Mohammad Ali; Dari Mangrove Menuju Kemandirian

on Tuesday, December 9, 2014




Kawasan Tanjung Laut Indah di Bontang, Kalimantan Timur, sudah berubah banyak. Kalau tiga tahun lalu deretan mangrove masih pendek dan jarang, kini sejauh mata memandang tampaklah mangrove yang merimbun memagari pantai. Hanya dalam waktu lima tahun, sudah 170 hektar kawasan pesisir Bontang ditanami mangrove.


Terima kasih kepada Mohammad Ali (46), yang mulai merintis penanaman mangrove dengan 150 bibit Rhizopora sp, salah satu jenis tanaman mangrove. ”Waktu ibu ke sini dulu, tanamannya rata-rata baru umur dua tahun. Sekarang sudah lebat ya,” katanya sambil menunjuk sabuk hijau mangrove di kejauhan.

Bertahun-tahun menjadi operator alat berat, Ali masih melaut bersama temannya para nelayan. Ia menyaksikan bagaimana hutan mangrove ditebang dan merasakan ikan tangkapan semakin jarang. Maka, tahun 2009, ia mencoba membibitkan mangrove bersama istrinya. Kebetulan lurah tempat Ali bermukim mendapat info bahwa Syahbandar Pelabuhan Tanjung Laut, Bontang, perlu 1.000 pohon bibit. Dengan dukungan sang lurah, Ali membuat proposal kerja sama ke PT Badak LNG.

Bak gayung bersambut, PT Badak LNG datang dengan bantuan perahu ketinting, pra-net, polybag, dan pelatihan. Menyadari tak mungkin mencapai target sendiri, Ali membentuk Kelompok Tani Lestari Indah untuk mengerjakan pembibitan bersama- sama. Meski semula Ali dan kawan- kawan hanya bisa memenuhi permintaan syahbandar 700 bibit, dalam perjalanannya pembibitan mangrove ini berkembang pesat.

Tidak hanya mampu menyediakan 100.000 bibit mangrove per tahun untuk program penghijauan PT Badak LNG, Kelompok Tani Lestari Indah juga menyuplai kebutuhan Pemerintah Kota Bontang, Dinas Perikanan Provinsi Kaltim, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat. Kawasan yang ditanami mangrove pun kian luas, membentang di seluruh pesisir Bontang.

Tidaklah mengherankan jika jumlah kelompok juga terus bertambah. Saat ini ada 16 kelompok tani pembibitan mangrove dengan total anggota 150 orang. Tiap-tiap kelompok mampu menyediakan bibit hingga 200.000 pohon per tahun. Tak hanya Rhizopora sp, mereka juga menanam Sonneratia ovata yang buahnya menjadi bahan baku sirup dan dodol serta Bruguiera gymnorrhiza yang menghasilkan tepung pengganti beras.

Sabuk hijau
Hutan mangrove tidak hanya menjadi sabuk hijau yang melindungi pantai dari abrasi, tetapi juga menjadi tempat pemijahan ikan dan biota laut lainnya. Dampaknya kemudian bisa dirasakan nelayan secara luas. Tidak perlu melaut jauh, mereka bisa menangkap ikan di kawasan bakau, bahkan kerang bakau yang besar-besar, kepiting, dan udang.

Kehadiran hutan mangrove ternyata juga memicu tumbuhnya kelompok baru: kelompok ibu-ibu pengolah hasil hutan mangrove. Dari pewarna batik, sirup, tepung, hingga dodol.

”Kalau pewarna batik dari rhizopora. Yang dikirim ke Surabaya hanya dipotong-potong dan dikeringkan, yang dipakai di Bontang sudah siap pakai dalam bentuk cair,” papar Ali.

Pengolahan pewarna batik dikerjakan sendiri oleh Kelompok Tani Lestari Indah, sedangkan pengolahan makanan dikerjakan oleh tiga kelompok berbeda. Ada Kelompok Tani Daun Harum, Wanita Pesisir, dan Karya Wanita, yang total beranggotakan 30 orang. Dengan demikian, secara langsung pembibitan mangrove rintisan Ali sudah menghidupi lebih dari 180 orang berikut keluarganya, dan manfaat tak langsung untuk ratusan nelayan lainnya.

”Istri saya dulu ikut di Lestari Indah. Tetapi sekarang dia lebih banyak di rumah mengurus si bungsu yang baru 2,5 tahun,” kata Ali yang memiliki lima anak.

Sumbangan tambahan PT Badak LNG berupa ruang Mangrove Information Center seluas 200 meter persegi menjadi tempat pembelajaran mangrove: dari pemahaman sampai pelatihan untuk berbagai pihak. Dari siswa sekolah hingga lembaga pemerintah.

Namanya juga Ali, aktivitas tersebut menelurkan peluang baru. Tamu yang hanya berkunjung sebentar sampai orang-orang yang belajar seharian tentu saja butuh makan. Maka, Ali mengajak para ibu yang belum tergabung dalam kelompok pembibitan dan pengolahan membentuk kelompok baru: katering.

Ia memang bersemangat mengajak para ibu karena hasilnya langsung buat keluarga. Pernah ada suami-suami yang ikut, tetapi karena uangnya dipakai untuk judi, mereka tidak boleh ikut lagi. Buat Ali, yang terpenting uang bisa digunakan untuk pendidikan.

”Anak-anak saya, juga anak-anak lain di kampung sini, harus sekolah setinggi mungkin. Jangan seperti saya dan kebanyakan orangtua yang cuma lulusan SD,” tuturnya.

Terus berkembang
Siang itu kelompok katering menyiapkan makan siang berupa ikan bakar, kerang, telur asin, bebek kecap, sayur sop, dan berbagai lalapan. Sebagian besar berasal dari usaha sendiri, termasuk telur dan bebek. Di pembibitan itu, ada 200-an bebek yang gemuk-gemuk karena makan hama siput.

Bebek dijual ke kelompok katering dengan harga pasar, juga ikan kerapu putih, kakap merah, dan baronang hasil dari keramba. Jadilah kelompok- kelompok ini saling mendukung dan menghidupi.

Sambil memilihkan sepatu bot untuk berkeliling kebun pembibitan, Ali menunjuk enam deretan dangau beratap biru. Dangau-dangau itu persiapan untuk ekowisata mangrove dan pemancingan. ”Biru artinya dibangun dengan biaya dari usaha kami sendiri,” katanya.

M AliHanya satu yang beratap merah, bangunan pusat studi mangrove bantuan PT Badak LNG. Tidaklah mengherankan jika Kelompok Tani Lestari Indah mendapat beberapa penghargaan. Demikian juga dengan Kelompok Tani Daun Harum, pengolah sirup dan dodol, yang baru saja menjadi juara pertama Wirausaha Produktif Seluruh Kaltim, 2014. Kelompok Tani Karya Wanita hari-hari ini tengah mengikuti expo di Jakarta.

Apa lagi yang ingin dicapai Ali? Ia tengah bersemangat mengembangkan kawasan ekowisata yang bisa memadukan pembelajaran, pemancingan, dan kuliner sekaligus, yang kini sudah berlangsung 40 persen.

”Nanti kami lepaskan kakap bakau dan kerapu lumpur. Ikan yang kena pancing bisa dimasakkan kelompok katering. Kalau semua sudah jalan, mudah-mudahan makin banyak masyarakat sekitar terkena dampaknya sehingga makin sejahtera,” ujar Ali.



—————————————————————————

Mohammad Ali
Lahir: Bontang, 3 November 1968
Istri: Norma
Anak: Karmila, Jumlian, Fitriani, Nurlina, Mohammad Rahman
Pengalaman kerja:
– Operator alat-alat berat
– Merintis usaha pembibitan
– Ketua Kelompok Tani Lestari Indah
Penghargaan:
– Harapan II Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari dari Kementerian Kehutanan, 2011
– Kelompok Tani Pelestari Lingkungan dari Kotamadya Bontang, 2011
– Kelompok Tani Pelestari Lingkungan dari Kecamatan Bontang Utara, 2011
– Kelompok Tani Konservasi Mangrove dari Provinsi Kaltim, 2011
– Terbaik  Penghijauan dan Konservasi Alam, 2011

Oleh: Agnes Aristiarini

Sumber: Kompas,  8 Desember 2014

Awalnya dianggap Gila kini Jadi Tokoh Inspiratif

on Wednesday, May 28, 2014


Foto si Tries

Awalnya dianggap gila ketika mengorganisir anggota kelompoknya untuk memulai menanami  mangrove di lahan kritis di pantai Desa Nagalawan, kini pasangan suami isteri, Sutrisno (37)  – Jumiati (32) dianggap sebagai tokoh inspiratif.  Bersama kelompoknya masing-masing mendapat penghargaan di tingkat nasional  dan internasional. Kelompok Nelayan Cahaya Pagi, yang beranggotakan nelayan, di Desember 2013 ini memperoleh Juara Nasional  Adhi Bakti Bina Bahari) dari Direktorat Jenderal  Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk kategori pengendalian pencemaran dan kerusakan ekosistem. Sementara Jumiati   bersama dengan Kelompok Perempuan Muara Tanjung di tahun 2013 ini  telah menerima dua penghargaan bergengsi.   Di awal Maret 2013 memperoleh penghargaan dari organisasi nirlaba Inggris,  Oxfam sebagai pahlawan pangan perempuan  (Food Heroes Oxfam) Indonesia 2013.   Awal Desember 2013, Jumiati juga terpilih menjadi  salah satu tokoh perempuan inspiratif penerima award Tupperware She Can, atas upayanya dalam penguatan ekonomi dan pemberdayaan perempuan di desanya.

Sutrisno, di kalangan aktifis lebih dikenal dengan Tries Zamansyah berkisah bahwa yang coba mereka kembangkan adalah kewirausahaan sosial. Di tahun 2005, pasangan suami isteri ini memulai menanami pesisir pantai yang kritis dengan tanaman bakau. Bersamaan dengan itu Tries mengorganisir kelompok nelayan sementara isterinya mengorganisir pembentukan kelompok perempuannya. Kelompok yang terbentuk di nelayan diberi nama Kelompok Nelayan Cahaya Pagi, sementara kelompok perempuannya diberi nama Kelompok Muara Tanjung. Kedua kelompok ini selanjutnya menjalankan usaha bersama sebagai upaya membangun kemandirian. Kelompok Nelayan Cahaya Pagi mengelola usaha perikanan dengan membeli ikan dari anggota kelompok, yang keuntungan usaha menjadi keuntungan bersama.

Keuntungan ini dibagikan menjelang lebaran sebagai sisa hasil usaha (SHU). “Saat ini anggota tidak lagi pening untuk biaya lebaran” jelas Tries. Sementara, Jumiati bersama kelompok perempuannya mengelola usaha kerajinan termasuk mengelola makanan dan minuman  dari bahan baku mangrove. Saat ini, uang yang dikelola kelompok perempuan ini cukup besar yakni sekitar 200 juta rupiah.  Seiring dengan pertumbuhan mangrove,  di tahun 2009 kedua kelompok ini menjadikannya sebagai objek ekowisata yang menggabungkan wisata dan pendidikan lingkungan. Untuk pengelolaannya  membentuk wadah yang lebih besar yakni Kelompok Konservasi Mangrove Muara Baimbai.

bakround foto_wisata mangrove

Di belakang  pria  yang sukses, ada perempuan  yang  hebat. Dan begitu sebaliknya. Gambaran sukses dan hebat bisa diperoleh di pasangan suami isteri tersebut. Sama-sama berlatar belakang aktifis nelayan di Serikat Nelayan Sumatera Utara (SNSU)  dengan jumlah anggota yang sempat mencapai ribuan nelayan. Organisasi yang dengan cepat besar tanpa didukung basis ekonomi dan sumberdaya manusia yang mumpuni, dapat pula cepat pula ambruk saat mengalami dinamika  yang terkelola dengan baik. Ini diantara titik balik dalam kehidupan pasangan ini, dengan tekad terus membangun organisasi nelayan yang kuat ke depan, namun dimulai dari penguatan ekonomi dari lingkungan yang terkecil yakni Masyarakat Nelayan di Dusun III Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumut.  Desa Sei Nagalawan berdampingan dengan usaha milik PT Aquafarm Nusantara di Unit Serdang Bedagai.

Umar Pasandre, dari Desa Torosiaje Jaya

on Thursday, November 21, 2013




GORONTALO  Menjaga Mangrove sama dengan menjaga kehidupan kita, Kalo bukan kita siapa lagi... Kalo bukan sekarang kapan lagi.  Slogan itu yang menjadi kunci keberhasilan Umar Pasandre sehingga masuk dalam nominasi penghargaan SUMO AWARD dan menjadi salah satu tokoh desa dan tokoh masyarakat yang peduli lingkungan mewakili desa Torosiaje Jaya. SUMO AWARD (Suharso Monoarfa Award) adalah satu yayasan yang setiap 2 (dua) tahun memberikan penghargaan kepada para tokoh desa, tokoh pejuang guru dan masyarakat yang telah mengabdi kurang lebih 20 tahun didaerah terpencil khususnya di Propinsi Gorontalo.


Umar Pasandre lahir di desa Torosiaje 14 April 1969 menikah dengan Neti Kaba dan telah di karuniai 2 putri. Sejak tahun 1987 Umar telah mengabdikan dirinya dalam kegiatan – kegiatan yang ada hubungannya dengan kepentingan masyarakat desa, baik masalah ekenomi, pendidikan, sosial budaya serta masalah lingkungan, semua ini di lakukan tanpa dorongan oleh siapapun. Kepeduliannya terhadap lingkungan terutama di sekitar desa Torosiaje yang mulai terancam,seperti; alih fungsi lahan mangrove yang di jadikan tambak,bahan bangunan dan kayu bakar oleh masyarkatnya. Dengan berbagai permasalahan di atas beliau mengambil langkah – langkah dengan melakukan sosialisasi dan  memberikan pemahaman pada masyarakat terkait dengan fungsi dan manfaat tanaman mangrove bagi kehidupan masyarakat pesisir.

Penyadaran lingkungan tak henti hentinya dilakukannya, hanya berbekal tekad dan beberapa pelatihan yang telah di ikutinya Umar merehabilitasi mangrove di tiga desa kecamatan popayato  antara lain desa Torosiaje dengan luasan areal penanaman kurang lebih 20 hektar dengan jumlah bibit yang di tanam kurang lebih 40.000 propagule/pohon. Melakukan aksi penanaman dan pembibitan Mangrove secara swadaya masyarakat di wilayah Torosiaje & Torosiaje Jaya bersama – sama dengan masyarakat desa dan organisasi Forum Pemuda Pelajar Bajo, yang di fasilitasi oleh  JAPESDA dan Program Teluk Tomini SUSCLAM.emangat juang yang sudah tertanam dalam dirinya merupakan semangat yang perlu di contoh  untuk meneruskan kegiatan – kegiatan yang berhubungan langsung dengan pelestarian lingkungan dan  membangun komunikasi ataupun kerjasama. Baik dengan pihak dan stakeholder terkait, maupun masyarakat yang inovatif, kreatif dan mandiri. Harapanya kedepan mengajak kepada semua masyarakat  bersama – sama untuk menjaga dan melestarikan sumber daya alam untuk masa depan anak cucu kita nanti.

Balada Penyelamat Hutan Mangrove Nusakambangan

on Tuesday, May 21, 2013

NUSAKAMBANGAN – Rintik hujan membuat lingkaran-lingkaran kecil memenuhi Selat Nusakambangan. Lingkaran kecil itu sedetik kemudian hilang diterjang hempasan gelombang dari perahu yang melintas. Di kanan-kiri selat, nampak hutan mangrove menghijau mulai beranjak rimbun.

“Pohon itu baru kami tanam satu tahun lalu,” kata Thomas Heri Wahyono, 45 tahun, penduduk Desa Ujung Alang Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Sabtu, akhir pekan lalu.
Wahyono, begitu ia biasa disapa, oleh tetangganya lebih dikenal sebagai pahlawan penghijauan hutan mangrove. Hutan mangrove sepanjang Laguna Segara Anakan hingga ujung timur Nusakambangan dikenal sebagai hutan mangrove terluas di Pulau Jawa. Kini kondisinya sangat memprihatinkan akibat penebangan liar oleh penduduk.
Wahyono menceritakan, Kampung Laut merupakan daratan di antara hutan mangrove yang terbentuk akibat sedimentasi beberapa sungai yang bermuara di Segara Anakan. Salah satu sungai terbesar yakni Sungai Citanduy yang melintas di 11 kabupaten di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Ia mengaku sudah tinggal di tempat itu selama 40 tahun lebih. Hutan mangrove itu, kata dia, sewaktu kecil merupakan tempat ia bermain dan mencari ikan. Memorinya tentang banyaknya pohon mangrove yang berdiri kokoh dan tinggi menjulang masih terjaga di otaknya.
Wahyono kecil begitu kagum dengan lingkungannya itu. Pohon-pohon besar mangrove mampu menjadi habitat berbagai macam biota laut. Tak hanya ikan, hewan lain seperti udang dan kepiting begitu melimpah di tempat itu. Hewan laut itu, biasa ia tukar dengan beras, minyak, dan kebutuhan pokok lainnya dengan warga di daratan Cilacap.

Penduduk setempat juga biasa menggunakan pohon mangrove untuk membangun rumah. Mereka mengambil sekedarnya tanpa berlebihan sehingga tidak terlalu berpengaruh terhadap luasan hutan mangrove.
Kenangan manis itu seketika hancur berantakan. Tahun 1995, kata dia, terjadi pembukaan hutan mangrove secara besar-besaran. “Investor dari Jawa Barat mulai datang dan membuka tambak untuk budidaya udang,” katanya.
Mudahnya mendapatkan uang, membuat warga tergiur. Mereka pun lantas menyewakan lahan dan mulai membuka ratusan hektare hutan. Selama empat tahun, mereka menikmati masa keemasan dari hasil tambak.
Seperti kata pepatah, tak ada pesta yang tak berakhir. Memasuki tahun 1999, satu persatu investor mengalami kebangkrutan. Udang peliharaan mereka mulai terserang virus mematikan dan membuat mereka gulung tikar. Apa lacur, hutan mangrove yang dulunya ijo royo-royo kini mirip padang savanna gersang penuh semak belukar. “Sejak saat itu, ikan, udang dan kepiting mulai sulit didapatkan,” katanya.
Sadar akan lingkungannya yang rusak, Wahyono tergerak untuk membuat sebuah gerakan radikal. Ia bertekad untuk menanami kembali hutan mangrove di kampungnya yang sudah rusak. Niatnya itu, ia sampaikan kepada keluarganya. Tak butuh waktu lama, gayung pun bersambut.
Ia kemudian mengajak enam anggota keluarganya dan membentuk sebuah kelompok untuk menanam mangrove kembali. Kelompoknya diberi nama Keluarga Lestari. “Tujuannya hanya satu, menanam kembali hutan mangrove,” tegas dia.
Wahyono mempunyai empat orang anak, Yufita Reni Windiyastuti, Antonius Jonny Riyanto, Andreas Aji Wibowo, dan Claudius Mario Tegar Saputro, hasil pernikahannya dengan Monika Tumirah. Bersama anak dan istrinya itu, ia mulai mengkampanyekan gerakan menanam kembali hutang mangrove yang sudah rusak.
 Gerakan awal yang dilakukannya di tahun 2001 bersama keluarga memang tidak kemudian disambut baik oleh masyarakat sekitar. Bahkan, ada sejumlah warga yang justru mencibir terhadap apa yang mereka lakukan.
“Saya terus menyemangati saudara-saudara saya untuk tidak berhenti menanam. Karena seperti pengalaman waktu-waktu sebelumnya, kalau hutan mangrove lebat, maka ikan, udang dan kepiting akan sangat gampang ditemui. Selain itu, jika butuh kayu, tinggal potong ranting pohon mangrove yang besar. Pemotongan itu pun harus bijak, tidak seluruhnya, supaya pohonnya tidak mati,” kata Wahyonoyang hanya mengenyam pendidikan sekolah dasar.
Menginjak tahun kedua, warga sekitar mulai tertarik membantu Wahyono. Meski tak mendapatkan upah, warga sekitar tetap bersemangat untuk mengikuti jejak Wahyono. Saat ini, tercatat 50 orang tergabung dalam kelompoknya. “Karena anggotanya semakin banyak, nama kelompoknya diubah menjadi Krida Wana Lestari dan setiap 35 hari kami mengadakan pertemuan,” katanya.
Sepuluh tahun berjalan, kini mereka sudah menghijaukan kembali hutan mangrove sekitar 30 hektare. Mereka kini juga mempunyai sebuah pondok sebagai tempat untuk kumpul-kumpul.
Untuk menunjang perekonomian, mereka kini membangun tambak untuk budidaya kepiting. Tambak yang dibuat di tengah-tengah hutan mangrove yang sudah mereka hijaukan kembali ternyata cukup menghasilkan.
Hasilnya pun cukup lumayan, dari bibit kepiting yang dibeli Rp 20 ribu perkilogram, setelah dibesarkan sekitar empat bulan bisa dijual menjadi Rp 120 ribu. Mereka beranggapan, usaha kepiting tak akan sukses jika hutan mangrovenya rusak.
Sukarjo Kliwon, 50 tahun, salah satu anggota kelompok mengaku awalnya ragu dengan apa yang dilakukan Wahyono. “Tapi lambat laun terlihat ada hasilnya, saya sekarang menjadi coordinator penghijauan wilayah utara,” katanya.
Ia mengakui, masih banyak warga yang belum tergerak untuk mengikuti jejak kelompoknya. Pun hingga hari ini, ketika semakin banyak kelompok masyarakat di luar Cilacap yang mulai ikut menanam kembali hutan mangrove, warga dengan cueknya hanya melihat.
Baginya, memulihkan hutan mangrove seperti sedia kala, akan membutuhkan waktu puluhan tahun. Hanya saja ia yakin, menghijaukan hutan mangrove bukan hanya untuk dirinya tapi anak cucunya kelak yang biasa disapa anak-anak mangrove.
Rusaknya hutan mangrove bukan hanya isapan jempol. Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Cilacap, Supriyanto mengatakan, luas hutan mangrove tahun 1974 tercatat mencapai 15.551 hektare. “Saat ini tinggal  8.359 hektare saja,” katanya..
Supriyanto mengatakan, kawasan hutan mangrove Segara Anakan memiliki komposisi maupun struktur hutan terlengkap dan terluas di Pulau Jawa yang ditumbuhi 26 spesies mangrove, antara lain api-api (Avicennia alba), bogem (Sonneratia alba), dan bakau (Rhizopora mucronata), juga mengalami kerusakan akibat adanya pendangkalan. Selain penebangan hutan, kata dia, rusaknya hutan mangrove juga disebabkan sedimentasi yang masuk sekitar 1 juta meter kubik setiap tahunnya.
Ketua Mitigasi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Endang Hilmi mengatakan, hutan mangrove Nusakambangan merupakan yang terlengkap di dunia. “Dari penelitian kami, setidaknya dulu ada 30 jenis. Tapi sekarang tinggal 10 jenis,” katanya.
Menurut dia, hutan mangrove sangat penting peranannya untuk mitigasi bencana terutama bencana tsunami. Ia mencontohkan, saat tsunami tahun 2006, Cilacap tidak terlalu parah kerusakannya karena terhambat hutan mangrove. Selain itu, mangrove juga dipercaya bisa menyerap karbon yang selama ini dituding sebagai penyebab utama pemanasan global.


Pendekar Mangrove dari Lampung

on Wednesday, December 26, 2012

Asihing Kustanti


ASIHING Kustanti melihat pepohonan dengan perakaran yang mencuat ke permukaan lautan itu sebagai nan objek eksotik. Baginya mangrove adalah simbol keteguhan hati.

Dalam pandangan Asihing, mangrove (bakau) adalah gambaran objek menarik, tetapi mampu menahan gempuran ombak. Hal ini menginspirasinya sejak kecil, terutama ketika ia sering berjalan-jalan dengan keluarga ke pantai ber-mangrove di Surabaya tempat kelahirannya.

Rupanya aktivitas jalan-jalan sepanjang pantai berbakau tetap dilanjutkan saat mengikuti praktek umum di tingkat sarjana di IPB. Waktu itu Asihing praktek di hutan bakau Cilacap, Jawa Tengah.

Kesenangan Asihing terhadap hutan mangrove makin menggila. Setelah Asihing lulus sarjana kehutanan IPB tahun 1995, Asihing menjadi dosen di Universitas Lampung. Di sini ia terlibat dalam upaya pelestarian 700 hektare hutan bakau.

Sepulang S-2 dari IPB, Asihing mengampu mata kuliah wajib Manajemen Hutan Mangrove di Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Unila sejak tahun 2002. Pada November 2004, kegiatan praktikum dilaksanakan di hutan bakau Desa Margasari, Lampung Timur.

Praktek di Hutan

Pada waktu itu mahasiswa praktek di hutan mangrove selama tiga hari, menginap di hutan bakau dengan menggunakan tenda. Melihat keseriusan mahasiswa melaksanakan praktek, Kepala Desa Sukimin (alm.) berinisiatif menyerahkan hutan bakau seluas 50 ha kepada Unila sebagai hutan pendidikan.

Tidak menyia-nyiakan inisiatif tersebut, Asihing langsung membuat surat kepada dekan Fakultas Pertanian Unila yang diteruskan ke rektorat dan suratnya mendapatkan tanggapan. Singkat cerita, hutan bakau dimasukkan ke program tripartit Unila, masyarakat, dan Pemkab Lampung Timur.

"Untuk mendapatkan hutan mangrove 700 hektare tidaklah mudah. Prosesnya memakan waktu cukup panjang dan melelahkan. Mulai dari audiensi, proses administrasi, penanganan konflik, dan negoisasi, berlangsung hampir satu tahun dengan pihak-pihak dari dinas teknis Pemkab Lamtim," ujar dia.

Namun, semuanya bisa diselesaikan dengan pendekatan komunikasi, keilmuan, dan koordinasi. Lahirnya MoU, naskah kerja sama, nota kesepahaman, dan penerbitan izin lokasi pengelolaan antara Universitas Lampung dan Pemkab Lamtim diserahterimakan pada 26 Januari 2006.

Ya, memang banyak sekali waktu yang dikorbankan, munculnya konflik, prasangka yang salah, tidak memahami pengembangan keilmuan, dan kelembagaan dalam pengembangan hutan bakau tersebut. Namun, itu semua bukanlah hambatan yang berarti.

"Asalkan kami melakukan sesuai keilmuan yang kami miliki dan dengan niatan yang baik maka semua hambatan itu akan menyingkir dengan sendirinya," ujar dia.

Integrasikan Manajemen Hutan Mangrove

Segera setelah masuk program tripartit, akhir Desember 2004, Asihing diminta presentasi di depan Muhajir Utomo, rektor Unila kala itu. Dia berbicara tentang program yang akan dikembangkan di hutan mangrove (bakau) yang diberinya nama Lampung Mangrove Center tersebut.

"Saya memaparkan tentang integrated management of mangrove forest management. Kenapa hal tersebut saya kemukakan karena melihat kondisi hutan yang berada di perbatasan daratan dan lautan yang melibatkan tidak hanya satu dinas teknis, tetapi bisa lebih banyak dinas teknis terlibat," ujar dia mengenang pertemuan itu.

Di depan Rektor, Asihing berargumen integrasi perlu dilakukan supaya tidak ada tumpang tindih aktivitas yang memboroskan anggaran. Tujuan akhirnya, efisiensi dan efektivitas pembangunan. Setelah memaparkan program, Rektor menyetujui dan segera dilakukan audiensi di Kabupaten Lampung Timur oleh tim tripartit mangrove Unila.

Kemudian, disusunlah program bersama yang akan dijadikan acuan dalam pengembangan Lampung Mangrove Center. Setidaknya ada enam program bersama waktu itu, salah satunya adalah terbangunnya Mangrove Center Building sebagai aktivitas penelitian dan pengembangan mangrove skala nasional bahkan internasional.

Selanjutnya, pembangunan jejaring kerja mangrove nasional dan internasional telah dilakukan pada 2009. Balai Pengelolaan Hutan Mangrove II Wilayah II Kementrian Kehutanan dan Subsectoral Program on Mangrove?Japan International Cooperation Agency (JICA) juga telah berkiprah di LMC.

Sejak tahun 2010, Asihing melanjutkan studi S-3 dengan spesialisasi kebijakan pengelolaan hutan bakau di Lampung Mangrove Center. Dengan rasa percaya diri, Asihing sampaikan ke promotor Asihing di IPB bahwa pengelolaan di LMC telah berlangsung secara berkelanjutan (sustainable) sampai saat ini, dari 2004 sampai 2012.

Dia baru saja menyelesaikan analisis penelitian tentang peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan hutan bakau di Forest Policy and Nature Conservation, Forestry Faculty, University of Gottingen, Germany, di bawah bimbingan Maximilian Krott.

Krott menunjukkan antusiasme dengan memberikan judul pada draf jurnal internasional Asihing yaitu Actors, Interests, and Conflict in Sustainable Mangrove Forest Management?A Case from Indonesia. Nama Lampung Mangrove Center, Universitas Lampung, Kabupaten Lampung Timur, dan Provinsi Lampung didengar di Jerman.

Bahkan, para anggota tim profesor di Jerman tidak percaya akan adanya kerja sama yang telah berlangsung cukup lama yaitu selama delapan tahun berjalan (2004?2008). Asihing melakukan studi tentang pengelolaan hutan bakau di dunia, ternyata pengelolaan hutan mangrove bersama masyarakat, Universitas Lampung, dan Kabupaten Lampung Timur, merupakan contoh yang sangat bagus dibandingkan negara-negara di dunia lainnya.

Di Tanzania, Afrika Timur, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang masih karut-marut atau tumpang tindih kegiatan di antara dinas teknis dalam pengelolaannya. Kita perlu berbangga hati karena pengelolaan yang berjalan selama delapan tahun ini bisa memberikan warna pada pengelolaan hutan bakau di dunia.

Asihing yakin, jika hutan mangrove 700 hektare mendapat dukungan seluruh sivitas akademika Unila, almamaternya akan dapat mengalahkan Fakultas Kehutanan Gadjah Mada dan Institut Pertanian Bogor dalam hal ihwal mengenai mangrove.

Selama memperjuangkan 700 hektare hutan bakau dan menjaga keberlanjutannya untuk kepentingan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan, bukannya tanpa hambatan. Namun, bila kita memang sudah berniat tulus dan mengembangkan keilmuan berdasarkan kemampuan yang kita miliki, insya Allah pasti ada jalan keluar walaupun sesulit apa pun hambatan yang menghalang. "Tuhan beserta orang-orang yang tulus," ujar dia optimistis. (ABDUL GOFUR/S-2)

BIODATA
Nama : Asihing Kustanti
Tempat, tanggal lahir : Surabaya, 27 September 1971
Agama : Islam
Alamat : Jalan Cendana 50 Bataranila, Bandar Lampung
Pendidikan :
- Sandwich Like DIKTI ke Departemen Kebijakan Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Gottingen Jerman tentang Actors, Interests, and Conflict in Sustainable Mangrove Forest Management in Lampung Mangrove Center?A Case From Indonesia, 2012.
- Menempuh pendidikan Program Doktor pada Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian (IPB) Bogor, 2010-sekarang.
- S-2 Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, 1999-2002.
- S1-Manajemen Hutan, Institut Pertanian Bogor (IPB), 1990-1995
- SMA Negeri 5 Surabaya, 1987?1990
- SMP Negeri 3 Surabaya, 1984?1987
- SD Negeri Petemon XII Surabaya, 1978?1984

Pengalaman Kerja :
- Kepala Pusat Penelitian Pesisir dan Kelautan Unila, 2008-2010
- Koordinator Model Pengelolaan Hutan Mangrove Berbasis Masyarakat di Lampung Mangrove Center kerja sama Universitas Lampung, BPHM Wilayah II Sumatera, Sub Sectoral Program on Mangrove-JICA (Japan International Cooperation Agency), 2008?2010
- Ketua Tim Pengelolaan Terpadu Hutan Mangrove Pantai Timur Unila (kerja sama Pemda Lamtim, masyarakat, dan Unila), 2005-2010
- Tim Redaksi Warta FP Universitas Lampung 2004-2009
- Sekretaris Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 2004-2008
- Ketua Tim Pelaksana Praktek Umum Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 2003-2005
- Kepala Laboratorium Silvikultur dan Perlindungan Hutan FP Unila, 2002-2004
- Dosen Jurusan Manajemen Hutan FP Unila, 1997?sekarang
- Staf of AMDAL PT Selaras Rona Consultant, Jakarta, 1995-1997


Sumber:
Inspirasi, Lampung Post, Senin, 24 Desember 2012

"Amunisi" pendukung utama untuk survey lapangan

on Monday, December 19, 2011


Sebuah proses panjang, seyogyanya menjadi prasyarat untuk sebuah kegiatan konservasi mangrove. Menentukan lokasi tanam, yang kemudian dilajutkan dengan proses pengamatan medan, mengamati karakteristik pasang surut, serta tidak ketinggalan tingkat aktifitas masyarakat di sekitar kawasan yang direncanakan akan ditanami mangrove. Semua data tersebut harus terangkum sebagai sebuah bahan awal, untuk menentukan perencanaan kegaiatan penanaman mangrove sebagai agian dari sebuah gerakan nyata konservasi pesisir.
Beragam data, kondisi medan yang harus dilalui para surveyor, tentu saja sangat menguras tenaga. Secara otomatis, konsentrasi yag pada ujungnya mempengaruhi ketajaman daya ingat, juga dapat berkurang. Padahal informasi di lapangan itulah yang seharusnya dikompilasi untuk pada akhirnya menjadi landasan dalam bertindak. Kehadiran media bantu, seperti ultrabook-notebook tipis, tentu saja sangat memudahkan proses kompilasi data. Media penyimpanan sekaligus pengolahan data, yang dengan gampang dipindahkan, dan tidak memperberat beban punggung para surveyor yang pastinya menghadapi medan yang cukup berat dan menguras energi.
Kehadiran ultrabook-notebook-tipis ini juga dapat menjadi penghibur dikala lelah, diantara kaitan akar mangrove yang saling membelit, menghadirkan suasana yang menyegarkan.

Informasi tentang peran notebook yang sangat mendukung proses survey di laphttp://www.blogger.com/img/blank.gifangan ini, dapat dibuka melalui situ resminya, disini, sebagai produsen Ultrabook Notebook Tipis Harga Murah Terbaik.

Wahyono: "Kuncen" Mangrove Segara Anakan

on Tuesday, October 25, 2011

Thomas Heri Wahyono, perintis gerakan penghijauan mangrove di Kawasan Segara Anakan, Cilacap, Jateng. Foto : L Darmawan


"Hamparan mangrove di hutan dan tepian laguna bagi Anda mungkin tak ada artinya. Tetapi,saya yakin, menanam dan memelihara hutan mangrove di tanah dan kebun sendiri akan bermanfaat bagi kehidupan kita dan anak cucu di kemudian hari......"
OLEH GREGORIUS MAGNUS FINESSO
Kalimat tersebut menjadi "mantra' dalam hidup Thomas Heri Wahyono. Kalimat itu kembali diulang saat ia berjalan kaki melintasi hutan mangrove  menuju rumah semipermanen di Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah. Daerah pelosok ini berdekatan dengan bibir laut selatan kawasan laguna Segara Anakan.
     Kalimat itu pula yang menjadi pedoman Wahyono selama belasan tahun meyakinkan warga di sekitar laguna untuk menanami lahan mereka dengan mangrove (bakau). Kawasan ini mulai rusak akibat degradasi lingkungan.
     Bagi warga Kampung Laut yang rata-rata berpendidikan SD, semangat menanam mangrove yang tumbuh di benak Wahyono itu tidak lazim. "Desa, kok, malah dihutankan," katanya menirukan cibiran warga desa saat gerakan menanam mangrove dimulainya tahun 1999.
     Perjuangan pria tamatan SD ini dalam menghijaukan hutan berawal dari keprihatinan melihat desa kelahirannya kian gersang. Mengenang masa kecilnya, Wahyono merasa bahagia dengan hutan bakau di sekitarnya. hamparan pepohonan itu menjadikan lingkungan tempat tinggalnya kaya biota laut. Udang, kepiting, dan ikan begitu melimpah.
     Tak hanya asri, hamparan mangrove di sekitar Pulau Nusakambangan saat itu juga bermanfaat bagi warga yang hendak menggunakan kayu untuk rumah. Meski begitu, warga kampung Laut hanya mengambil kayu sesuai dengan keperluan mereka. 
Dihancurkan tambak
     Nostalgia Wahyono menjadi mimpi buruk kala 1995 puluhan investor dari Jawa Barat membabati hutan mangrove untuk tambak udang. Apalagi, warga setempat tertarik akrena mereka dimungkinkan memperoleh banyak uang sebagai pekerja tambak. tahun-tahun awal masyarakat menikmati hasilnya. 
     Namun, masa keemasan tambak udang tak bertahan lama. Sekitar tahun 1999, satu persatu tambak bangkrut. Serangan virus dan turunnya harga udang dunia memaksa investor angkat kaki dari Kampung Laut, meninggalkan ribuan hektar gundul.
     Tinggallah kampung Laut yang sebelumnya asri menjadi "gurun pasir", panas dan gersang. Tergugah mengembalikan keasrian alam, Wahyono mulai menanami mangrove di lahan bekas tambak itu seorang diri.
     "Awalnya, saya sendiri mencari biji mangrove dengan perahu ke hutan-hutan yang masih tersisa. Saya pergi siang, pulang malam. Setelah terkumpul banyak, saya menanami lahan bekas tambak dengan biji mangrove itu,"ungkap Wahyono yang sejak 2003 menjadi Kepala Dusun Lempong Pucung.
     Dia lalu mengajak kerabatnya untuk ikut menghijaukan lingkungan dengan mangrove. "Kali ini, ide saya diterima. Kami membentuk semacam kelompok,  namanya Keluarga Lestari, beranggota tujuh orang. Tujuannya sederhana, menghijaukan lingkungan mangrove yang rusak.," katanya bersemangat.
     Namun, gerakan penghijauan lahan di sekitar laguna tak mudah.Caci maki, bahkan tuduhan sebagian tetangga bahwa upaya menanam mangrove itu adalah proyek titipan yang hanya menguntungkannya harus dia hadapi. Wahyono tak menyerah.
     "Jika hutan mangrove lebat, ikan, udang, dan kepiting akan gampang  didapat. Itu pengalaman nyata panjenengan (Anda), bukan? Kalau butuh kayu, tinggal memotong ranting pohon mangrove yang besar. Tidak seluruhnya, agar pohon tidak mati," kata Wahyono setiap bertemu warga setempat.
Tanpa upah
     Gerakan penghijauan itu  lambat laun mampu menggugah kesadaran warga, bukan hanya warga di dusunnya, melainkan juga warga di desa tetangga, seperti Ujung gagak dan Klaces. Ia memanfaatkan setiap pertemuan dengan warga untuk bicara soal mangrove.
     Setelah menjadi kepala dusun, Wahyono pun punya kesempatan lebih besar untuk mengajak warga melestarikan mangrove. maka,terbentuklah kelompok Krida Wana Lestari pada 2004, yang lalu berubah nama menjadi Patra Krida Wana Lestari.
     "Sejak awal, saya sudah wanti-wanti untuk tak bicara upah. Apa yang kami lakukan ini tidak ada yang membayar. Kegiatan ini murni penghijauan, tak ada yang lain," katanya.
     Untuk menambah pengetahuan tentang mangrove, Wahyono mengikuti pelatihan dan lokakarya mengenai tumbuhan endemik perairan payau hingga ke luar daerah. Setiap mendengar ada seminar budidaya mangrove, dia mengajukan diri menjadi peserta.
     Dari berbagai seminar itu, wawasannya mengenai budidaya mangrove semakin luas. Ia jadi tahu bahwa memelihara mangrove jauh lebih sulit dibandingkan dengan saat menanam.
     "Saya bersama kelompok secara rutin membabati ilalang dan benalu yang tumbuh di sekotar mangrove. Cukup berat karena luas lahan yang ditanami mangrove mencapai 66 hektar.Kami melakukannya setiap Jumat," tuturnya.
Apresiasi
     Apa yang dilakukan kelompok itu mendapat perhatian banyak pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Cilacap hingga PT Pertamina unit Pengolahan IV di Cilacap.
     PT Pertamina memberikan pendampingan budidaya kepiting, mulai dari basket (rumah kepiting dari plastik tebal) sampai benih kepiting. Sekitar 33 anggota kelompok pun merasakan manfaat ekonomi dari hasil keringat selama bertahun-tahun.
     Kini, setelah berjalan sekitar 10 tahun, hampir semua halaman warga di Desa Ujung Alang, khususnya Dusun Lempong Pucung, ditanami mangrove, terutama jenis tancang (Bruguiera) dan bakau (Rhizophora) yang kokoh. Bibit-bibit mangrove diberikan Wahyono gratis kepada para tetangga.
     Kesadaran memiliki mangrove telah tertancap kuat dihati warga Kampung Laut. Jika ada warga dari luar kampung yang menebangi mangrove, warga setempat akan menyuruh mereka pergi. Luas lahan di sekitar laguna yang ditanami mangrove sekitar 65 hektar.
     "Itu belum termasuk yang ditanam secara mandiri oleh warga di sekitar rumah mereka," ujarnya.
     Maka, Kampung Laut berangsur kembali asri. Ikan dan udang berenang di celah-celah akar mangrove. Meski persoalan sedimentasi laguna terlalu besar untuk diatasi tangan Wahyono yang kian menua, setidaknya dia bersama kelompoknya telah memulai langkah kecil untuk menyelamatkan lingkungan.
Dikutip dari KOMPAS, SENIN, 24 OKTOBER 2011
 
 
 
Lahir : Kecamatan Ujung Alang, Cilacap, Jawa Tengah, 8 Agustus 1965
Istri : Monica Tumirah (41)
Anak :
- Yuvita Reni Windiastuti
- Antoni Joni Rianto
- Andreas Aji Wibowo
- Rizki Tegar Saputro
Pekerjaan :
- Kepala Dusun Lempong Pucung, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut 
- Ketua Kelompok Patra Krida Wana Lestari
Pelatihan, antara lain :
- Pelatihan Peningkatan Keterampilan Kelompok Masyarakat Desa Tertinggal
  Cilacap, 2000
- Pelatihan Hutan Mangrove bagi Masyarakat Pesisir se-Indonesia, 2007
Penghargaan, antara lain :
- Tokoh Perintis Lingkungan Hidup Kabupaten Cilacap, 2010
- Tokoh Perintis Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, 2010
 

Pertumbuhan benih mangrove, antara permintaan dan penyediaan

on Monday, February 7, 2011




Tulisan ini kami dedikasikan kepada dunia akademik, yang telah bersusah payah, melakukan penerapan teknologi demi perkembangan keilmuan di bidang mangrove. Walaupun masih belum mencapai hitungan puluan ribu, namun upaya kalangan akademik dan para peneliti dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang menggelayuti mangrove, patut diacungi jempol. Berikut catatan kami, mengenai hal terpuji tersebut.


Masalah mangrove, salah satunya, adalah masalah pertumbuhan. Pembenihan mangrove tergolong sangat lama, bahkan sampai sekitar 12 pekan (6 bulan) untuk mendapatkan bibit mangrove dengan 2 helai daun, terhitung sejak propagul. Sementara untuk mencapai taraf "propagul dengan satu tunas daun", propagul harus ditanam sekitar 45 hari (Yadi, 2005). Jika mempersiapkan bibit tanaman yang dikelola sendiri untuk memenuhi pesanan, membutuhkan waktu 6-8 bulan siap tanam. Sementara, pihak pemesan biasanya mematok waktu pemenuhan bibit, maksimal hanya 5 bulan. Padahal di lain hal, pemenuhan kebutuhan akan penyediaan bibit mangrove merupakan hal yang tak bisa dibantah, lebih-lebih untuk kawasan pantai yang mengalami krisis mangrove (sebuah realitas buruk yang terjadi di berbagai penjuru bumi). Di negara kita sendiri, tingkat kerusakan hutan mangrove sudah mencapai 68%. Kepedulian terhadap mangrove yang belakangan mengalami peningkatan, juga memberikan imbas kenaikan permintaan terhadap bibit mangrove siap tanam. Hal ini juga sekaligus memunculkan masalah baru, dimana permintaan yang sedemikian tingginya, ditambah lagi dengan terbatasnya waktu yang disediakan untuk memenuhi pemesanan bibit tersebut, sementara jumlah bibit yang tersedia tidak mencukupi.

Dunia kampus, ternyata tidak tinggal diam, menyikapi masalah tersebut. Dosen dan mahasiswa dari universitas Muhammadiyah Malang, pada tahun 2010 memunculkan ide untuk menerapkan kultur jaringan, sebagai salah satu cara perbanyakan tanaman secara vegetatif, kepada permasalahan penyediaan bibit mangrove. Sejatinya, kultur jaringan merupakan teknik perbanyakan tanaman dengan cara mengisolasi bagian tanaman seperti daun, mata tunas, serta menumbuhkan bagian-bagian tersebut dalam media buatan secara aseptik yang kaya nutrisi dan zat pengatur tumbuh dalam wadah tertutup yang tembus cahaya sehingga bagian tanaman dapat memperbanyak diri dan bergenerasi menjadi tanaman lengkap. Prinsip utama dari teknik kultur jaringan adalah perbayakan tanaman dengan menggunakan bagian vegetatif tanaman menggunakan media buatan yang dilakukan di tempat steril.

Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan ditengarai mempunyai beberapa penanda, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional. Sampai saat tulisan ini diturunkan, sayangnya belum terdapat jawaban dari upaya ini.

Permasalahan penyediaan bibit rupanya juga cukup menyedot perhatian civitas akademika bilamana dirunut lebih kebelakang. Tiga dosen muda dari UNdip pada bulan November 2003, melaporkan usaha mereka untuk melakukan pembenihan mangrove jenis Rhizopora mucronata diatas rakit apung. Teknik ini mengacu kepada keberhasilan metode yang serupa kepada rumput laut pada tahun 2002. Sayangnya, teknik ini belum memberikan hasil yang menggembirakan.
Tahun 2005, laboratorium Atom dan Nuklir Jurusan Fisika FMIPA UnDip pada bulan Mei sd Oktober 2005, mencoba menjawab permasalahan tersebut. Peradiasian plasma propagul mangrove, dengan harapan dapat mempercepat pertumbuhan mangrove sebagai bentuk implementasi upaya perbaikan kualitas tumbuhnya. Pilihan mereka sebagai bentuk terapan teknologi plasma di bidang biologi tanam-tanaman ini, didasarkan kepada kesuksesan peradiasian terhadap biji sawi, yang terbukti menghasilkan peningkatan prosentase perkecambahan tanaman sawi, dan peningkatan pertambahan panjang hipokotil secara signifikan. Upaya serupa pada propagul mangrove dari species Rhizopora apiculata, sayangnya masih belum memunculkan hasil yang menggembirakan.

Sebagai penutup, kami berikan sebagai ilustrasi tentang besarnya bisnis pengadaan bibit mangrove. Pada tahun 2005, melalui sebuah saluran informasi terbatas, ketika itu Departemen Kehutanan mengadakan proyek rekonstruksi Pantura Jawa Barat dengan penanaman 36.5 juta pohon Mangrove (Bakau) setiap tahunnya, untuk 7.300 ha di tahun 2005. Para pebisnis, kala itu sudah mulai menawarkan kerjasama penanaman investasi untuk membuat pembibitan Mangrove di Kabupaten Indramayu, sebanyak 1.000.000 batang/tahun, dengan spesifikasi bibit siap salur: tinggi 30 cm dengan minimal 4 daun, senilai @ Rp.1.500,- dengan harga pokok @Rp.825,- perbatang. Jangka proyek mulai Agustus s/d Desember 2005, dengan modal awal yang diperlukan Rp.175.000.000,- dengan share-profit 30% bagi investor. Alih-alih mempercepat proses, penawaran tersebut juga menyasar laboratorium kultur jaringan yang memiliki kemampuan menduplikasi tanaman Mangrove.

Demikianlah, berbagai ide dan metode yang dapat kami paparkan, dalam menjawab sebuah permasalahan yang muncul dari upaya mulia untuk merehabilitasi kondisi mangrove di nusantara. Semoga saja, paparan singkat ini dapat memberikan inspirasi bagi perkembangan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, untuk menjawab berbagai permasalahan yang muncul, khususnya seputar budidaya mangrove.

bersambuung....
(dpp)

Mobil tangguh untuk melihat mangrove

on Monday, December 6, 2010

Dalam setiap perjalanan kami dalam menyebarkan ilmu ke"mangrove"an kepada khalayak luas, kami selalu gunakan kendaraan pendukung terbaik. Soalnya tidak mungkin bila kami harus direpotkan dengan kendaraan, sementara tugas kami dalam menyebarkan ilmu mangrove memerlukan konsentrasi yang cukup tinggi.



Logo Toyota SEO Award 2010

Membaca berbagai "buku" tentang mangrove

on Wednesday, December 1, 2010


Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Membaca melibatkan pengenalan simbol yang menyusun sebuah bahasa. Membaca dan mendengar adalah 2 cara paling umum untuk mendapatkan informasi. Informasi yang didapat dari membaca dapat termasuk hiburan, khususnya saat membaca cerita fiksi atau humor.

Sebagian besar kegiatan membaca sebagian besar dilakukan dari kertas. Batu atau kapur di sebuah papan tulis bisa juga dibaca. Tampilan komputer dapat pula dibaca. Pembaca mangroveblog sekalian, untuk belajar tentang mangrove, anda juga perlu membaca, selain berdiskusi dengan para penggiat mangrove. Beberapa buku tentang mangrove dapat anda unduh dengan gratis melalui internet. Misalkan saja Mangrove Guidebook for Southeast Asia, yang diterbitkan FAO, yang bisa anda unduh disini, atau ada "pecahannya" yang bisa diunduh melalui ftp disini. Namun bagi anda yang merasa tidak memerlukan informasi di tingkat asia tenggara, maka anda dapat memilih buku terbitan Wetlands Indonesia tentang Panduan pengenalan mangrove di Indonesia (2006) disini. Atau anda lebih tertarik untuk mencari pengetahuan seputar olahan berbahan baku mangrove yang diterbitkan oleh Mangrove Action Project, Cooking with Mangrove disini, atau yang file pdf aslinya terbitan dari Yayasan Mangrove Indonesia disini. Bilamana lebih berminat pada sisi penghutanan mangrove, silvofishery dan beragam tetek bengeknya, worldagroforestrycentre, memberikan buku pdf berbahasa Indonesia, sebuah kompilasi abstrak agroforestry di Indonesia, disini. Global Nature Fund, tahun 2007, juga mengeluarkan Mangrove Rehabilitation Guidebook, post Tsunami Restoration of Mangroves, Education & Reestablishment of Livelihoods in Sri Lanka, yang dapat anda unduh disini.


Dari website Mangrove Action Project, kita dapat mengunduh buku-buku mengenai penggunaan bahan baku untuk berbagai bangunan di kawasan mangrove yang relatf ramah lingkungan, berikut teknik mengawetkannya, sebagai sebuah hasil pengalaman project mereka di Sulawesi disini dan disini.

Bahan menarik buat kalangan akademik yang berminat terhadap mangrove, dapat diunduh disini, tentang Biodiversitas Genetik, Spesies dan Ekosistem Mangrove di Jawa, yang diterbitkan oleh Jurusan FMIPA, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 2002, sebagai peuntun praktikum analisis vegetasi di kawasan ekosistem mangrove.



Anda juga dapat menikmati dua karya mini biografi dari, Soni Mohson, salah satu pionir dalam konservasi mangrove di pantai timur Surabaya, dalam bentuk pdf, yang berjudul Tak Kenal menyerah disini atau atau Aku, anugerah dan Mangrove disini

Ada lagi satu buku yang cukup menarik, dari Six Senses Resorts & Spas, sebuah konsorsium resort dan spa management, yang memiliki jaringan cukup luas mulai dari Maldive, Thailand, Vietnam, Oman, Jordan, dan Spanyol. Tentang bagaimana bisnis ekoturisme yang berwawasan lingkungan disini. Mereka mengambil judul unik, The little green book.

Lebih menarik lagi, ada sebuah ilustrasi dalam bentuk animasi tentang proses kehidupan yang terjadi di ekosistem mangrove, yang sepertinya sangat berguna untuk penyuluhan kepada usia sekolah, disini. Bilamana untuk usia pra sekolah, bahan untuk kegiatan pengenalan mangrove, yakni dengan mewarnai berbagai species mangrove, disediakan oleh mangroveactionproject, dengan ijin dari JICA, disini. Delapan gambar hitam putih dari species Xilocarpus granatum, Sonneratia alba, Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata, Ceriops tagal, Brugueira gymnorrhiza, Avicennia marina, Aegiceras corniculatum, dapat menjadi bahan ampuh untuk penyuluhan mengenai mangrove sampai ke tingkat taman kanak-kanak.

Sumber Pustaka
Friendsofmangrove, Mangroveactionproject, Worldagroforestrycentre, FAO, Globalnature, Oneocean, Sixsenses

Check Page Rank of your Web site pages instantly:

This page rank checking tool is powered by Page Rank Checker service

Locations of visitors to this page