamiSembilan siswa SMPN 3 Surabaya duduk rapi di sebuah perahu. Tidak untuk berlibur menyusuri Kali Wonorejo, melainkan memainkan perangkat musik karawitan.

Mereka hadir di salah satu dermaga Mangrove Information Center (MIC) Wonorejo untuk menjadi pengiring acara puncak. Di dermaga itu pula, lima boks styrofoam berisi ratusan kepiting berjejer. Petugas dari Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kelas I Surabaya I terlihat sibuk menata kepiting tersebut. Pelepasan kepiting bakau yang masih berusia dini tersebut menjadi agenda utama kegiatan Gemar Makan Ikan (Gemarikan).

Pelepasan kepiting juga hasil kerja sama dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) dengan BKIPM. Kepiting yang akan dilepas tersebut merupakan hasil operasi BKIPM. Kepiting itu tidak bisa dijual karena ukurannya masih di bawah standar. Yakni, panjang kurang dari 15 sentimeter dan berat kurang dari 200 gram. ”Saya berharap bukan hanya kali ini. Tapi seterusnya bisa kerja sama untuk pelepasan kepiting,” ujar Djoestamadji, kepala DKPP. Dia mengawali pelepasan hewan dengan nama ilmiah Scylla tersebut. Dengan menggunakan sarung tangan merah, satu per satu kepiting dikeluarkan dari boks. Jumlah sarung tangan yang terbatas memaksa beberapa tamu hanya memakai satu sarung tangan. Alhasil, capit kepiting masih bebas menari, bahkan melukai tangan.

Berdasar hasil riset dari Universitas Hang Tuah, wilayah MIC merupakan habitat yang cocok bagi pengembangan kepiting. Penangkapan liar kepiting masih sedikit. Jadi, kepiting bisa berkembang biak dengan baik. Selain ketersediaan lahan bakau yang cukup, sedimentasi di kawasan itu juga kecil. ”Ini dinamakan proses restocking,” ujar Nurmalasari, peneliti dari Universitas Hang Tuah.

Dengan restocking itu, diharapkan Surabaya mampu menjadi penghasil kepiting bakau. Selain itu, hasil kepiting yang melimpah akan berpengaruh pada harga yang lebih murah. ”Kalau murah, daya beli masyarakat akan meningkat,” terang Djoestamadji.

Saat ini konsumsi ikan di Surabaya masih rendah. Angkanya 33–34 kilogram per kapita per tahun. ”Jawa Timur sudah di angka 35 kilogram per kapita per tahun,” jelasnya. Gemarikan menjadi salah satu sarana untuk meningkatkan konsumsi ikan di kalangan masyarakat Surabaya.


JAWA POS

Setiap Tahun, Hutan Bakau Inhil Diserbu Ribuan Blekok Asia

on Saturday, May 6, 2017


INDRAGIRI HILIR - Hamparan hutan Bakau seluas 1.000 hektare di Pulau Cawan dan Basu Indragiri Hilir, Riau menjadi daya tarik persinggahan migrasi gerombolan ribuan ekor Burung Blekok Asia pada musim kawin dan bertelur.
 
"Blekok Asia ini datang di kisaran bulan Februari-April," kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Inhil Haryono Karim di Tembilahan, kemarin. 
 
Blekok Asia Migrasi ke daerah ekuator saat memasuki musim kawin dan bertelur. Karena daerah asalnya China dan Siberia pada waktu tersebut sedang mengalami musim dingin.
 
"Pantai dan hutan Bakau Inhil dekat dengan ekuator, selain miliki kedalaman lumpur yang baik menjadi habitat berbagai jenis ikan ini daya tarik persinggahan Blekok Asia di kawasan hutan Bakau Inhil," tuturnya.
 
Terutama Pantai Solop Pulau Cawan dan Basu setiap tahun disinggahi ribuan ekor burung yang katanya mirip Burung Kedidi hanya agak lebih besar.
 
Bahkan tidak jarang usai musim kawin dan bertelur burung Blekok Asia ini beberapa ekor tertinggal dari rombongannya saat migrasi ke Australia. Namun kemudian akan kembali kerombongan musim berikutnya tiba.
 
"Kemarin saya jumpai di Pulau Cawan ini ada lima ekor Blekok Asia yang kececer dari gerombolannya dan tetap di kawasan Bakau Pulau Cawan dan Basu hingga musim berikut tiba untuk bergabung," urainya.
 
Menurutnya, ini satu keberuntungan bagi habitat Bakau Pulau Cawan dan Basu karena menambah khasanah hewan langka.
 
"Kececernya unggas asal Siberia yang tiap musim bermigrasi ke Australia ini pun sempat berkembang biak di Hutan Bakau dan akan kembali lagi kepada gerombolannya saat mereka tiba musim tahun depan," tegasnya.
 
Blekok Asia juga mengumpulkan pakannya dari kawasan pantai pasang surut Inhil. Sebab di daerah itu banyak terdapat jenis ikan dan kerang.
 
"Makanya jenis burung laut ini betah mampir ke mari karena banyak pakannya yakni ikan segar," jelas Haryono Karim yang memang banyak tau tentang ekologi karena pernah berdinas cukup lama di Badan Lingkungan Hidup (BLH) Inhil.
 
Keberadaan burung migrasi ini menambah keunikan Pantai Solop menjadi bagian Bakau Pulau Cawan. Pantai yang memiliki pasir dibentuk oleh triliunan kulit binatang laut menepi saat pasang surut terhimpun seakan terperangkap oleh lumpur semula, sehingga menjadikannya sebuah fenomena alam yang sangat unik.
 
Hamparan fosil binatang laut yang membentuk pantai indah asri di Solop itu, juga tak kepalang karena panjangnya tiga kilometer.
 
Dengan kondisi bentukan pasir dari fosil kerang Inilah maka Pantai Solop juga dinamakan dengan Pantai Seresah, yaitu pantai yang dibentuk dari fosil binatang seperti kerang, siput, senteng, lokan dan berbagai jenis lainnya.

RIAUONE

Ada Tempat Wisata Baru di Kabupaten Langkat, Namanya Wisata Mangrove Lubuk Kertang

on Thursday, May 4, 2017

Pemandangan saat memasuki jantung hutan Mangrove di kawasan Wisata Mangrove, di Desa Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat.

BINJAI - Desa Lubuk Kertang yang dulunya rusak parah kini menjadi kawasan wisata baru. Kawasan yang dulunya hutan ini kini menjelma menjadi hutan mangrove yang subur dan indah.
Sepuluh tahun yang lalu, warga desa setempat sepakat untuk mengembalikan fungsi kawasan hutan sebagai tempat Biota laut dan tempat berkembangnya mangrove.
Memasuki kawasan tersebut, wisatawan akan disuguhi hamparan mangrove hijau nan cantik. Tulisan selamat datang, seakan menyambut wisatawan yang hendak memasuki kawasan wisata hutan mangrove itu.
Dengan luas lahan sekitar 100 hektar, kawasan ini dulunya adalah kawasan yang rusak parah akibat pembalakan liar. Sedihnya, mereka meninggalkan lokas tanpa melakukan penanaman kembali.
Ketua kelompok tani Mekar, Desa Lubuk Kertang, Dian Batubara, Rabu (3/5/2017), mengatakan keinginan mereka untuk melestarikan hutan mangrove karena merasa sedih melihat kerusakan kampung mereka.

TRIBUN NEWS

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page