10 Hektar Hutan Mangrove Diklaim Warga

on Monday, January 26, 2015

KLAIM : Salah satu patok berdiri di laut Muaragembong dengan latar belakang hutan mangrove yang sudah rusak. Ariesant/RADAR BEKASI
KLAIM : Salah satu patok berdiri di laut Muaragembong dengan latar belakang hutan mangrove yang sudah rusak. Ariesant/RADAR BEKASI
SEKITAR 10 hektar hutan mangrove di pesisir Kecamatan Muaragembong diklaim oleh warga setempat. Hutan mangrove yang diakui warga itu berada di Desa Pantaibahagia.
Hal itu dikatakan Kasi Bina Usaha pada Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Bekasi, Yudi Anhar. Klaim lahan hutan mangrove itu sudah berlangsung sejak 2007 lalu.
Menurut Yudi, munculnya klaim areal hutan mangrove disebabkan karena tidak adanya kejelasan batas antara milik pemerintah pusat dan masyarakat. Sehingga dengan bebas masyarakat setempat mengakui kalau areal tersebut miliknya.

Klaim sepihak itu diduga menjadi salah satu penyebab menyusutnya hutan mangrove di Muaragembong. Menurut Yudi, perlu adanya antisipasi agar pengakuan sepihak itu tidak berlanjut.
Salah satu cara untuk antisipasinya, kata dia, dengan cara membuat tapal batas di sekitar hutan mangrove. Dengan demikian masyarakat mengetahui batasan antara milik pemerintah pusat dan daerah.

“Tapal batas antara yang tanah rakyat dan tanah negara harus jelas,” katanya.
Jika tapal batas dibuat, maka harus disertakan sanksi bagi yang melanggar. Hal itu sebagai efek jera sekaligus melestarikan hutan mangrove dan pemukiman warga Muaragembong yang kini mulai terkikis akibat abrasi.

“Beberapa persoalan mengenai tanah negara dan tanah warga karena tidak ada tapal batas,” ujarnya.

GO BEKASI

Hutan Mangrove Menyusut Seribu Hektar

on Friday, January 23, 2015

MENYUSUT : Pengendara motor melintasi hutan mangrove yang sudah hancur (foto kanan). Anak-anak bermain di pesisir Desa Pantaibahagia, Muaragembong. Di desa itu pengikisan daratan terus terjadi dan mengkhawatirkan (foto kiri). Ariesant/RADAR BEKASI
MENYUSUT : Pengendara motor melintasi hutan mangrove yang sudah hancur (foto kanan). Anak-anak bermain di pesisir Desa Pantaibahagia, Muaragembong. Di desa itu pengikisan daratan terus terjadi dan mengkhawatirkan (foto kiri). Ariesant/RADAR BEKASI
BERDASARKAN data dari Dinas Pertanian Kehutanan dan Kelautan (DPKK) Kabupaten Bekasi, luas hutan mangrove di Kecamatan Muaragembong kini mencapai 10.481,15 hektar. Jumlah tersebut menyusut sekitar seribu hektar sejak 1997 lalu.

Kasi Bina Usaha DPKK Kabupaten Bekasi, Yudi Anhar mengatakan, hutan mangrove banyak beralih fungsi menjadi tambak. Namun ia mengaku belum mengetahui jika penyusutan terjadi karena hal lain.
Namun kata Yudi, penyusutan hutan mangrove dalam bentuk apa pun, akan mengancam ekosistem laut. Terlebih, daratan juga akan semakin tergerus karena abarasi.

’’Ini akan jadi ancaman yang serius dan penyebabnya ekosistem yang rusak. Sulitnya lagi, tanah di sini bukan milik orang Bekasi melainkan dari luar daerah,” ungkapnya.

Mengembalikan ekosistem dan tanaman mangrove tidak seperti membalikan telapak tangan. Meski ada upaya dengan cara menanam mangrove, namun belum bisa dipastikan terhindar dari bencana abrasi.
Dikatakan Yudi, pihaknya bakal menanam 200 ribu bibit mangrove di pesisir Muaragembong. Beberapa desa yang akan menjadi tujuan tanam mangrove seperti Pantaibahagia.

’’Nanti sekitar Juni akan ada penanaman bibit yang sesuai dengan kondisi tanah di sana,” katanya.
Sekedar diketahui, habisnya tanaman mangrove di Muaragembong sudah menimbulkan bencana abrasi. Ratusan rumah dikabarkan hilang akibat daratan yang tergerus air laut.
Gelombang laut bebas menerjang daratan karena tidak adanya penahan atau pemecah arus seperti tanaman mangrove.  Dalam hal ini, pemerintah daerah harus segera mencari jalan keluar agar daratan Muaragembong tidak hilang dari peta.

GO BEKASI

Muhammad Ali, Mengangkat Derajat Masyarakat Pesisir

on Wednesday, January 21, 2015


BONTANG – Nama Muhamad Ali begitu populer di antara msyarakat Kelurahan Tanjung Laut Indah, Kota Bontang, Kalimantan Timur. Perantauan asal Sulawesi itu menjadi tokoh penggerak pelestarian mangrove melalui Kelompok Lestari Indah. Pria yang sangat memahami jenis dan perawatan mangrove itu kami temui di Rumah Mangrove Information Center, Kamis (13/2) bersama anggota kelompok binaannya.

Pak Ali, begitu kami sapa, membudidayakan mangrove sejak tahun 2009. “Awalnya saya melihat bencana tsunami di Aceh. Saya yang tinggal di pesisir tidak ingin musibah tersebut terjadi di sini,”kisahnya. Entah berhubungan atau tidak, menurut Ali dengan menanam mangrove di sekitar pantai, minimal bisa menahan gelombang air yang begitu besar sekaligus mengurangi abrasi.

Awalnya ia menanam seorang diri sekaligus mela­kukan pembibitan dengan mencari buah mangrove di hutan. Bibit mangrove siap tanam, oleh Ali ditanam di sekitar pesisir. Hanya be­berapa orang saja yang mengikuti jejak Ali, karena keterbatasan waktu untuk mengerjakan hal yang sifatnya sukarela.

Ali tak kehabisan ide. Ia berencana membuat sentra pembibitan mangrove di Tanjung Laut. Menurutnya pembibitan mangrove sangat berpeluang memberikan hasil bagi masyarakat, apalagi banyak perusahaan di sekitar Bontang yang rutin melakukan kegiatan penanaman mangrove.

“Saya masukkan per­mohonan ke PT Badak NGL tahun 2009. Tidak sampai satu minggu kami disurvei dan bantuan langsung turun,” kenang Ali. Bantuan yang dimaksud meliputi pem­bangunan bedeng pem­bibitan, polybag, pembelian benih, dan lain-lain. Agar masyarakat terlibat, Ali punya aturan. Setiap kantong bibit yang ditanam warga diberi imbalan. “Sekarang satu bibit diupah Rp 700, kalau rajin sehari bisa dapat 400 kantong,”papar Ali.

Bibit yang sudah jadi, de­ngan usia 3 – 6 bulan biasanya dijual kepada perusahaan yang akan melakukan kegiatan penanaman mang­rove dengan harga beragam. “Untuk PT Badak dan pe­merintah kami berikan har­ga khusus, karena telah memberikan dukungan dan pembinaan bagi kami dalam mengembangkan usaha ini,”jelasnya. Harga bibit berkisar antara Rp 3.000 – Rp9.000 per batang.

Hasil penjualan  dibagi kepada anggota kelompok yang terlibat dalam pembibitan dan perawatan. Ali juga menyisihkan hasil usaha kelompok untuk pembelian lahan. “Agar tidak bermasalah atau kena gusur, kami beli lahan pembibitan se­­luas  4 x 8 meter,” kata pria yang berencana membangun ekowisata mangrove di lahan tersebut.

April 2013, Ali mendapat dukungan dari PT Badak NGL untuk membangun Rumah Mangrove Infromation Center (RMIC). Yakni pusat belajar masyarakat untuk budidaya mangrove dan keterampilan pe­manfaatan buah melalui berbagai pelatihan. Saat ini su­dah ada 12 kelompok yang bernaung di bawah RMIC. Ada­pun produk yang dihasilkan tidak hanya bibit mangrove, tetapi juga produk turunan lain­nya. Seperti sirop mangrove, dodol mangrove dan pewarna batik.

“Target khusus Rumah Mangrove Information Center ini adalah meningkatkan pem­berdayaan perempuan melalui kegiatan produktif ekonomi kreatif, sehingga mampu mem­berikan penghasilan tambahan bagi keluarga,”jelas Ali.

Kini niat Ali yang awalnya ingin mencegah abrasi pantai dengan menanam mangrove, ternyata telah berkembang. Tidak hanya menjaga keles­tarian ekosistem pantai, tetapi juga  mengangkat derajat masyarakat pesisir.

Aziil Anwar, Penanam Mangrove di Batu Karang

on Monday, January 19, 2015

Inilah mangrove yang ditanam Aziil di batu karang. Kok bisa? Aziil punya cara. Foto: Wahyu Chandra

Aziil Anwar berjalan agak cepat, melewati jalan setapak ditumbuhi padang ilalang. Lelaki setengah baya itu sebelumnya menegaskan kami harus segera tiba di lokasi. “Harus cepat tiba di lokasi sebelum air pasang. Ini sudah agak siang. Kalau terlambat air bisa setinggi dada,” katanya.

Kami tiba di rumah panggung kecil di tepi  pantai, sekitar 50 meter dari jalan raya. Dia menunjuk  tujuan selanjutnya, sekitar 100 meter lagi. Melewati rerimbunan mangrove yang tergenang air berlumpur.

Aziil, pendiri Yayasan Pemuda Mitra Masyarakat Desa (YPMMD) Majene, sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat dan perlindungan mangrove.  Pagi itu, Kamis (19/12/14),  dia mengajak saya mengunjungi lokasi pembibitan mangrove, di Desa Binanga, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Aziil antusias menunjukkan pembibitan sekitar 400.000 bibit dari sejumlah spesies.

Lokasi itu tepat di lahan dengan sekeliling tumbuh beragam mangrove. Luasnya, termasuk kawasan konservasi mangrove sekitar 40 hektar, meski yang tercatat di BPH hanya 20 hektar.

Bibit-bibit yang disusun berpetak-petak rapi dalam polibag kecil ini diberi nama latin sesuai spesies, antara lain Rhizophora stylosa, Cerios decandra, Bruguiera gymnorrhiza, Aigiceras corniculatum, Ceriops tagal,  Rhizophora mucronata dan Avicennia marina. Pelabelan baru dilakukan akhir-akhir ini, bantuan Yayasan Kehati.

“Kebetulan kemarin ada kerjasama dengan Kehati. Tak semua bisa dilabeli. Baru 500 papan bisa disiapkan.”

Seluruh bibit itu milik warga  yang tergabung dalam Rimbawan Muda. Anggota 17 orang,  adalah ibu rumah tangga.

Bibit-bibit mangrove yang diusahakan yayasan Aziil dan para ibu rumah tangga. Foto: Wahyu Chandra

Ibu-ibu ini alumni sekolah lapang pembibitan yang digagas Aziil beberapa tahun lalu. Mereka terampil membibit  termasuk membedakan jenis mangrove.

Lokasi pembibitan sebenarnya terbentuk sejak 1990-an. Kala Aziil bersama beberapa teman membentuk YPMMD. Awal berdiri mereka fokus  penyelamatan pesisir. Mereka memungut bibit-bibit berserakan di pantai, yang terbawa ombak dari berbagai daerah.

“Kami yakin bibit-bibit mangrove terdampar di sini banyak dari Mamuju bahkan Kalimantan.”
Tidak hanya membibit dan menanam mangrove, YPMMD juga mengadvokasi warga sekitar tidak lagi menebang  di kawasan itu.

Penebang mangrove sebenarnya  banyak nelayan pendatang yang  tinggal sementara di situ. Mereka mengambil mangrove untuk bahan bakar. “Kami  sampaikan  sebaiknya jangan tebang mangrove. Kini  tak ada lagi. Mungkin karena ada tabung gas tiga kg,  mudah dibawa-bawa.”
Pada mulanya, YPMMD membibit sekadar dibagi-bagikan kepada warga. Sejak 2010, muncul keinginan bersama menjual bibit.

Penjualan bibit ini bermula ketika PT Inhutani Mamuju memesan bibit mangrove 110.000 pohon. Mereka mendapat bayaran cukup besar. “Ibu-ibu kerja suka rela tanpa gaji. Yayasan pun menyiapkan polybag. Kami kasih makan siang. Setelah menghasilkan mereka tak mau diberi makan siang. Toh kepentingan bersama juga.”

Terdapat sekitar 400 ribu bibit mangrove diproduksi pertahunnya di kawasan ini, dari berbagai jenis mangrove. Ini sekaligus menjadi sumber mata pencaharian warga. Foto: Wahyu Chandra


Bibit-bibit ini dijual Rp700. Pelanggan dari pemerintah dan perusahaan. Dari penjualan ini, warga mendapatkan Rp300 per batang, selebihnya YPMMD.

“Jika mereka punya 1.000 bibit, ya dapat Rp300.000. Sekali jual bisa 10.000-20.000 bibit. Baru-baru ini dari Lingkungan Hidup Rp20 juta. Mereka bagi hasil merata ke anggota dan lembaga.”
Untuk menghasilkan bibit siap tanam memerlukan waktu tumbuh tujuh sampai delapan bulan. Kadang juga ada bibit sampai dua tahun. Bibit lama biasa dipotong dipindahkan ke polybag lain, untuk menghambat pertumbuhan.

Kala mendampingi ibu-ibu, katanya, hal paling ditekankan bagaimana mereka memperlakukan mangrove bak merawat anak sendiri.

Aziil mengajak kami ke bagian depan pantai. Tempat warga dan siswa pecinta alam menanam beberapa bulan lalu. Air setinggi mata kaki.

“Itu daerah terluar masih bisa ditumbuhi Aviecenna. Umur sekitar enam bulan. Kalau paling dekat ini Rhizophora styloza. Ini dua tahun. Kelihatan kecil karena tak cocok tanam di sini.”

Lokasi itu, kawasan yang dipenuhi karang mati karena marak pengeboman dan racun ikan era 1990-an. Menaman mangrove di sini biasa diistilahkan menumbuhkan mangrove di pantai berbatu karang.

Tahun 1990-an, katanya,  marak penangkapan ikan dengan bom dan racun hingga merusak terumbu karang di sini. Karang mati. “Dulu,  banyak tak percaya kalau mangrove bisa tumbuh. Bahkan peneliti dari luar negeri juga tak percaya. Saya membuktikan itu bisa.”  Rhizophora dikenal hanya bisa di lahan masih berlumpur.

Perawatan yang dimaksud Aziil, rutin membersihkan karang atau tiram yang menempel di batang mangrove,  per bulan hingga tanaman melewati usia kritis, yaitu dua tahun. Dengan pendekatan ini keberhasilan mangrove tumbuh bisa 60%.

Rhizophora meskipun tanaman laut namun batang tak tahan air. Luka di batang karena kerang dan tiram bisa membuat kering dan mati.

“Supaya tumbuh baik, gunakan propagul jangan bibit. Kita gali karang dengan linggis ketika laut surut dan diberi sedikit tanah sebagai pemancing.”

Kreativitas Aziil  ternyata menarik minat sejumlah peneliti asing datang dan belajar. “Mereka selalu bilang ini tak mungkin, tapi sudah lihat hasil dan bisa.”

Menurut Aziil, menghijaukan pesisir bukanlah mudah. Apalagi di daerah itu dia sebagai pendatang karena dari Ternate, Maluku Utara. Larangan tak menebang mangrove kadang tak digubris warga.
Namun penentangan perlahan berkurang dan sekarang tak ada. Warga menyadari manfaat mangrove, tidak hanya ekonomi, juga tangkapan ikan, kepiting dan usaha pembibitan. Mangrove juga benteng pelindung dari ombak dan degradasi pantai.

Atas usaha selama ini, Aziil mendapatkan banyak penghargaan dari pemerintah. Antara lain, 1993 dia menerima Pemuda Pelopor dari Presiden RI.

Pada 2003, Aziil menerima Kalpataru dari Presiden Megawati. Terakhir 2013, menerima Satyalencana, diserahkan Wakil Presiden RI, Boediono. Tahun ini, Aziil dinominasikan menerima Kehati Award dari Yayasan Kehati.

Ini adalah kawasan yang telah ditanami oleh Aziil bersama warga sejak tahun 1990 silam. Luasnya kini mencapai 40 hektar, meski yang tercatat di pemerintah hanya 20 hektar. Foto: Wahyu Chandra

Aziil berharap, kawasan kelola ini kelak menjadi Mangrove Learning Center di Sulbar bahkan Sulawesi. Dia berkeinginan bisa membangun kawasan ekowisata.

“Saya rencana membuat tree to tree. Jembatan antarpohon ke pohon. Lalu ada flying fish, seperti terbang ke laut. Atau juga path away atau jalan-jalan setapak dengan bambu.”
Aziil berharap ada kemitraan dari lembaga lain dalam pengembangan kawasan itu.“Saya rencana mengusulka ke Kehati kalau mereka mau menjadikan tempat ini pusat mangrove mereka. Seperti taman Kehati di Sumatera. Kehati bisa klaim dan pasang plang kalau ini milik mereka.”

Menanam mangrove kadang banyak gagal. Kata Aziil, disebabkan beberapa faktor, seperti tidak mempertimbangkan kondisi lahan. “Kalau Majene jangan gunakan bibit, lebih cocok propagul. Tapi kan pemerintah tak senang propagul karena biaya kecil. Hanya Rp100. Bandingkan dengan bibit Rp700.”
Di proposal, mereka biasa mencantumkan harga bibit per batang Rp1.900, harga beli cuma Rp700. “Tidak hanya untung selisih harga, dari volumepun bisa dimainkan. Tertulis 50.000 pohon, cuma beli bibit 10.000 bibit, misal. Mereka bisa untung banyak dari situ.”

Pemilihan waktu tanam juga menentukan keberhasilan. Pada bulan-bulan tertentu ombak tinggi membuat bibit sulit bertahan.  “Kalau propagul bisa kapan saja karena ditancapkan dan diberi penahan. Selama ini, orang hanya berpikir menanam mangrove, tak peduli tumbuh atau tidak. Seharusnya, kita gunakan istilah menumbuhkan mangrove, bukan menanam.”

MONGABAY 

Mohammad Ali; Dari Mangrove Menuju Kemandirian

on Tuesday, December 9, 2014




Kawasan Tanjung Laut Indah di Bontang, Kalimantan Timur, sudah berubah banyak. Kalau tiga tahun lalu deretan mangrove masih pendek dan jarang, kini sejauh mata memandang tampaklah mangrove yang merimbun memagari pantai. Hanya dalam waktu lima tahun, sudah 170 hektar kawasan pesisir Bontang ditanami mangrove.


Terima kasih kepada Mohammad Ali (46), yang mulai merintis penanaman mangrove dengan 150 bibit Rhizopora sp, salah satu jenis tanaman mangrove. ”Waktu ibu ke sini dulu, tanamannya rata-rata baru umur dua tahun. Sekarang sudah lebat ya,” katanya sambil menunjuk sabuk hijau mangrove di kejauhan.

Bertahun-tahun menjadi operator alat berat, Ali masih melaut bersama temannya para nelayan. Ia menyaksikan bagaimana hutan mangrove ditebang dan merasakan ikan tangkapan semakin jarang. Maka, tahun 2009, ia mencoba membibitkan mangrove bersama istrinya. Kebetulan lurah tempat Ali bermukim mendapat info bahwa Syahbandar Pelabuhan Tanjung Laut, Bontang, perlu 1.000 pohon bibit. Dengan dukungan sang lurah, Ali membuat proposal kerja sama ke PT Badak LNG.

Bak gayung bersambut, PT Badak LNG datang dengan bantuan perahu ketinting, pra-net, polybag, dan pelatihan. Menyadari tak mungkin mencapai target sendiri, Ali membentuk Kelompok Tani Lestari Indah untuk mengerjakan pembibitan bersama- sama. Meski semula Ali dan kawan- kawan hanya bisa memenuhi permintaan syahbandar 700 bibit, dalam perjalanannya pembibitan mangrove ini berkembang pesat.

Tidak hanya mampu menyediakan 100.000 bibit mangrove per tahun untuk program penghijauan PT Badak LNG, Kelompok Tani Lestari Indah juga menyuplai kebutuhan Pemerintah Kota Bontang, Dinas Perikanan Provinsi Kaltim, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat. Kawasan yang ditanami mangrove pun kian luas, membentang di seluruh pesisir Bontang.

Tidaklah mengherankan jika jumlah kelompok juga terus bertambah. Saat ini ada 16 kelompok tani pembibitan mangrove dengan total anggota 150 orang. Tiap-tiap kelompok mampu menyediakan bibit hingga 200.000 pohon per tahun. Tak hanya Rhizopora sp, mereka juga menanam Sonneratia ovata yang buahnya menjadi bahan baku sirup dan dodol serta Bruguiera gymnorrhiza yang menghasilkan tepung pengganti beras.

Sabuk hijau
Hutan mangrove tidak hanya menjadi sabuk hijau yang melindungi pantai dari abrasi, tetapi juga menjadi tempat pemijahan ikan dan biota laut lainnya. Dampaknya kemudian bisa dirasakan nelayan secara luas. Tidak perlu melaut jauh, mereka bisa menangkap ikan di kawasan bakau, bahkan kerang bakau yang besar-besar, kepiting, dan udang.

Kehadiran hutan mangrove ternyata juga memicu tumbuhnya kelompok baru: kelompok ibu-ibu pengolah hasil hutan mangrove. Dari pewarna batik, sirup, tepung, hingga dodol.

”Kalau pewarna batik dari rhizopora. Yang dikirim ke Surabaya hanya dipotong-potong dan dikeringkan, yang dipakai di Bontang sudah siap pakai dalam bentuk cair,” papar Ali.

Pengolahan pewarna batik dikerjakan sendiri oleh Kelompok Tani Lestari Indah, sedangkan pengolahan makanan dikerjakan oleh tiga kelompok berbeda. Ada Kelompok Tani Daun Harum, Wanita Pesisir, dan Karya Wanita, yang total beranggotakan 30 orang. Dengan demikian, secara langsung pembibitan mangrove rintisan Ali sudah menghidupi lebih dari 180 orang berikut keluarganya, dan manfaat tak langsung untuk ratusan nelayan lainnya.

”Istri saya dulu ikut di Lestari Indah. Tetapi sekarang dia lebih banyak di rumah mengurus si bungsu yang baru 2,5 tahun,” kata Ali yang memiliki lima anak.

Sumbangan tambahan PT Badak LNG berupa ruang Mangrove Information Center seluas 200 meter persegi menjadi tempat pembelajaran mangrove: dari pemahaman sampai pelatihan untuk berbagai pihak. Dari siswa sekolah hingga lembaga pemerintah.

Namanya juga Ali, aktivitas tersebut menelurkan peluang baru. Tamu yang hanya berkunjung sebentar sampai orang-orang yang belajar seharian tentu saja butuh makan. Maka, Ali mengajak para ibu yang belum tergabung dalam kelompok pembibitan dan pengolahan membentuk kelompok baru: katering.

Ia memang bersemangat mengajak para ibu karena hasilnya langsung buat keluarga. Pernah ada suami-suami yang ikut, tetapi karena uangnya dipakai untuk judi, mereka tidak boleh ikut lagi. Buat Ali, yang terpenting uang bisa digunakan untuk pendidikan.

”Anak-anak saya, juga anak-anak lain di kampung sini, harus sekolah setinggi mungkin. Jangan seperti saya dan kebanyakan orangtua yang cuma lulusan SD,” tuturnya.

Terus berkembang
Siang itu kelompok katering menyiapkan makan siang berupa ikan bakar, kerang, telur asin, bebek kecap, sayur sop, dan berbagai lalapan. Sebagian besar berasal dari usaha sendiri, termasuk telur dan bebek. Di pembibitan itu, ada 200-an bebek yang gemuk-gemuk karena makan hama siput.

Bebek dijual ke kelompok katering dengan harga pasar, juga ikan kerapu putih, kakap merah, dan baronang hasil dari keramba. Jadilah kelompok- kelompok ini saling mendukung dan menghidupi.

Sambil memilihkan sepatu bot untuk berkeliling kebun pembibitan, Ali menunjuk enam deretan dangau beratap biru. Dangau-dangau itu persiapan untuk ekowisata mangrove dan pemancingan. ”Biru artinya dibangun dengan biaya dari usaha kami sendiri,” katanya.

M AliHanya satu yang beratap merah, bangunan pusat studi mangrove bantuan PT Badak LNG. Tidaklah mengherankan jika Kelompok Tani Lestari Indah mendapat beberapa penghargaan. Demikian juga dengan Kelompok Tani Daun Harum, pengolah sirup dan dodol, yang baru saja menjadi juara pertama Wirausaha Produktif Seluruh Kaltim, 2014. Kelompok Tani Karya Wanita hari-hari ini tengah mengikuti expo di Jakarta.

Apa lagi yang ingin dicapai Ali? Ia tengah bersemangat mengembangkan kawasan ekowisata yang bisa memadukan pembelajaran, pemancingan, dan kuliner sekaligus, yang kini sudah berlangsung 40 persen.

”Nanti kami lepaskan kakap bakau dan kerapu lumpur. Ikan yang kena pancing bisa dimasakkan kelompok katering. Kalau semua sudah jalan, mudah-mudahan makin banyak masyarakat sekitar terkena dampaknya sehingga makin sejahtera,” ujar Ali.



—————————————————————————

Mohammad Ali
Lahir: Bontang, 3 November 1968
Istri: Norma
Anak: Karmila, Jumlian, Fitriani, Nurlina, Mohammad Rahman
Pengalaman kerja:
– Operator alat-alat berat
– Merintis usaha pembibitan
– Ketua Kelompok Tani Lestari Indah
Penghargaan:
– Harapan II Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan, 2011
– Kelompok Tani Pelestari Lingkungan dari Kotamadya Bontang, 2011
– Kelompok Tani Pelestari Lingkungan dari Kecamatan Bontang Utara, 2011
– Kelompok Tani Konservasi Mangrove dari Provinsi Kaltim, 2011
– Terbaik  Penghijauan dan Konservasi Alam, 2011

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas,  8 Desember 2014

Awalnya dianggap Gila kini Jadi Tokoh Inspiratif

on Wednesday, May 28, 2014


Foto si Tries

Awalnya dianggap gila ketika mengorganisir anggota kelompoknya untuk memulai menanami  mangrove di lahan kritis di pantai Desa Nagalawan, kini pasangan suami isteri, Sutrisno (37)  – Jumiati (32) dianggap sebagai tokoh inspiratif.  Bersama kelompoknya masing-masing mendapat penghargaan di tingkat nasional  dan internasional. Kelompok Nelayan Cahaya Pagi, yang beranggotakan nelayan, di Desember 2013 ini memperoleh Juara Nasional  Adhi Bakti Bina Bahari) dari Direktorat Jenderal  Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk kategori pengendalian pencemaran dan kerusakan ekosistem. Sementara Jumiati   bersama dengan Kelompok Perempuan Muara Tanjung di tahun 2013 ini  telah menerima dua penghargaan bergengsi.   Di awal Maret 2013 memperoleh penghargaan dari organisasi nirlaba Inggris,  Oxfam sebagai pahlawan pangan perempuan  (Food Heroes Oxfam) Indonesia 2013.   Awal Desember 2013, Jumiati juga terpilih menjadi  salah satu tokoh perempuan inspiratif penerima award Tupperware She Can, atas upayanya dalam penguatan ekonomi dan pemberdayaan perempuan di desanya.

Sutrisno, di kalangan aktifis lebih dikenal dengan Tries Zamansyah berkisah bahwa yang coba mereka kembangkan adalah kewirausahaan sosial. Di tahun 2005, pasangan suami isteri ini memulai menanami pesisir pantai yang kritis dengan tanaman bakau. Bersamaan dengan itu Tries mengorganisir kelompok nelayan sementara isterinya mengorganisir pembentukan kelompok perempuannya. Kelompok yang terbentuk di nelayan diberi nama Kelompok Nelayan Cahaya Pagi, sementara kelompok perempuannya diberi nama Kelompok Muara Tanjung. Kedua kelompok ini selanjutnya menjalankan usaha bersama sebagai upaya membangun kemandirian. Kelompok Nelayan Cahaya Pagi mengelola usaha perikanan dengan membeli ikan dari anggota kelompok, yang keuntungan usaha menjadi keuntungan bersama.

Keuntungan ini dibagikan menjelang lebaran sebagai sisa hasil usaha (SHU). “Saat ini anggota tidak lagi pening untuk biaya lebaran” jelas Tries. Sementara, Jumiati bersama kelompok perempuannya mengelola usaha kerajinan termasuk mengelola makanan dan minuman  dari bahan baku mangrove. Saat ini, uang yang dikelola kelompok perempuan ini cukup besar yakni sekitar 200 juta rupiah.  Seiring dengan pertumbuhan mangrove,  di tahun 2009 kedua kelompok ini menjadikannya sebagai objek ekowisata yang menggabungkan wisata dan pendidikan lingkungan. Untuk pengelolaannya  membentuk wadah yang lebih besar yakni Kelompok Konservasi Mangrove Muara Baimbai.

bakround foto_wisata mangrove

Di belakang  pria  yang sukses, ada perempuan  yang  hebat. Dan begitu sebaliknya. Gambaran sukses dan hebat bisa diperoleh di pasangan suami isteri tersebut. Sama-sama berlatar belakang aktifis nelayan di Serikat Nelayan Sumatera Utara (SNSU)  dengan jumlah anggota yang sempat mencapai ribuan nelayan. Organisasi yang dengan cepat besar tanpa didukung basis ekonomi dan sumberdaya manusia yang mumpuni, dapat pula cepat pula ambruk saat mengalami dinamika  yang terkelola dengan baik. Ini diantara titik balik dalam kehidupan pasangan ini, dengan tekad terus membangun organisasi nelayan yang kuat ke depan, namun dimulai dari penguatan ekonomi dari lingkungan yang terkecil yakni Masyarakat Nelayan di Dusun III Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut.  Desa Sei Nagalawan berdampingan dengan usaha milik PT Aquafarm Nusantara di Unit Serdang Bedagai.

Umar Pasandre, dari Desa Torosiaje Jaya

on Thursday, November 21, 2013




GORONTALO  Menjaga Mangrove sama dengan menjaga kehidupan kita, Kalo bukan kita siapa lagi... Kalo bukan sekarang kapan lagi.  Slogan itu yang menjadi kunci keberhasilan Umar Pasandre sehingga masuk dalam nominasi penghargaan SUMO AWARD dan menjadi salah satu tokoh desa dan tokoh masyarakat yang peduli lingkungan mewakili desa Torosiaje Jaya. SUMO AWARD (Suharso Monoarfa Award) adalah satu yayasan yang setiap 2 (dua) tahun memberikan penghargaan kepada para tokoh desa, tokoh pejuang guru dan masyarakat yang telah mengabdi kurang lebih 20 tahun didaerah terpencil khususnya di Propinsi Gorontalo.


Umar Pasandre lahir di desa Torosiaje 14 April 1969 menikah dengan Neti Kaba dan telah di karuniai 2 putri. Sejak tahun 1987 Umar telah mengabdikan dirinya dalam kegiatan – kegiatan yang ada hubungannya dengan kepentingan masyarakat desa, baik masalah ekenomi, pendidikan, sosial budaya serta masalah lingkungan, semua ini di lakukan tanpa dorongan oleh siapapun. Kepeduliannya terhadap lingkungan terutama di sekitar desa Torosiaje yang mulai terancam,seperti; alih fungsi lahan mangrove yang di jadikan tambak,bahan bangunan dan kayu bakar oleh masyarkatnya. Dengan berbagai permasalahan di atas beliau mengambil langkah – langkah dengan melakukan sosialisasi dan  memberikan pemahaman pada masyarakat terkait dengan fungsi dan manfaat tanaman mangrove bagi kehidupan masyarakat pesisir.

Penyadaran lingkungan tak henti hentinya dilakukannya, hanya berbekal tekad dan beberapa pelatihan yang telah di ikutinya Umar merehabilitasi mangrove di tiga desa kecamatan popayato  antara lain desa Torosiaje dengan luasan areal penanaman kurang lebih 20 hektar dengan jumlah bibit yang di tanam kurang lebih 40.000 propagule/pohon. Melakukan aksi penanaman dan pembibitan Mangrove secara swadaya masyarakat di wilayah Torosiaje & Torosiaje Jaya bersama – sama dengan masyarakat desa dan organisasi Forum Pemuda Pelajar Bajo, yang di fasilitasi oleh  JAPESDA dan Program Teluk Tomini SUSCLAM.emangat juang yang sudah tertanam dalam dirinya merupakan semangat yang perlu di contoh  untuk meneruskan kegiatan – kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelestarian lingkungan dan  membangun komunikasi ataupun kerjasama. Baik dengan pihak dan stakeholder terkait, maupun masyarakat yang inovatif, kreatif dan mandiri. Harapanya kedepan mengajak kepada semua masyarakat  bersama – sama untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam untuk masa depan anak cucu kita nanti.

Balada Penyelamat Hutan Mangrove Nusakambangan

on Tuesday, May 21, 2013

NUSAKAMBANGAN – Rintik hujan membuat lingkaran-lingkaran kecil memenuhi Selat Nusakambangan. Lingkaran kecil itu sedetik kemudian hilang diterjang hempasan gelombang dari perahu yang melintas. Di kanan-kiri selat, nampak hutan mangrove menghijau mulai beranjak rimbun.

“Pohon itu baru kami tanam satu tahun lalu,” kata Thomas Heri Wahyono, 45 tahun, penduduk Desa Ujung Alang Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Sabtu, akhir pekan lalu.
Wahyono, begitu ia biasa disapa, oleh tetangganya lebih dikenal sebagai pahlawan penghijauan hutan mangrove. Hutan mangrove sepanjang Laguna Segara Anakan hingga ujung timur Nusakambangan dikenal sebagai hutan mangrove terluas di Pulau Jawa. Kini kondisinya sangat memprihatinkan akibat penebangan liar oleh penduduk.
Wahyono menceritakan, Kampung Laut merupakan daratan di antara hutan mangrove yang terbentuk akibat sedimentasi beberapa sungai yang bermuara di Segara Anakan. Salah satu sungai terbesar yakni Sungai Citanduy yang melintas di 11 kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ia mengaku sudah tinggal di tempat itu selama 40 tahun lebih. Hutan mangrove itu, kata dia, sewaktu kecil merupakan tempat ia bermain dan mencari ikan. Memorinya tentang banyaknya pohon mangrove yang berdiri kokoh dan tinggi menjulang masih terjaga di otaknya.
Wahyono kecil begitu kagum dengan lingkungannya itu. Pohon-pohon besar mangrove mampu menjadi habitat berbagai macam biota laut. Tak hanya ikan, hewan lain seperti udang dan kepiting begitu melimpah di tempat itu. Hewan laut itu, biasa ia tukar dengan beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya dengan warga di daratan Cilacap.

Penduduk setempat juga biasa menggunakan pohon mangrove untuk membangun rumah. Mereka mengambil sekedarnya tanpa berlebihan sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap luasan hutan mangrove.
Kenangan manis itu seketika hancur berantakan. Tahun 1995, kata dia, terjadi pembukaan hutan mangrove secara besar-besaran. “Investor dari Jawa Barat mulai datang dan membuka tambak untuk budidaya udang,” katanya.
Mudahnya mendapatkan uang, membuat warga tergiur. Mereka pun lantas menyewakan lahan dan mulai membuka ratusan hektare hutan. Selama empat tahun, mereka menikmati masa keemasan dari hasil tambak.
Seperti kata pepatah, tak ada pesta yang tak berakhir. Memasuki tahun 1999, satu persatu investor mengalami kebangkrutan. Udang peliharaan mereka mulai terserang virus mematikan dan membuat mereka gulung tikar. Apa lacur, hutan mangrove yang dulunya ijo royo-royo kini mirip padang savanna gersang penuh semak belukar. “Sejak saat itu, ikan, udang dan kepiting mulai sulit didapatkan,” katanya.
Sadar akan lingkungannya yang rusak, Wahyono tergerak untuk membuat sebuah gerakan radikal. Ia bertekad untuk menanami kembali hutan mangrove di kampungnya yang sudah rusak. Niatnya itu, ia sampaikan kepada keluarganya. Tak butuh waktu lama, gayung pun bersambut.
Ia kemudian mengajak enam anggota keluarganya dan membentuk sebuah kelompok untuk menanam mangrove kembali. Kelompoknya diberi nama Keluarga Lestari. “Tujuannya hanya satu, menanam kembali hutan mangrove,” tegas dia.
Wahyono mempunyai empat orang anak, Yufita Reni Windiyastuti, Antonius Jonny Riyanto, Andreas Aji Wibowo, dan Claudius Mario Tegar Saputro, hasil pernikahannya dengan Monika Tumirah. Bersama anak dan istrinya itu, ia mulai mengkampanyekan gerakan menanam kembali hutang mangrove yang sudah rusak.
 Gerakan awal yang dilakukannya di tahun 2001 bersama keluarga memang tidak kemudian disambut baik oleh masyarakat sekitar. Bahkan, ada sejumlah warga yang justru mencibir terhadap apa yang mereka lakukan.
“Saya terus menyemangati saudara-saudara saya untuk tidak berhenti menanam. Karena seperti pengalaman waktu-waktu sebelumnya, kalau hutan mangrove lebat, maka ikan, udang dan kepiting akan sangat gampang ditemui. Selain itu, jika butuh kayu, tinggal potong ranting pohon mangrove yang besar. Pemotongan itu pun harus bijak, tidak seluruhnya, supaya pohonnya tidak mati,” kata Wahyonoyang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar.
Menginjak tahun kedua, warga sekitar mulai tertarik membantu Wahyono. Meski tak mendapatkan upah, warga sekitar tetap bersemangat untuk mengikuti jejak Wahyono. Saat ini, tercatat 50 orang tergabung dalam kelompoknya. “Karena anggotanya semakin banyak, nama kelompoknya diubah menjadi Krida Wana Lestari dan setiap 35 hari kami mengadakan pertemuan,” katanya.
Sepuluh tahun berjalan, kini mereka sudah menghijaukan kembali hutan mangrove sekitar 30 hektare. Mereka kini juga mempunyai sebuah pondok sebagai tempat untuk kumpul-kumpul.
Untuk menunjang perekonomian, mereka kini membangun tambak untuk budidaya kepiting. Tambak yang dibuat di tengah-tengah hutan mangrove yang sudah mereka hijaukan kembali ternyata cukup menghasilkan.
Hasilnya pun cukup lumayan, dari bibit kepiting yang dibeli Rp 20 ribu perkilogram, setelah dibesarkan sekitar empat bulan bisa dijual menjadi Rp 120 ribu. Mereka beranggapan, usaha kepiting tak akan sukses jika hutan mangrovenya rusak.
Sukarjo Kliwon, 50 tahun, salah satu anggota kelompok mengaku awalnya ragu dengan apa yang dilakukan Wahyono. “Tapi lambat laun terlihat ada hasilnya, saya sekarang menjadi coordinator penghijauan wilayah utara,” katanya.
Ia mengakui, masih banyak warga yang belum tergerak untuk mengikuti jejak kelompoknya. Pun hingga hari ini, ketika semakin banyak kelompok masyarakat di luar Cilacap yang mulai ikut menanam kembali hutan mangrove, warga dengan cueknya hanya melihat.
Baginya, memulihkan hutan mangrove seperti sedia kala, akan membutuhkan waktu puluhan tahun. Hanya saja ia yakin, menghijaukan hutan mangrove bukan hanya untuk dirinya tapi anak cucunya kelak yang biasa disapa anak-anak mangrove.
Rusaknya hutan mangrove bukan hanya isapan jempol. Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Cilacap, Supriyanto mengatakan, luas hutan mangrove tahun 1974 tercatat mencapai 15.551 hektare. “Saat ini tinggal  8.359 hektare saja,” katanya..
Supriyanto mengatakan, kawasan hutan mangrove Segara Anakan memiliki komposisi maupun struktur hutan terlengkap dan terluas di Pulau Jawa yang ditumbuhi 26 spesies mangrove, antara lain api-api (Avicennia alba), bogem (Sonneratia alba), dan bakau (Rhizopora mucronata), juga mengalami kerusakan akibat adanya pendangkalan. Selain penebangan hutan, kata dia, rusaknya hutan mangrove juga disebabkan sedimentasi yang masuk sekitar 1 juta meter kubik setiap tahunnya.
Ketua Mitigasi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Endang Hilmi mengatakan, hutan mangrove Nusakambangan merupakan yang terlengkap di dunia. “Dari penelitian kami, setidaknya dulu ada 30 jenis. Tapi sekarang tinggal 10 jenis,” katanya.
Menurut dia, hutan mangrove sangat penting peranannya untuk mitigasi bencana terutama bencana tsunami. Ia mencontohkan, saat tsunami tahun 2006, Cilacap tidak terlalu parah kerusakannya karena terhambat hutan mangrove. Selain itu, mangrove juga dipercaya bisa menyerap karbon yang selama ini dituding sebagai penyebab utama pemanasan global.


Pendekar Mangrove dari Lampung

on Wednesday, December 26, 2012

Asihing Kustanti


ASIHING Kustanti melihat pepohonan dengan perakaran yang mencuat ke permukaan lautan itu sebagai nan objek eksotik. Baginya mangrove adalah simbol keteguhan hati.

Dalam pandangan Asihing, mangrove (bakau) adalah gambaran objek menarik, tetapi mampu menahan gempuran ombak. Hal ini menginspirasinya sejak kecil, terutama ketika ia sering berjalan-jalan dengan keluarga ke pantai ber-mangrove di Surabaya tempat kelahirannya.

Rupanya aktivitas jalan-jalan sepanjang pantai berbakau tetap dilanjutkan saat mengikuti praktek umum di tingkat sarjana di IPB. Waktu itu Asihing praktek di hutan bakau Cilacap, Jawa Tengah.

Kesenangan Asihing terhadap hutan mangrove makin menggila. Setelah Asihing lulus sarjana kehutanan IPB tahun 1995, Asihing menjadi dosen di Universitas Lampung. Di sini ia terlibat dalam upaya pelestarian 700 hektare hutan bakau.

Sepulang S-2 dari IPB, Asihing mengampu mata kuliah wajib Manajemen Hutan Mangrove di Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila sejak tahun 2002. Pada November 2004, kegiatan praktikum dilaksanakan di hutan bakau Desa Margasari, Lampung Timur.

Praktek di Hutan

Pada waktu itu mahasiswa praktek di hutan mangrove selama tiga hari, menginap di hutan bakau dengan menggunakan tenda. Melihat keseriusan mahasiswa melaksanakan praktek, Kepala Desa Sukimin (alm.) berinisiatif menyerahkan hutan bakau seluas 50 ha kepada Unila sebagai hutan pendidikan.

Tidak menyia-nyiakan inisiatif tersebut, Asihing langsung membuat surat kepada dekan Fakultas Pertanian Unila yang diteruskan ke rektorat dan suratnya mendapatkan tanggapan. Singkat cerita, hutan bakau dimasukkan ke program tripartit Unila, masyarakat, dan Pemkab Lampung Timur.

"Untuk mendapatkan hutan mangrove 700 hektare tidaklah mudah. Prosesnya memakan waktu cukup panjang dan melelahkan. Mulai dari audiensi, proses administrasi, penanganan konflik, dan negoisasi, berlangsung hampir satu tahun dengan pihak-pihak dari dinas teknis Pemkab Lamtim," ujar dia.

Namun, semuanya bisa diselesaikan dengan pendekatan komunikasi, keilmuan, dan koordinasi. Lahirnya MoU, naskah kerja sama, nota kesepahaman, dan penerbitan izin lokasi pengelolaan antara Universitas Lampung dan Pemkab Lamtim diserahterimakan pada 26 Januari 2006.

Ya, memang banyak sekali waktu yang dikorbankan, munculnya konflik, prasangka yang salah, tidak memahami pengembangan keilmuan, dan kelembagaan dalam pengembangan hutan bakau tersebut. Namun, itu semua bukanlah hambatan yang berarti.

"Asalkan kami melakukan sesuai keilmuan yang kami miliki dan dengan niatan yang baik maka semua hambatan itu akan menyingkir dengan sendirinya," ujar dia.

Integrasikan Manajemen Hutan Mangrove

Segera setelah masuk program tripartit, akhir Desember 2004, Asihing diminta presentasi di depan Muhajir Utomo, rektor Unila kala itu. Dia berbicara tentang program yang akan dikembangkan di hutan mangrove (bakau) yang diberinya nama Lampung Mangrove Center tersebut.

"Saya memaparkan tentang integrated management of mangrove forest management. Kenapa hal tersebut saya kemukakan karena melihat kondisi hutan yang berada di perbatasan daratan dan lautan yang melibatkan tidak hanya satu dinas teknis, tetapi bisa lebih banyak dinas teknis terlibat," ujar dia mengenang pertemuan itu.

Di depan Rektor, Asihing berargumen integrasi perlu dilakukan supaya tidak ada tumpang tindih aktivitas yang memboroskan anggaran. Tujuan akhirnya, efisiensi dan efektivitas pembangunan. Setelah memaparkan program, Rektor menyetujui dan segera dilakukan audiensi di Kabupaten Lampung Timur oleh tim tripartit mangrove Unila.

Kemudian, disusunlah program bersama yang akan dijadikan acuan dalam pengembangan Lampung Mangrove Center. Setidaknya ada enam program bersama waktu itu, salah satunya adalah terbangunnya Mangrove Center Building sebagai aktivitas penelitian dan pengembangan mangrove skala nasional bahkan internasional.

Selanjutnya, pembangunan jejaring kerja mangrove nasional dan internasional telah dilakukan pada 2009. Balai Pengelolaan Hutan Mangrove II Wilayah II Kementrian Kehutanan dan Subsectoral Program on Mangrove?Japan International Cooperation Agency (JICA) juga telah berkiprah di LMC.

Sejak tahun 2010, Asihing melanjutkan studi S-3 dengan spesialisasi kebijakan pengelolaan hutan bakau di Lampung Mangrove Center. Dengan rasa percaya diri, Asihing sampaikan ke promotor Asihing di IPB bahwa pengelolaan di LMC telah berlangsung secara berkelanjutan (sustainable) sampai saat ini, dari 2004 sampai 2012.

Dia baru saja menyelesaikan analisis penelitian tentang peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan hutan bakau di Forest Policy and Nature Conservation, Forestry Faculty, University of Gottingen, Germany, di bawah bimbingan Maximilian Krott.

Krott menunjukkan antusiasme dengan memberikan judul pada draf jurnal internasional Asihing yaitu Actors, Interests, and Conflict in Sustainable Mangrove Forest Management?A Case from Indonesia. Nama Lampung Mangrove Center, Universitas Lampung, Kabupaten Lampung Timur, dan Provinsi Lampung didengar di Jerman.

Bahkan, para anggota tim profesor di Jerman tidak percaya akan adanya kerja sama yang telah berlangsung cukup lama yaitu selama delapan tahun berjalan (2004?2008). Asihing melakukan studi tentang pengelolaan hutan bakau di dunia, ternyata pengelolaan hutan mangrove bersama masyarakat, Universitas Lampung, dan Kabupaten Lampung Timur, merupakan contoh yang sangat bagus dibandingkan negara-negara di dunia lainnya.

Di Tanzania, Afrika Timur, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang masih karut-marut atau tumpang tindih kegiatan di antara dinas teknis dalam pengelolaannya. Kita perlu berbangga hati karena pengelolaan yang berjalan selama delapan tahun ini bisa memberikan warna pada pengelolaan hutan bakau di dunia.

Asihing yakin, jika hutan mangrove 700 hektare mendapat dukungan seluruh sivitas akademika Unila, almamaternya akan dapat mengalahkan Fakultas Kehutanan Gadjah Mada dan Institut Pertanian Bogor dalam hal ihwal mengenai mangrove.

Selama memperjuangkan 700 hektare hutan bakau dan menjaga keberlanjutannya untuk kepentingan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan, bukannya tanpa hambatan. Namun, bila kita memang sudah berniat tulus dan mengembangkan keilmuan berdasarkan kemampuan yang kita miliki, insya Allah pasti ada jalan keluar walaupun sesulit apa pun hambatan yang menghalang. "Tuhan beserta orang-orang yang tulus," ujar dia optimistis. (ABDUL GOFUR/S-2)

BIODATA
Nama : Asihing Kustanti
Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 27 September 1971
Agama : Islam
Alamat : Jalan Cendana 50 Bataranila, Bandar Lampung
Pendidikan :
- Sandwich Like DIKTI ke Departemen Kebijakan Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Gottingen Jerman tentang Actors, Interests, and Conflict in Sustainable Mangrove Forest Management in Lampung Mangrove Center?A Case From Indonesia, 2012.
- Menempuh pendidikan Program Doktor pada Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian (IPB) Bogor, 2010-sekarang.
- S-2 Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, 1999-2002.
- S1-Manajemen Hutan, Institut Pertanian Bogor (IPB), 1990-1995
- SMA Negeri 5 Surabaya, 1987?1990
- SMP Negeri 3 Surabaya, 1984?1987
- SD Negeri Petemon XII Surabaya, 1978?1984

Pengalaman Kerja :
- Kepala Pusat Penelitian Pesisir dan Kelautan Unila, 2008-2010
- Koordinator Model Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat di Lampung Mangrove Center kerja sama Universitas Lampung, BPHM Wilayah II Sumatera, Sub Sectoral Program on Mangrove-JICA (Japan International Cooperation Agency), 2008?2010
- Ketua Tim Pengelolaan Terpadu Hutan Mangrove Pantai Timur Unila (kerja sama Pemda Lamtim, masyarakat, dan Unila), 2005-2010
- Tim Redaksi Warta FP Universitas Lampung 2004-2009
- Sekretaris Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 2004-2008
- Ketua Tim Pelaksana Praktek Umum Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 2003-2005
- Kepala Laboratorium Silvikultur dan Perlindungan Hutan FP Unila, 2002-2004
- Dosen Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 1997?sekarang
- Staf of AMDAL PT Selaras Rona Consultant, Jakarta, 1995-1997


Sumber:
Inspirasi, Lampung Post, Senin, 24 Desember 2012

"Amunisi" pendukung utama untuk survey lapangan

on Monday, December 19, 2011


Sebuah proses panjang, seyogyanya menjadi prasyarat untuk sebuah kegiatan konservasi mangrove. Menentukan lokasi tanam, yang kemudian dilajutkan dengan proses pengamatan medan, mengamati karakteristik pasang surut, serta tidak ketinggalan tingkat aktifitas masyarakat di sekitar kawasan yang direncanakan akan ditanami mangrove. Semua data tersebut harus terangkum sebagai sebuah bahan awal, untuk menentukan perencanaan kegaiatan penanaman mangrove sebagai agian dari sebuah gerakan nyata konservasi pesisir.
Beragam data, kondisi medan yang harus dilalui para surveyor, tentu saja sangat menguras tenaga. Secara otomatis, konsentrasi yag pada ujungnya mempengaruhi ketajaman daya ingat, juga dapat berkurang. Padahal informasi di lapangan itulah yang seharusnya dikompilasi untuk pada akhirnya menjadi landasan dalam bertindak. Kehadiran media bantu, seperti ultrabook-notebook tipis, tentu saja sangat memudahkan proses kompilasi data. Media penyimpanan sekaligus pengolahan data, yang dengan gampang dipindahkan, dan tidak memperberat beban punggung para surveyor yang pastinya menghadapi medan yang cukup berat dan menguras energi.
Kehadiran ultrabook-notebook-tipis ini juga dapat menjadi penghibur dikala lelah, diantara kaitan akar mangrove yang saling membelit, menghadirkan suasana yang menyegarkan.

Informasi tentang peran notebook yang sangat mendukung proses survey di laphttp://www.blogger.com/img/blank.gifangan ini, dapat dibuka melalui situ resminya, disini, sebagai produsen Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik.

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page